DAVOS biasanya bukan tempat orang ngobrol santai, lantaran disana, orang-orang penting dunia berkumpul dengan wajah serius, menggunakan jas mahal, membahas masalah dunia.
Bahkan jika satu istilah saja terlewat, wah.. rasanya seperti tidak lulus ujian ekonomi global, dan salah dengar dikit, bisa-bisa mikir, “Ini lagi rapat atau sidang tesis?”
Tapi di Davos tahun ini, ada satu momen yang bikin suasana sedikit mencair karena Presiden RI Presiden Prabowo Subianto terlihat berbincang dengan Zinedine Zidane.
Bukan soal geopolitik, bukan juga soal investasi triliunan yang angkanya bikin kening berkerut. Malah dibahas itu soal sepak bola. Lebih spesifik lagi, ada satu kata yang paling bikin manusia terasa manusia yaitu soal anak…ya anak, kok bisa?
Sebelum terlalu jauh, kita luruskan dulu. Davos itu kota kecil di Swiss yang tiap tahun jadi tuan rumah World Economic Forum (WEF). Ini bukan arisan RT.
Isinya presiden, perdana menteri, konglomerat, ekonom, dan tokoh global orang-orang yang kalau rapat, keputusan mereka bisa bikin harga beras naik atau turun, singkatnya, Davos adalah ruang rapat dunia, dimana tempat isu berat dikunyah serius, tanpa mengigit cabe rawit.
Makanya wajar kalau obrolan Prabowo dan Zidane terasa kontras, di tengah forum yang biasanya membahas grafik naik-turun, mereka malah bicara tentang Theo Zidane, putra sang legenda.
Prabowo menanyakan kabar karier Theo. Zidane menjawab dengan santai, tanpa bumbu dramatis, Theo kini bermain untuk Córdoba di divisi dua Liga Spanyol.
Sebenarnya bukan klub elite, bukan juga panggung megah, dan tidak ada sorotan kamera tiap akhir pekan. Tapi justru di situlah letak ceritanya menarik.
Karena Theo Zidane adalah anak dari salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Nama ayahnya Zidane, di dunia bola sudah seperti password VIP tinggal sebut, pintu kebuka, dan anak TK aja banyak di Kampung-kampung dan pelosok Indonesia mengenal figur dari Francis itu, meski demikian realitasnya tidak seindah spanduk sponsor.
Pasalnya Theo tetap harus memulai dari bawah. Latihan pagi, pulang sore, kaki pegal, napas ngos-ngosan, kalah dimaki, menang belum tentu dipuji. Sepak bola, rupanya, punya prinsip hidup yang keras tapi jujur. Bahkan nama besar boleh terkenal, tapi tidak bisa dipakai buat mencetak gol.
Zinedine Zidane tampak nyaman dengan kenyataan itu, ia tidak menjual narasi pewaris takhta, tidak sibuk mengiklankan darah biru. Ia hadir sebagai ayah yang paham satu hal penting, proses tidak bisa diwariskan. Nama boleh turun, tapi mental baja harus ditempa sendiri.
Di sisi lain, Prabowo juga tampil dengan wajah berbeda, bukan presiden yang sedang berpidato dengan teks tebal, tapi seorang ayah yang bertanya dengan tulus.
Pertanyaannya cukup sederhana, mengingatkan kita bahwa dibalik jabatan dan protokol, pemimpin dunia juga manusia biasa yang tahu rasanya cemas dan berharap pada masa depan anak.
Bahasa universal
Sepak bola dalam pertemuan ini naik level, sepak bola bukan sekadar olahraga, tapi bahasa universal. Semua orang paham cerita tentang anak, perjuangan, dan masa depan. Tidak perlu penerjemah, tidak perlu dokumen resmi, cukup empati.
Lucunya, justru obrolan ringan ini terasa lebih berat daripada banyak diskusi formal, sebab dunia boleh sibuk membicarakan pertumbuhan ekonomi, namun obralan dua figur yang berbeda profesi itu malah hanya membicarakan pertumbuhan karakter sesuatu yang sering absen dari slide presentasi.
Oleh sebab itu, kita hidup di zaman serba cepat ini, dan anak- anak pada ikut -ikutan ingin cepat sukses juga. Orang tua ingin cepat bangga dan dunia ingin cepat viral, semua maunya instan, asal bukan mi instan.
Namun kisah Theo Zidane seperti mengingatkan pelan-pelan bahkan anak legenda pun harus sabar. Tidak ada jalan pintas yang benar-benar gratis. Kalau ada, biasanya beloknya ke jurang.
Pertemuan Prabowo dan Zidane pun menyadarkan kita bahwa kebesaran tidak selalu lahir dari pidato keras atau kebijakan besar. Kadang, kebesaran itu justru tampak dari hal sederhana, mau mendengarkan dan berani bertanya.
Davos hari itu seolah berbisik, masa depan dunia tidak hanya ditentukan di ruang sidang, tapi juga di rumah, dari cara orang tua mengajarkan anaknya jatuh dan bangkit, dari cara manusia menghargai proses, bukan sekadar hasil.
Karena itu, pertemuan Prabowo dan Zidane bukan sekadar momen viral atau foto diplomatik. Ia adalah cermin kehidupan dibalik panggung besar dunia, akan tetapi nilai paling penting tetap sederhana, yaitu kerja keras, kesabaran, dan kejujuran pada proses.
Dan mungkin, itulah pelajaran paling mahal dari Davos kali ini. Datang bukan dari pidato panjang, tapi dari obrolan singkat yang tulus.
Kata pepatah “Naiklah setinggi mungkin, tapi jangan lupa pijakan,” sebab tanpa pijakan yang kuat, ketinggian hanyalah soal waktu sebelum runtuh. (***)