Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » “AI vs Kreativitas Manusia di Pasar Ekraf”

“AI vs Kreativitas Manusia di Pasar Ekraf”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
  • visibility 1.459
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ROBOT bisa bikin logo, bikin musik, bahkan bisa gambar manusia lebih cepat seperti bikin mie instan, di titik inilah keresahan muncul. Founder BeRest, Edbert Adinata Zulkarnain, menegaskan pasar kreatif Indonesia jangan sampai dikuasai mesin. Kreativitas, katanya, bukan sekadar hitung-hitungan algoritma, tapi lahir dari rasa dan pengalaman hidup manusia.

Nah, persoalan ini bukan sekadar dagelan, di satu sisi, AI memang pintar, bisa bikin desain logo dalam 10 detik, bikin musik latar lebih cepat dari bikin mie instan, bahkan bisa bikin foto mirip manusia. Tapi di sisi lain, apa iya semua bisa diganti?, kalau pepatah Jawa bilang, “wong urip kudu ninggal jejak, ojo ninggal tapak sepele” – manusia hidup harus meninggalkan karya, bukan cuma jejak digital yang serba instan.

Sekarang kita lihat faktanya, AI sudah merambah ke berbagai subsektor kreatif, misalnya desain grafis, dulu bikin logo butuh 3 hari dan kopi segentong, sekarang tinggal klik di Canva atau MidJourney, keluar ribuan opsi, murah meriah, tapi kadang klien bingung sendiri mau pilih yang mana.

Selanjutnya di musik,  platform seperti Suno AI dan AIVA sudah bisa bikin musik orkestra lengkap, band indie sampai tukang karaoke bisa kalah saing kalau nggak punya ciri khas.

Penulisan, dari artikel, puisi, sampai skrip iklan sudah banyak ditulis AI. Bedanya? kalau manusia salah ketik bisa dimaafkan, kalau AI salah ketik biasanya malah dianggap keren, “wah artsy nih!”.

Fotografi, dengan AI image generator, orang bisa bikin “foto liburan ke Bali” tanpa keluar rumah. Tukang foto paspor di pojokan bisa was-was, jangan-jangan klien lebih suka wajah AI daripada wajah aslinya.

Lalu di mana ruang manusia?, inilah yang jadi panggung debat antara efisiensi vs orisinalitas.

Masuklah BeRest, aplikasi lokal yang mencoba jadi jembatan, konsepnya sederhana, marketplace untuk 17 subsektor ekonomi kreatif, dari tukang AC sampai pengajar musik. Tapi dalam konteks AI, BeRest bisa jadi arena pembuktian, bahwa jasa manusia masih punya nilai unik yang tak tergantikan.

Kalau AI bisa bikin logo instan, manusia bisa bikin logo plus curhat filosofinya, kalau AI bikin musik, manusia bisa bawain lagu sambil nyanyi fals penuh perasaan. Dan kalau AI bikin artikel, manusia bisa nulis sambil bercanda kayak tulisan ini. Singkatnya, AI bisa cepat, tapi manusia bisa dekat.

Biar lebih serius, mari kita intip contoh dari beberapa negara, antara lain, Korea Selatan, Negeri K-Pop ini justru memanfaatkan AI untuk industri hiburan. Ada idol virtual seperti “Eternity” yang punya jutaan fans. Tapi, di sisi lain, idol manusia tetap laris. Artinya, AI jadi booster, bukan pengganti total.

Jepang sudah lama akrab dengan karakter virtual seperti Hatsune Miku, tapi, festival musik tetap diramaikan musisi asli. Fans mencari emosi real yang tidak bisa diberikan hologram.

Amerika Serikat, di Hollywood, ada protes besar penulis naskah (WGA Strike 2023) gara-gara AI dianggap ancaman. Hasilnya? industri menetapkan batas, AI boleh dipakai sebagai alat bantu, tapi hak cipta tetap milik manusia.

Jerman, negeri ini mengatur penggunaan AI di seni dengan pendekatan etis. Ada diskusi panjang soal authenticity, karya yang sepenuhnya dibuat AI harus jelas dilabeli, agar pasar tidak tertipu.

Empat contoh ini menunjukkan pola yang sama, AI bukan musuh, tapi kalau dibiarkan liar, bisa makan tuan.

Kalau pakai kacamata bisnis, AI memang efisien, biaya murah, hasil cepat, klien senang, tapi dari sisi pasar kreatif, ada satu hal yang tak tergantikan human touch.

Contohnya, wedding photographer, AI bisa bikin foto resepsi ala-ala royal wedding. Tapi momen ibu menangis saat melepas anaknya menikah, itu butuh rasa, timing, dan insting fotografer, itu yang bikin jasa manusia tetap relevan.

BeRest bisa memainkan peran sebagai kurator pasar kreatif ini, dengan sistem verifikasi, rating, dan showcase portofolio, aplikasi ini memberi ruang bagi penyedia jasa manusia untuk tetap bersaing sehat.

Ada pepatah Minang “alam takambang jadi guru”, dari alam kita belajar, pisau bisa dipakai masak, bisa juga dipakai berantem. Sama halnya dengan AI, tergantung siapa yang memegangnya.

Kalau pegiat ekraf Indonesia bisa memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pesaing, pasar ini bisa makin besar. Tapi kalau kita menyerah total, bisa jadi justru kehilangan identitas kreatif.

