Selasa, 29 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » “Duel Budaya di Layar Digital, Antara Pocong, Currywurst & Pepatah Lama di Gamescom”

“Duel Budaya di Layar Digital, Antara Pocong, Currywurst & Pepatah Lama di Gamescom”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 22 Agt 2025
  • visibility 840
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SEANDAINYA ini sekelompok developer game asal Bandung, dengan hoodie lusuh bertuliskan “Beta Version Forever,” mendarat di Jerman untuk ikut Gamescom. Di sana, mereka bukan hanya harus presentasiin game berisi pocong lari-lari di pematang sawah, tapi juga berhadapan dengan budaya baru mulai dari audiens bule yang bingung kenapa pocong harus loncat-loncat, sampai dompet tipis gara-gara harga currywurst seporsi €10.

Inilah yang saya sebut duel budaya di layar digital, bukan duel pedang ala film silat, tapi duel identitas bagaimana game Indonesia bisa tetep kental lokalitasnya, sambil tetap ramah di lidah global?

Di satu booth kecil, tampillah game horor buatan anak negeri, judulnya “Malam Jumat Kliwon The Revenge”. Isinya? Ya jelas kuntilanak nyanyi-nyanyi, pocong melompat, ditambah ritual desa ala film Suzanna versi digital.

Seorang bule dengan kacamata VR nyobain game itu. Baru lima menit main, dia langsung lompat dari kursi sambil teriak “What the hell is that jumping sausage???”

Developer kita cuma senyum kecut, Sausage? Ini pocong, Bosku! Kalau di kampung, bukan bikin lapar, tapi bikin orang lari ke sawah.

Tapi begitulah, yang di mata kita “horor merinding,” di mata bule kadang jadi “eksotis lucu-lucu.” Seperti pepatah bilang, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Lain negara, lain pula interpretasi hantunya.

Drama kocak lain terjadi saat makan siang, developer kita yang terbiasa makan nasi padang Rp25 ribu, tiba-tiba harus merogoh kocek €10 hanya untuk currywurst sepiring kecil.

Salah satu dari mereka nyeletuk “Kalau tahu gini, mending tadi kubawa rendang vacuum pack. Bisa sekalian buka warung Padang di sini, lebih laku dari game kita”

Bahkan ada yang iseng bikin pitch “Currywurst Simulator Level 1  Cari duit recehan buat makan”

Kocak, tapi dari situ muncul refleksi serius di kancah global, jangan cuma jadi tamu yang kagum-kagum. Indonesia harus bisa hadir bukan hanya sebagai pasar doyan jajan, tapi sebagai pencipta tren. Kalau pepatah bilang, “kalau tak pandai menari, jangan salahkan lantai yang bergelombang”. Kalau kita belum mendunia, jangan salahkan bule yang nggak paham pocong, tapi salahkan diri kita yang belum serius bikin karya yang bisa menjangkau semua pasar.

Game lokal memang punya daya tarik ada nuansa mistis, ada kearifan lokal, ada karakter yang nggak mungkin ditemukan di Jepang atau Amerika. Tapi tantangannya gimana caranya agar ini bukan cuma nostalgia warga +62, tapi juga bisa dijual di Eropa, Amerika, bahkan Afrika?

Bayangkan kalau game kita cuma bisa dijual di kios warnet kampung, sementara bule sudah main open world dengan grafis yang bikin bulu ketek kelihatan realistis.

Nah, di sinilah kita sering kepeleset, kita suka bilang “Wah, keren nih, sudah pameran di luar negeri!”. Padahal, yang lebih penting bukan sekadar mejeng, tapi menembus pasar. Jangan sampai kita puas hanya jadi “undangan kehormatan,” sementara penjualan tetap jalan di level kelurahan.

Pepatah tua sudah mengingatkan “Air beriak tanda tak dalam”, jangan kebanyakan pamer kalau belum bisa menyaingi raksasa game dunia.

Gamescom ini bukan sekadar festival, ia adalah panggung global, tempat semua negara memamerkan identitas digitalnya, Jepang hadir dengan samurai dan anime, Korea dengan K-pop visualnya, Amerika dengan superhero, Jerman dengan simulasi truk dan kereta yang presisi.

Indonesia? Ya itu tadi pocong dan kuntilanak, tapi jangan salah, kalau dikemas tepat, ini justru bisa jadi keunikan global. Orang luar negeri suka sesuatu yang autentik. Sama kayak wisatawan asing yang bela-belain ke Bali buat lihat upacara adat, bukan buat nonton Marvel.

Masalahnya, kita sering kebanyakan mikir “Ah, takut bule nggak ngerti”. Padahal, justru di situlah daya tarik kita, kalau semua game isinya mirip Call of Duty, ya buat apa?

Pepatah bilang, “tak kenal maka tak sayang”. Kalau dunia belum kenal pocong, ya tugas kita bikin mereka kenal. Bukan dengan wajah seram yang bikin trauma, tapi dengan kualitas game yang fun, interaktif, dan mendidik.

Akhirnya, kita harus tanya ke diri sendiri Mau sampai kapan kita bangga jadi pasar, bukan pencipta game global?

Kalau cuma jadi konsumen, kita cuma jadi penonton yang bayar tiket bioskop. Tapi kalau jadi kreator, kita lah yang tentukan jalan cerita.

Bayangkan suatu hari, di Gamescom, ada bule yang antre panjang bukan untuk coba game Jepang atau Amerika, tapi game Indonesia berjudul “Pocong Kart Racing” di mana pocong bisa drift, kuntilanak bisa nitip belanja, dan tuyul bisa colong power-up.

