ADA satu suara yang ditunggu-tunggu warga Musi Banyuasin tiap akhir bulan, bukan pengumuman resmi, bukan pula suara ramai pasar. Bunyi itu singkat tapi sakti “ting!” Nah itu, suara notifikasi gaji yang akhirnya cair.
Bahkan begitu bunyi itu terdengar, ekspresi langsung berubah. Yang tadinya irit senyum, mendadak ramah. Yang kemarin bilang “lihat-lihat dulu” hari ini sudah berani tanya harga. Dunia memang belum tentu adil, tapi saldo yang bertambah sering kali bikin hidup terasa lebih masuk akal.
Tentu dampaknya positif sebab ekonomi Muba mulai bekerja lebih aktif lagi.. bukan dari ruang rapat ber-AC, bukan juga dari pidato panjang penuh istilah, tapi dari uang yang akhirnya keluar dari rekening.
Gaji cair jarang berhenti lama, biasanya ia langsung berubah bentuk, dari angka digital menjadi beras, sayur, telur, minyak, bensin, pulsa, dan kopi. Uang berpindah tangan. Pedagang tersenyum. Senyum pedagang itu penting karena ia sering kali lebih jujur daripada grafik pertumbuhan ekonomi.
Dari pasar, uang bergerak lagi, pedagang belanja ke agen. Agen setor ke distributor, distributor membayar sopir, sopir singgah ke warung, warung belanja gas. Gas dibeli dari agen lokal, agen setor pajak bahkan pajak masuk kas daerah, coba pikirkanlah…?
Satu gaji.
Banyak roda berputar, banyak pula perut jadinya kenyang.
Inilah yang oleh para ekonom disebut multiplier effect, sebab di Musi Banyuasin, istilahnya itu lebih sederhana dan tidak ribet, uang muter, hidup rame.
Tahun 2026, cerita ini bukan sekadar perasaan, tetapi Upah Minimum Kabupaten (UMK) Musi Banyuasin resmi tembus Rp4.039.054. Angka ini bukan hanya memberi napas lebih panjang bagi pekerja, tapi juga memberi harapan pada pasar, warung, dan UMKM. Karena UMK yang naik artinya potensi belanja ikut naik, asalkan uangnya tidak salah arah.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muba, Herryandi Sinulingga, melihat UMK bukan sebagai angka adu gengsi, tapi sebagai alur perputaran ekonomi. Gaji, menurutnya, bukan untuk dipamerkan di slip, melainkan untuk digerakkan.
Gaji itu ibarat air, sebab kalau cuma disimpan, lama-lama ya begitu saja, namun begitu dialirkan ke pasar, ke warung, ke UMKM, efeknya terasa ke mana-mana. Pedagang hidup, distributor bergerak, pajak daerah berjalan. Ekonomi lokal pun bernapas.
Menariknya, roda ekonomi Muba tidak digerakkan satu kelompok saja. Buruh dan ASN sama-sama punya peran. Buruh unggul di nominal UMK, bahkan sektor tertentu diperkuat UMSK hingga Rp4,17 juta. ASN, meski gaji pokoknya terlihat lebih rendah secara angka dasar, ditopang TPP dan tunjangan.
Kalau buruh belanja, pasar hidup, benarkan?
Kalau ASN belanja, warung hidup, betulkan?
Kalau dua-duanya belanja di Muba, ekonomi daerah jalan tanpa perlu disuruh….pedagang akhirnya sujud syukur, ini juga benarkan..?
Namun masalah klasiknya cuma satu kok harga sering latah, apalagi begitu UMK naik, ada saja yang berpikir semua barang wajib ikut naik kelas. Padahal UMK bukan dibuat untuk bikin hidup makin mahal, tapi bikin hidup makin layak.
Oleh sebab itu, seharusnya kenaikan upah harus diiringi kesadaran bersama, pedagang jangan oportunis. Distributor jangan ngebut sendiri. Pemerintah wajib hadir mengawasi, terlebih kalau harga itu naik liar, artinya wah… gaji cuma mampir sebentar di dompet, akhirnya datang dengan harapan, pulang dengan kecewa.
Bupati HM Toha Tohet dan Wakil Bupati Kiai Abdur Rohman Husen, memberi arah kebijakan sejatinya sudah jelas, kesejahteraan buruh, ASN, dan ekonomi lokal harus jalan beriringan, bukan saling sindir di kolom komentar medsos.
Apalagi, UMK naik bukan untuk menciptakan jarak sosial baru. Tapi untuk memperluas lingkar kesejahteraan agara pasar tetap ramai, UMKM tetap hidup, dan ekonomi Muba tidak ngos-ngosan mengejar kebutuhan.
Maka dari itu sebenarnya, ekonomi daerah tidak dibangun oleh jargon panjang atau baliho besar. Ekonomi dibangun oleh uang yang berpindah tangan dengan niat baik, misalnya dari gaji ke pasar terus dari pasar ke warung selanjutnya dari warung ke daerah hingga akhirnya finis dari daerah kembali ke masyarakat.
Jadi ketika notifikasi gaji kembali berbunyi di akhir bulan, ingat satu hal sederhana
jangan biarkan uang berhenti terlalu lama.
Belanjakan dengan bijak.
Belanjakan di Muba.
Karena gaji yang diam cuma bikin rekening terlihat sehat.
Tapi gaji yang muter itulah yang bikin Musi Banyuasin tetap hidup, hangat, dan bergerak, itu yang bikin semua jadi ceria. (***)