SETIAP kali kecelakaan kerja terjadi, ada satu kalimat yang selalu muncul paling cepat, kadang bahkan lebih sigap dari petugas P3K, human error. Pendek, praktis, dan entah kenapa terasa sangat melegakan bagi banyak pihak.
Begitu kalimat itu keluar, seolah -olah masalah langsung rapi, berkas bisa ditutup, dan sistem boleh lanjut kerja tanpa diajak ngobrol serius.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli ingin menampar pikiran kita pelan-pelan, kecelakaan kerja bukan sekadar kelalaian individu.
Selama ini, rangkaian kecelakaan kerja memang sering dikaitkan dengan human error, sekitar delapan dari sepuluh kasus. Sisanya baru dikaitkan dengan kegagalan alat atau kondisi lingkungan kerja.
Sekilas kelihatan jelas manusia ceroboh, alat mah baik-baik saja. Tapi kalau dibongkar sampai ke akar, dari porsi human error itu ternyata cuma sekitar sepertiganya yang benar-benar murni kesalahan individu.
Sisanya mayoritas lahir dari sistem yang bocor, organisasi longgar, prosedur hidup di map, pengamanan lebih sering dicek saat audit daripada saat kerja. Jadi kalau 70 persen kesalahan manusia dipicu oleh sistem, kenapa yang selalu disalahkan manusianya?
Kocaknya, istilah human error jadi kambing hitam paling rajin lembur. Semua kesalahan dititipkan ke situ, sementara sistem berdiri santai sambil cuci tangan, pakai sabun wangi, bilang, “Saya nggak tahu apa-apa.”
Di lapangan, pemandangan makin ironis. Spanduk K3 berdiri gagah, tulisannya besar, warnanya nyala-nyala, pesannya galak. Tapi spanduk tidak bisa menggantikan SOP yang cuma dihafal setengah hati.
Spanduk juga nggak bisa menghentikan target produksi yang datang sambil teriak, “Ayo cepat, waktu mepet!” Akhirnya, keselamatan kerja diposisikan sebagai niat baik, bukan kebutuhan mutlak.
Yassierli di laman resmi kemnaker baru-baru ini juga mengingatkan, penurunan angka kecelakaan tidak otomatis berarti tempat kerja aman.
Bisa jadi memang ada perbaikan, tapi bisa juga karena laporan yang tak pernah naik atau keberuntungan masih nongkrong. Risiko kecelakaan besar tetap mengintai kalau pengendalian bahaya tidak dibangun konsisten.
Ibarat motor tua, bodinya dicat baru, tapi remnya belum tentu pakem.
Pekerja pun sering jadi pihak yang paling serba salah. Mau patuh prosedur, target mendesak. Mau berhenti karena kondisi tidak aman, takut dicap menghambat kerja. Mau melapor, khawatir dianggap ribet.
Akhirnya, jalan tengah yang dipilih adalah berharap semuanya aman-aman saja. Padahal keselamatan tidak pernah bisa diserahkan pada doa semata.
Di sinilah pentingnya sistem. SOP yang jelas dan jalan, panitia K3 yang aktif, inspeksi rutin bukan formalitas, investigasi insiden yang ujungnya perbaikan nyata, bukan sekadar laporan cantik.
Sistem
Keselamatan tidak boleh bergantung pada keberanian individu. Sistem yang sehat justru membuat pekerja bisa bekerja dengan tenang tanpa harus merasa sedang main tebak-tebakan dengan risiko.
Pendekatan ini dikenal sebagai people-centric safety. Pekerja tidak lagi diposisikan sebagai sumber masalah, tapi bagian dari solusi. Mereka dilibatkan, didengar, dan dilindungi oleh sistem yang masuk akal. Bukan diminta patuh dalam kondisi yang sebenarnya tidak aman.
Oleh karena itu K3 itu bukan soal angka semata, karena dibalik setiap insiden, ada keluarga menunggu di rumah, ada anak yang menunggu ayahnya pulang, ada masa depan yang bisa berubah hanya karena satu sistem yang lalai.
Menaker menekankan keselamatan kerja menyangkut nyawa, kesehatan, dan masa depan pekerja serta keluarganya, kalimat serius, tapi dampaknya sangat nyata.
Menyalahkan pekerja memang mudah dan cepat. Tapi membenahi sistem adalah pekerjaan rumah yang sesungguhnya.
Selama kecelakaan kerja terus dipersempit menjadi urusan human error, cerita yang sama akan terus berulang. Lokasinya boleh beda, tanggalnya boleh ganti, tapi polanya tetap itu-itu saja.
Bekerja itu untuk hidup, bukan untuk mempertaruhkan hidup. Pulang selamat seharusnya menjadi hak, bukan bonus karena hari itu sedang mujur.
Mungkin, seperti yang diingatkan Menaker, sudah waktunya kita berhenti sibuk mencari siapa yang salah, lalu mulai jujur bertanya sistem apa yang selama ini kita biarkan gagal menjaga manusia di dalamnya?. (***)