Lucu? Iya. Global? Sangat mungkin, karena seperti pepatah Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”, segala keberhasilan butuh biaya dan usaha. Kalau kita mau serius investasi, riset, dan terus belajar, pocong bisa jadi bintang global, bukan cuma hantu kampung.

Duel budaya di layar digital bukan soal siapa paling seram, siapa paling canggih, atau siapa paling mahal currywurst-nya. Ini soal keberanian untuk menampilkan jati diri tanpa minder, sambil tetap profesional dan berkualitas.

Indonesia punya modal besar kekayaan budaya, cerita mistis, humor, dan daya imajinasi. Tinggal satu PR besar berani naik kelas dari pasar ke pencipta.

Seperti pepatah bijak bilang “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Kalau sudah melangkah ke panggung dunia, jangan sekadar bawa cerita kampung, tapi bawalah karya yang bisa dihargai oleh dunia, dan kalau ada bule masih nyebut pocong sebagai “jumping sausage”? Ya sudah, anggap saja promosi gratis.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kominfo Muba kurban 2 ekor sapi

    Kominfo Muba kurban 2 ekor sapi

    • calendar_month Selasa, 18 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.250
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Seperti tahun sebelumnya, kepedulian terhadap tenaga kerja kontrak (TKK) terus ditunjukkan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Musi Banyuasin Herryandi Sinulingga AP di momen hari raya Idul Adha 1445 Hijriyah. Dibawah komandonya bersama jajaran ASN, Dinas Kominfo Muba rutin setiap tahun berbagi kebahagiaan dengan berkuban sapi. Tahun ini, Dinkominfo Muba berkurban 2 […]

  • Fraksi Golkar Salurkan Bantuan APD ke RSUD Besemah Kota Pagaralam

    Fraksi Golkar Salurkan Bantuan APD ke RSUD Besemah Kota Pagaralam

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.076
    • 0Komentar

    Fraksi Golkar DPRD Kota Pagaralam menyalurkan bantuan berupa baju Hazmat atau Alat Pelindung Diri (APD) Kepada Rumah Sakit Umum Daerah Besemah Kota Pagaralam.   Meski terbilang aman dari COVID-19, Fraksi Golkar Kota Pagaralam tetap mengajak waspada   BANTUAN itu disalurkan sebagai bentuk kepedulian, serta upaya membantu pencegahan dan penanganan COVID-19 di Kota Pagaralam. Penyerahan batuan […]

  • Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Luas Kebakaran 2026 Lampaui 2019 dan 2023

    Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Luas Kebakaran 2026 Lampaui 2019 dan 2023

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 27
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Karhutla 2026 semakin mengkhawatirkan menyusul luas kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar 202.004 hektare hingga Juli, atau telah melampaui luasan pada periode yang sama pada 2019 dan 2023, bahkan kondisi diperparah dengan ancaman El Nino yang datang lebih cepat, serta mulai bergesernya lokasi kebakaran ke sejumlah wilayah di luar daerah prioritas. Besarnya luasan […]

  • Ancaman Karhutlah jadi Prioritas, Cara Ini Dilakukan Muba

    Ancaman Karhutlah jadi Prioritas, Cara Ini Dilakukan Muba

    • calendar_month Rabu, 17 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 802
    • 0Komentar

    Cuaca panas dan kemarau kering yang kini menyelimuti wilayah Sumatera Selatan khususnya di Kabupaten Muba membuat ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) menjadi atensi dan prioritas untuk diantisipasi. Betapa tidak, sebagian wilayah Kabupaten Muba merupakan lahan gambut yang sangat rentan memicu terjadinya Karhutlah. Hal ini juga yang menjadi perhatian serius Pj Bupati Apriyadi Mahmud. Dalam […]

  • Judo Bakal Dipertandingkan di PORPROV Sumsel Usai Disetujui Gubernur

    Judo Bakal Dipertandingkan di PORPROV Sumsel Usai Disetujui Gubernur

    • calendar_month Sabtu, 2 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 849
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru menyetujui Cabang Olahraga (Cabor)  Judo untuk  diikut dipertandingkan  pada  Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumsel yang akan digelar di OKU Raya  mendatang. Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi Ketua Umum Pengurus Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Sumsel Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji  dan jajaran di ruang tamu Gubernur, Kantor Gubernur […]

  • 2 Ruas Jalan di 2 Desa Kecamatan Jirak Jaya di Perbaiki

    2 Ruas Jalan di 2 Desa Kecamatan Jirak Jaya di Perbaiki

    • calendar_month Minggu, 7 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.219
    • 0Komentar

    DINAS Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Musi Banyuasin memperbaiki jalan di dua Desa, Desa Jembatan Gantung dan Desa Talang Simpang,Kecamatan Jirak Jaya. Dua ruas ini sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah. Perbaikan dilakukan sejak Kamis kemarin. Diawali kedatangan alat berat dan pada Jumat semua material masuk dan dilakukan perbaikan. PUPR menggunakan  dana tanggap darurat. Total […]

expand_less
WordPress Archive Intra – Modern Digital Agency Elementor Template Kit Intro – Personal Digital Blog WordPress Theme Inventory Management module for Perfex CRM Invested – Venture Capital & Investment WordPress Theme Investex – Corporate & Accounting Theme Investment – Business & Financial Advisor WordPress Theme Investmoon – Finance & Investment Manager Elementor Template Kit INVIA Responsive Corporate WP Theme Invoice Pdf WooCommerce Invoices – Laravel Invoice Management System – Accounting & Billing Management