ANTREAN panjang di Rumah Aspirasi Palembang biasanya bikin warga geleng-geleng kepala. Tapi Kamis lalu, suasana berubah drastis. Wali Kota Ratu Dewa turun langsung ke lokasi dan membuat pelayanan publik yang biasanya ribet, jadi kilat dan ramah.
Ada emak-emak dengan koper penuh dokumen, Pak Budi yang sibuk mengingat nomor antrean, dan terlihat anak muda yang kesal karena KTP-nya belum selesai.
Semua sedang berurusan dengan administrasi, tiba-tiba wali kota muncul, menyapa, dan mendengar keluhan satu per satu. Rasanya kayak ada konser kejutan, tapi versi birokrasi tinggal antre, ngomong, masalah selesai.
Rahasia sidak ini jelas bukan sekadar cek formalitas. Ratu Dewa langsung menelpon OPD dan camat dari lokasi untuk menindaklanjuti keluhan.
Masalah warga ditangani saat itu juga. Warga yang awalnya bete, akhirnya senyum-senyum, sambil bergumam, Cepat juga, ya!
Di balik tawa itu ada pesan serius, pelayanan publik itu soal hati dan niat, bukan cuma aturan.
Wali Kota menekankan, warga tidak boleh dipimpong antar instansi.
Frustasi kalau dilempar-lempar, kan? Sidak ini membuktikan, bukan sekadar cek-cek, tapi benar-benar menyelesaikan masalah di tempat.
Momen lucu pun muncul. Petugas grogi bilang, “Pak, dokumennya salah format,” sementara Ratu Dewa santai, “Tenang, kita carikan solusinya. Jangan biarkan ibu-ibu pulang nangis!” Kalau ini adegan sinetron, pasti slow motion sambil musik dramatis. Tapi kenyataannya, semuanya ditangani cepat, dan warga pun lega.
Pelajaran penting dari sidak ini kepemimpinan itu turun tangan. Pemimpin yang hadir langsung menunjukkan empati dan menyelesaikan masalah di lapangan. Surat edaran dari balik meja AC kadang nggak cukup.
Refleksi moral
Selain itu, pelayanan ramah dan cepat membangun kepercayaan. Satu senyum dan satu telepon bisa lebih berharga daripada ribuan rapat koordinasi.
Dan sistem tetap penting, humor dan keramahan boleh ada, tapi tanpa aturan jelas, sidak cuma solusi sementara.
Transformasi layanan digital dan tatap muka harus selaras agar pelayanan publik benar-benar efektif.
Kalau ditarik ke analogi sehari-hari, cerita sidak ini seperti kopi Palembang pahit karena birokrasi berliku, manis karena solusi cepat, dan nagih karena meningkatkan kepercayaan warga.
Refleksi moralnya? pelayanan itu soal niat, empati, dan keberanian bertindak.
Warga datang bawa masalah, petugas terbatas aturan, tapi pemimpin hadir dengan tangan besi dan hati terbuka, semua terselesaikan warga puas, birokrasi berjalan, dan kepercayaan publik meningkat.
Tidak semua warga akan senyum terus, tapi sidak ini menjadi simbol pemerintah kota sadar, melayani itu tugas utama, bukan slogan di baliho.
Warga yang sempat mengantre panjang? Pulang dengan senyum, lega, dan cerita lucu untuk dibagi ke tetangga.
Kita semua belajar, jangan cuma ngomong turun tangan dan hadapi masalah langsung.
Rahasia pelayanan publik kilat ala sidak Ratu Dewa? Turun langsung, dengar keluhan, beri solusi cepat, tapi tetap ramah. Simple, tapi berdampak besar. Aturan jelas, hati terbuka, aksi nyata itulah kunci membangun kepercayaan warga.
Siapa bilang birokrasi kaku dan membosankan? Kalau dipimpin dengan cara tepat, antrean panjang bisa jadi panggung komedi sekaligus kelas moral bagi semua pihak.
Semoga turun langsung ke lokasi itu bukan untuk cari perhatian masyarakat, tapi memang benar-benar dengan hati yang tulus.(***)