Nasional

Laut Sebasah: Bukan Laut Nangis, tapi Laut Sehat Bebas Sampah

KKP

– Upaya Serius Jaga Laut, Diselipin Humor Biar Nggak Kaku Tapi Pesannya Dalem

DULU laut dikenal sebagai sumber ikan, tempat berenang dan lokasi healing orang patah hati, sekarang laut mulai berubah fungsi jadi tempat pelampiasan sampah. Mulai dari plastik, sedotan, sandal jepit, sampai masker bekas pun nyebur ke laut tanpa izin.

Untungnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sadar bahwa laut yang makin “berantakan” ini harus segera diberesin. Maka pada Rabu (6/8), KKP mencanangkan program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah) dan groundbreaking Pengembangan Kawasan Mangrove Nasional di Kamal Muara, Jakarta Utara. Ini bukan cuma seremoni doang, tapi tonggak penting buat menjaga laut tetap bersih, sehat, dan produktif.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan, bilang dengan tegas tapi santai “Sampah laut itu nggak bisa diurus sendirian, ini kerja rame-rame. Harus melibatkan lintas kementerian, pemerintah daerah, masyarakat, sampai sektor swasta”.

Laut itu bukan ember raksasa. Kalau terus-terusan dibebani sampah, yang stres bukan cuma ekosistem, tapi juga nelayan, wisatawan, bahkan ekonomi daerah.

Makanya, KKP menggandeng KLHK, Kementerian PUPR, Pemprov DKI, Bali, dan berbagai pihak lain untuk urusan hulu ke hilir. Artinya dari kebiasaan buang sampah di daratan sampai penanganan limbah di pesisir, semua digarap bareng.

Lebih dari 700 peserta hadir di acara ini, mulai dari siswa, akademisi, komunitas hingga masyarakat pesisir. Ini jadi simbol bahwa laut bersih bukan cuma urusan menteri atau pejabat, tapi tugas berjamaah.

Bersamaan dengan program Laut Sebasah, KKP juga mulai membangun Kawasan Mangrove Nasional. Tapi ini bukan sekadar tanam-tanam, foto-foto, lalu tinggal pulang. Kawasan ini disiapkan sebagai pusat rehabilitasi, konservasi, edukasi, dan wisata mangrove berbasis masyarakat.

Bayangkan, akan ditanam 202 jenis mangrove asli Indonesia lengkap dengan teknologi kultur jaringan. Jadi kalau ada mangrove yang rusak, bisa “diperbanyak” lewat teknologi. Ini bukan taman biasa, ini taman berkelas nasional.

Mangrove juga bukan sekadar hiasan pantai. Ia pelindung alami dari abrasi, penyerap karbon, dan tempat hidup ribuan spesies laut. Bahkan, kawasan ini dirancang punya pusat penanganan sampah terintegrasi. Jadi, antara pelestarian dan ekonomi biru berjalan seiring, bukan saling sikut.

Wamen Didit juga menekankan bahwa menjaga laut itu investasi masa depan. Kalau laut bersih, bukan cuma ikan yang senang, tapi juga ekonomi masyarakat pesisir. Dari ketahanan pangan, perubahan iklim, sampai kesejahteraan bangsa, semua bertumpu pada laut yang sehat.

Pepatah baru boleh kita pakai hari ini “Siapa jaga laut hari ini, dia jaga isi piring cucunya nanti”

Karena kalau laut rusak, jangan mimpi makan ikan murah. Yang ada, kita malah impor, dan nelayan lokal cuma jadi penonton.

Program Laut Sebasah ini bukan sekadar slogan lucu-lucuan. Ini gerakan nyata. Kita semua punya peran dari buang sampah pada tempatnya, kurangi plastik sekali pakai, sampai ikut bersih-bersih pantai.

Kalau semua bergerak, laut bisa kembali bersih, dan siapa tahu, suatu saat nanti, anak cucu kita bisa berenang lagi di laut tanpa harus nyelem bareng popok bekas.

Mari jaga laut dengan hati, bukan cuma dengan janji. Karena kalau laut bersih, Semua ikut senyum.[***]

Terpopuler

To Top