Minggu, 18 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » EKONOMI HIJAU : Kopi, Bambu & Cuan, Hutan Juga Bisa Bikin Startup!

EKONOMI HIJAU : Kopi, Bambu & Cuan, Hutan Juga Bisa Bikin Startup!

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
  • visibility 3.105
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI tengah hawa Majalengka, Jawa Barat yang masih ngantuk, sekelompok petani hutan mendadak tampil kayak peserta MasterChef bukan karena mereka masak, tapi karena sama-sama gugup di depan juri.

Bedanya, jurinya di sini memang bukan chef Gordon Ramsay, tapi para offtaker yang dompetnya bisa menentukan masa depan madu, kopi, dan bambu hasil pelukan hutan.

Nama acaranya kerennya Foresta Showbiz, tapi jangan salah kira dulu, ini bukan konser pohon bernyanyi atau fashion show ranting berdaun. Ini ajang temu usaha  alias tempat petani dan pembeli ketemu tanpa drama sinetron. Kalau mau disederhanakan yaitu  kayak Tinder, cuma yang di-swipe bukan wajah, tapi produk hasil hutan.

Bahkan, biasanya tangan mereka cuma akrab sama cangkul dan parang, eh… sekarang mulai belajar pegang mikrofon. Biasanya ngomongnya “Panen e kapan, Mang?”, sekarang jadi, “Produk kami memiliki nilai tambah berbasis HHBK yang berorientasi ekspor”
Wah…., bisa-bisa besok mereka minta dibuatkan LinkedIn profile.

Tapi ya….. begitulah kalau hutan mulai bicara dengan bahasa pasar. Aneh bukan?!. sebab petani hutan belajar tampil, bukan sekadar menjual.

Mereka belajar branding, bukan brenang (berenang), belajar marketing, bukan markiran (markir mobil). Dan lucunya, meski mereka kadang salah ucap istilah, semangatnya nggak pernah salah arah.

“Dulu saya jual madu ke tetangga,” kata salah satu peserta, “sekarang mau coba jual ke luar negeri. Tapi masih bingung cara ngirimnya, soalnya lebahnya belum punya paspor”. Nah, itu baru mindset growth yang sesungguhnya ngakak tapi visioner.

Hajatan akbar

Acara ini nyatu sama Pasar Pasisian Leuweung, semacam hajatan akbar di pinggir hutan yang suasananya campur antara seminar bisnis, piknik keluarga, dan reunian alumni SD. Yang satu bawa proposal, yang lain bawa termos kopi, namun ajaibnya, di antara asap tungku dan aroma daun, kesepakatan bisnis justru lahir.

Kalau di kota, orang bangun networking lewat webinar, kalau di hutan, cukup lewat wedangan bahkan satu cangkir kopi bisa lebih efektif dari seribu kata motivato, wow sangat mantappp!!.

Ada pepatah baru di sana mau tahu? “Siapa cepat menanam, dia yang duluan panen. Siapa cepat nyeduh kopi, dia yang duluan dapat kontrak”.

Oleh karena itu, hutan itu bukan sekadar tempat pepohonan numpang hidup, tapi sekolah paling tua di dunia. Dia mengajarkan sabar lewat pertumbuhan pohon yang pelan tapi pasti. Dia mengajarkan berbagi lewat akar yang saling kirim nutrisi. Dia bahkan mengajarkan etika: siapa menebang berlebihan, siap-siap diterjang banjir.

Petani hutan itu muridnya…..
Dan kini mereka naik kelas karena bukan cuma menjaga hutan, tapi juga menafsirkan ulang artinya berdaya, nah, keren juga kreatif
Karena itu, bagi mereka ini, bisnis bukan saja soal laba semata, namun bagaimana bisa membuat hutan tetap bernyawa sambil dapur tetap ngebul, istri bisa lega dan tersenyum simpul, anak tetap bersekolah dengan perut kenyang.

Nah, intinya, jika pingin belajar bisnis sehat, lihat aja misalnya lebah, karena lebah nggak pernah rakus, tapi hasilnya manis, lebah bisa kerja bareng tanpa rebutan kursi direktur. Dan kalau diganggu, baru deh dia menyengat, itu pun demi melindungi koloninya.

Petani hutan di Majalengka juga bisa begitu, mereka nggak pamer, nggak ngaku-ngaku pengusaha hijau berkelanjutan, tapi kerja nyata.
Yang di kota sibuk posting #SustainabilityGoals, mereka sibuk nyemprot hama dan menanam bibit.

Kadang  dunia memang terbalik, yang banyak bicara justru jarang menanam, yang banyak menanam malah jarang didengar.

Heri Suheri dari Kementerian Kehutanan ngomong bijak banget waktu itu “Kami ingin kemitraan yang adil dan berkelanjutan”.

Kalimatnya ini formal banget, tapi kalau diterjemahkan ke logat warung kopi, artinya “Kalau bisa kerja bareng, ya jangan saling jegal, apalagi saling ngibul”.

Dan ini penting banget.
Soalnya banyak yang ngaku cinta lingkungan, tapi kalau dapat tender, pohon pun ikut stres.
Sementara petani hutan justru ngerti keseimbangan itu bukan sekadar jargon itu cara hidup.

Jad, duit itu memang penting, tapi kalau semua daun dijual, nanti siapa yang kasih oksigen?. Kata orang tua, “Makan boleh kenyang, tapi jangan sampe kekenyangan sampe lupa napas”.

