Tekno

Apakah Indonesia Bisa Cetak 10 Juta Coder dalam 3 Tahun?

foto : komdigi

APAKAH Indonesia bisa cetak 10 juta coder dalam 3 tahun?, pertanyaan ini mirip seperti orang nanya “Bisa nggak bikin mie instan untuk satu kampung cuma pakai satu panci?”. Jawabannya bisa saja, asal pancinya besar, apinya nyala terus, dan tukang masaknya nggak kabur duluan. Nah, begitulah kira-kira ambisi pemerintah RI bareng Uni Emirat Arab (UEA) yang meluncurkan program 10 Million Coders buat generasi muda kita.

Buat yang belum paham, coder itu bukan makhluk asing yang hidup di ruang server dingin sambil ditemani kopi sachet. Coder ya manusia biasa yang pekerjaannya bikin perintah supaya komputer nurut. Jadi, kalau ada yang bilang “ngoding itu susah”, sebenarnya sama saja kayak belajar bahasa baru. Bedanya, kalau bahasa cinta kadang bikin baper, bahasa coding bikin error merah di layar.

Nah, target 10 juta coder ini maksudnya Indonesia pengin anak mudanya bukan cuma jago main TikTok atau nge-stalking mantan di Instagram, tapi juga bisa bikin aplikasinya sendiri, dari sekadar pengguna jadi pencipta, dari konsumen jadi produsen teknologi.

Tiga tahun, sepuluh juta orang, kalau dibagi rata, itu sekitar 9 ribu lebih coder baru per hari, wuih, kayak jualan gorengan di depan kampus. Pertanyaannya, apakah realistis?.

Setelah saya bahas soal tantangan ngoding kayak jualan gorengan, mari kita dengerin dulu suara pejabat, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, dengan gaya serius nan berapi-api, bilang begini “Hari ini kita launching kerja sama untuk memperkuat kapasitas digital talent, terutama program literasi digital dengan mendidik 10 juta coders untuk generasi muda Indonesia. Ini akan dilakukan selama tiga tahun ke depan,” jelasnya dalam rilisnya di laman resmi komdigi kemarin.

Kalau diterjemahin ke bahasa warung kopi, maksudnya kira-kira “Bro, kita udah komit bareng UEA, anak-anak muda jangan cuma jago main Mobile Legends, tapi juga harus bisa bikin gamenya sekalian”

Nezar juga ngasih penekanan kalau program ini bukan cuma angka-angka buat bahan pidato, katanya, talenta digital kita harus naik kelas, dari sekadar pengguna jadi pengembang teknologi. Alias jangan puas jadi penumpang ojek online, tapi mulai mikir gimana cara bikin aplikasinya.

Nah, di titik ini saya jadi keinget pepatah Sunda “Mun teu nyaho kudu diajar, mun geus nyaho kudu ngajar” (Kalau belum tahu ya belajar, kalau sudah tahu ya ngajari). Itu pas banget sama visi Nezar, generasi muda yang sekarang masih belajar coding, nanti bisa jadi mentor buat adik-adiknya.

Di satu sisi, Indonesia punya bonus demografi, anak muda kita jumlahnya bejibun, semangatnya membara, dan kuotanya kadang tipis. Tapi di sisi lain, tantangan nggak kalah besar. Internet masih belum merata, di kota besar belajar coding bisa pakai laptop dan WiFi. Di pelosok, kadang sinyal 3G pun masih suka hilang-timbul kayak mantan.

Selain itu, kualitas pengajar, bikin 10 juta coder itu bukan sekadar kasih modul online, harus ada mentor yang ngerti dunia nyata, bukan cuma hafal syntax dan industri siap apa belum?, jangan sampai coder sudah banyak, tapi yang nyerap sedikit. Ibarat panen padi, tapi lumbungnya kosong.

Bayangkan sebuah warung kopi, kalau pengunjung cuma bisa pesan, ya warungnya stagnan. Tapi kalau pengunjung bisa belajar bikin kopi sendiri, bisa buka cabang baru. Nah, Indonesia sekarang sedang ngajari “pengunjung” (generasi muda) untuk jadi barista digital. Pertanyaannya apakah ada cukup mesin kopi (infrastruktur), cukup biji kopi (kurikulum), dan cukup barista senior (mentor) untuk ngajarin?.

Kalau iya, bukan mustahil kita jadi eksportir talenta digital. Tapi kalau setengah hati, jangan-jangan malah jadi “kopi pahit” yang bikin mules.

Pusat talenta

Uni Emirat Arab sukses transformasi digital cuma dalam satu dekade, dari padang pasir ke smart government, dari minyak ke data. Mereka membuktikan pepatah Arab “Man jadda wajada” – siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Nah, Indonesia bisa belajar kalau mau sprint digital, jangan lari sambil pakai sandal jepit. Perlu sepatu lari yang proper, alias infrastruktur, kebijakan, dan SDM yang bener-bener dipersiapkan.

Ada pepatah Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea” – semua keberhasilan butuh biaya, begitu pula melahirkan 10 juta coder. Biayanya bukan cuma duit, tapi juga komitmen, kesabaran, dan budaya belajar, kalau tidak, kita hanya jadi penonton, negara lain bikin aplikasi canggih, kita cuma jadi user yang bayar paket data.

Makanya, program ini sebenarnya bukan soal angka 10 juta semata, lebih penting adalah bagaimana anak muda Indonesia dapat mental baru berani gagal, berani coba, dan berani mencipta.

Oleh sebab itu positifnya, program ini bisa jadi game changer kalau benar-benar dieksekusi serius. Indonesia bisa jadi pusat talenta digital Asia Tenggara dan negatifnya, kalau cuma jadi proyek seremonial, angka 10 juta coder hanyalah slogan manis di baliho, solusinya, perlu sinergi pemerintah bikin regulasi dan platform, industri siap menampung, kampus dan komunitas bantu edukasi. Jadi bukan kerja satu pihak, tapi gotong royong digital.

Apakah Indonesia bisa cetak 10 juta coder dalam 3 tahun?, jawabannya bisa, asal tidak dianggap sebagai target sulap digital, tantangan memang besar, tapi bukan berarti mustahil. Dengan strategi jelas, infrastruktur kuat, dan dukungan semua pihak, program ini bisa jadi warisan emas untuk bonus demografi kita.

Kalau gagal? Ya jangan keburu nyinyir, ingat pepatah “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”, mungkin bukan 10 juta, tapi kalau jutaan anak muda Indonesia berhasil jadi pencipta teknologi, itu sudah kemenangan besar.

Jadi, ayo kita jangan cuma jadi penonton, daripada sibuk debat di kolom komentar, mending buka laptop, belajar coding, dan siapa tahu aplikasi bikinan kita yang nanti dipakai dunia, minimal, bisa bikin aplikasi yang kasih tahu “Mantan sudah bahagia, berhenti stalking”.[***]

Terpopuler

To Top