Pertanyaan “AI vs manusia, siapa yang menang?, sebenarnya salah kaprah, yang benar siapa yang bisa berkolaborasi. AI memang cerdas, tapi masih butuh jiwa manusia, karena kreativitas sejati lahir dari rasa, bukan sekadar algoritma.

BeRest dan aplikasi sejenis bisa jadi benteng terakhir, atau malah jadi panggung baru, untuk membuktikan  manusia masih punya tempat di tengah badai digital.

Jadi, daripada takut, mungkin lebih baik kita ingat pepatah Sunda “Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”. AI boleh berisik, tapi manusia tetap jalan dengan caranya. AI bisa menulis puisi, tapi hanya manusia yang bisa jatuh cinta, dan selama cinta masih ada, kreativitas manusia tidak akan pernah punah.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PWI Peduli bersama IKWI Sumsel Gelar Isra Mi’raj

    PWI Peduli bersama IKWI Sumsel Gelar Isra Mi’raj

    • calendar_month Sabtu, 10 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 810
    • 0Komentar

    PERSATUAN Wartawan Indonesia (PWI) Peduli bersama Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan itu dipusatkan di depan Kantor PWI Sumsel Jalan Supeno 11, Palembang, Sabtu (10/4/2021). Hadir pada kesempatan itu Ketua PWI Sumsel H Firdaus Komar, Ketua IKWI Sumsel Anisatul Mardiah, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI […]

  • “Menteri Budi Arie Ngelawak Serius, Bikin Taipan Dunia Mau Jadi Anggota Koperasi”

    “Menteri Budi Arie Ngelawak Serius, Bikin Taipan Dunia Mau Jadi Anggota Koperasi”

    • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 702
    • 0Komentar

    KALAU kamu kira kerjaan Menteri Koperasi itu cuma ngurus simpan-pinjam, nerima laporan kas, atau kadang bantu ibu-ibu beli Tupperware koperasi, kamu salah besar, bro. Menteri Budi Arie Setiadi ini kayaknya punya misi rahasia bikin koperasi Indonesia jadi incaran orang luar negeri. Gak tanggung-tanggung, yang kepincut ini bukan investor ecek-ecek, tapi taipan peternakan dari Brasil. Namanya […]

  • Songsong Rebond Ekonomi Desa di Pasca Covid-19, OKI Siapkan Formula

    Songsong Rebond Ekonomi Desa di Pasca Covid-19, OKI Siapkan Formula

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.158
    • 0Komentar

    PEMKAB Ogan Komering Ilir [OKI] mengoptimalkan peran BUMDes dalam menjaga ketahanan ekonomi desa pasca pandemi Covid-19. Bupati Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE mengatakan  menyiapkan sejumlah formula menyongsong reborn (melambung) ekonomi desa pasca COVID-19. “Agar dana desa mampu menguatkan sendi-sendi ekonomi di desa dengan mengoptimalkan Bumdes,” ungkap Iskandar usai kegiatan optimalisasi Bumdes yang diselenggarakan Kejaksaan […]

  • Sarimuda: Selamat Atas Pengukuhan TLCI Chapter Palembang

    Sarimuda: Selamat Atas Pengukuhan TLCI Chapter Palembang

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.475
    • 0Komentar

    Ir. H. Sarimuda, MT menghadiri pengukuhan dan pelantilan pengurus Toyota Land Cruiser Indonesia (TLCI) Chapter Palembang, Sabtu (9/9) malam di Bukit Golf Palembang.

  • Banyuasin Raih Predikat B SAKIP Word 2019

    Banyuasin Raih Predikat B SAKIP Word 2019

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 863
    • 0Komentar

    MENTERI Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Banyuasin atas Akuntabilitas Kinerja tahun 2019 dengan predikat kerja B. Penghargaan ini diserahkan Menpan RB Tjahjo Kumolo dan diterima Wabup H Slamet Pada acara Auntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) 2019 di  Hotel Radisson Bukit Indah Sukajadi Residential Area, Kota Batam, Kepulauan Riau […]

  • Hari Pertama Kerja, Kebut Akselerasi Roda Pemerintahan di Muba 

    Hari Pertama Kerja, Kebut Akselerasi Roda Pemerintahan di Muba 

    • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 732
    • 0Komentar

    MENGAWALI Hari Pertama Kerjanya, pasca dimandatkan menjadi Pelaksana Harian (Plh) Bupati Muba, Drs H Apriyadi MSi langsung tancap gas jalannya akselerasi roda Pemerintahan di Bumi Serasan Sekate, Senin (23/5/2022). Dalam kaitan tersebut, Apriyadi mengadakan Rapat Perdananya bersama para Pejabat Eselon II Pemkab Muba, bertempat di Ruang Rapat Serasan Sekate Plh Bupati Muba Apriyadi mengajak semua […]

expand_less
WordPress Archive Artech – Digital Agency & Creative Portfolio WordPress Elementor Theme Artefact – Elementor Tattoo Piercing Studio WordPress Theme Artelligence | AI & Robotics WordPress Theme ARTEM – Digital Agency WordPress Theme Artemiz | Blog & Podcast WordPress Theme Artex – Architecture & Interior WordPress Theme ArtFlow – Artist, Painter Portfolio WordPress Theme Artfurniture – Furniture Theme for WooCommerce Arthoz – Art Exhibition Elementor Template kit Artica : Restaurant WordPress theme