Foresta Showbiz ini mungkin cuma dua hari, tapi bekasnya bisa panjang.
Ia kayak cermin kecil yang memantulkan wajah masa depan Indonesia, yaitu masa depan yang seimbang antara ekonomi dan ekologi.

Dan pada akhirnya Majalengka mengajarkan bahwa bisnis tak harus di gedung tinggi, tapi bisa di bawah pohon rindang.
Bahwa petani bisa bicara tentang value chain tanpa harus pindah ke kota, apalagi masa depan hijau itu nggak dimulai dari pidato pejabat, tapi dari cangkul dan niat tulus di tangan petani.

Jadi, kalau nanti kamu stres kerja di kantor dan pengen healing, jangan buru-buru ke Bali. Coba datang ke Pasar Pasisian Leuweung.
Di sana, kopi diseduh pakai ketulusan, dan bisnis disepakati pakai jabat tangan yang masih bergetar oleh lumpur.

Karena dari leuweung, kita belajar satu hal tentang hidup yang  kayak hutan, makin dalam kamu masuk, makin banyak pelajaran yang nggak kamu sangka. Janganlah remehkan orang yang tangannya penuh tanah, karena seringkali, dari tangan itulah masa depan yang bersih tumbuh.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konsisten Terapkan Pengelolaan Keuangan yang Baik, Pemprov Sumsel Raih WTP  Delapan  Kali  Berturut-turut

    Konsisten Terapkan Pengelolaan Keuangan yang Baik, Pemprov Sumsel Raih WTP  Delapan  Kali  Berturut-turut

    • calendar_month Senin, 25 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 715
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI atas laporan keuangan tahun anggaran 2021. Opini WTP kepada Pemprov Sumsel tersebut diberikan dalam rapat paripurna istimewa DPRD Provinsi Sumsel dengan agenda penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI atas laporan keuangan Pemprov Sumsel Tahun Anggaran  2021, Senin (25/4). […]

  • calon-secaba

    Orang Tua Sambut Kelulusan Secaba dengan Rasa Haru

    • calendar_month Sabtu, 5 Agt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.946
    • 0Komentar

    Tangis harus dan sedih mewarnai sidang penetapan kelulusan penerimaan Secaba Polri tahun anggaran 2017 di Gedung Warsito Pakri, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/8/2017).

  • penghafal al-quran

    Yuk, Rame-rame Jadi Bapak Asuh Santri Penghafal Al Qur’an, Pasti Mulia Kok

    • calendar_month Minggu, 10 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.657
    • 0Komentar

    Yayasan Dhuafa Mulia bersama Pesantren Tahfiz An-Nur Sukomoro dan Pesantren Tahfidz Assalam sejak tiga bulan terakhir mengasuh, merawat, mendidik dan membina Ratusan anak yatim, dhuafa serta mengajarkan membaca, menulis hingga menghafal Al-Qur’an mencoba mengetuk hati para donatur untuk menyisihkan sepersekian hartanya ke jalan Allah SWT.

  • ISEF ke-9, Catat Transaksi Rp27,6 Triliun, Ini Paparannya

    ISEF ke-9, Catat Transaksi Rp27,6 Triliun, Ini Paparannya

    • calendar_month Senin, 10 Okt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 589
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,  Jakarta – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-9 tahun 2022 mencatat transaksi senilai Rp27,6 triliun yang mencakup pembiayaan lembaga keuangan syariah, transaksi antar pelaku usaha (business to business), transaksi antara pelaku usaha dengan konsumen (business to customer), dan transaksi pameran ISEF 2022, termasuk seluruh transaksi dalam rangkaian kegiatan FESyar (Festival Ekonomi Syariah) 2022. Kegiatan […]

  • Musyawarah Mufakat Ala Notaris,”Bukan Cuma Sahkan Warisan, Notaris Kini Juga Sahkan Keharmonisan”

    Musyawarah Mufakat Ala Notaris,”Bukan Cuma Sahkan Warisan, Notaris Kini Juga Sahkan Keharmonisan”

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 806
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Kalau orang mendengar kata “notaris”, yang terbayang biasanya adalah orang berkacamata tebal, duduk di balik meja besar, dengan pena mewah dan wajah seperti habis baca undang-undang sambil disetrika. Tapi hari Rabu, 28 Mei 2025, suasana jadi beda. Di sebuah ruangan ber-AC di Palembang, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru naik panggung dan melempar bola […]

  • Ada Apa di Stadion Golo Dukal? Lokasi Ini Disiapkan Jadi RS Usai Gempa M7,7

    Ada Apa di Stadion Golo Dukal? Lokasi Ini Disiapkan Jadi RS Usai Gempa M7,7

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 36
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Stadion Golo Dukal di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, saat ini disiapkan untuk menjadi rumah sakit lapangan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026). Pilihan lokasi tersebut muncul setelah RSUD Manggarai mengalami kerusakan, akibat guncangan gempa. Sejumlah bagian dan fasilitas rumah sakit terdampak sehingga pelayanan pasien dan kegiatan administrasi untuk […]

expand_less
WordPress Archive Nifty - Business Consulting WordPress Theme Nightshade – Photography Portfolio WordPress Theme Nigiri – Restaurant WordPress Theme Nikado – Responsive Theme for WooCommerce WordPress NikanTicket – WordPress & WooCommerce Support Tickets Nikicivi – Elegant CV-Resume & Portfolio Elementor Template Kit Nillé – Elegant eCommerce WordPress Theme Nilo Slider | Creative Slider for Elementor Nimbo – Personal WordPress Blog Theme Ninedok - Laboratory & Research WordPress Theme