Seni & Budaya

Sarip Petir, Kisah TKI Antargalaksi [BAB 11 – Planet CuanTapiCemas: Sarip & Bos yang Nggak Pernah Ketawa]

ist

SETELAH lulus magang makan hati di Planet Karmelia dan nyaris jadi bintang iklan obat stres, Sarip Petir akhirnya dipindah tugaskan ke Planet CuanTapiCemas planet yang katanya makmur luar biasa, tapi semua penghuninya jalan sambil gelisah dan pelipisnya berdetak kayak drum dugem.

“Selamat datang di Planet CTC, Pak Sarip,” kata robot sambutan, sambil menyerahkan goodie bag berisi buku saku motivasi, bubuk kopi 5x extra caffeine, dan kupon diskon psikolog daring.

Sarip, dengan keringat kecut dan semangat kayak wifi lemah, mencoba tersenyum.
“Ini planet kerja atau syuting sinetron azab?” gumamnya.

Hari pertama kerja, Sarip diperkenalkan pada bos barunya Pak Zen Damarwati bin Teguh Wasis.
Namanya Zen, tapi ekspresinya kayak baru ditilang Satpol PP pas lagi ganti oli di trotoar.

Wajahnya datar.
Matanya kayak kalkulator menghitung terus, tapi nggak pernah ada emosi.
Ketawanya? belum pernah ada saksi hidup yang lihat.
Bahkan CCTV aja bingung mau rekam bagian mana. “Selamat pagi, Pak,” sapa Sarip ramah.

Pak Zen cuma angguk. Satu kali. Tanpa suara. Tanpa tanda kehidupan selain nadi.

Sarip merasa seperti ngobrol sama patung dada Jenderal Soedirman.
Cuma lebih dingin.

Planet CuanTapiCemas dikenal dengan sistem kerjanya “Kerja Cuan Sistem Akhirat.”
Artinya kau kerja keras siang malam, bonusmu nanti… bisa jadi dibayar saat di akhirat.

Bos Pak Zen punya motto “Kalau kalian lelah, berarti kalian belum maksimal, kalau kalian pingsan, baru saya mulai percaya kalian kerja”

Sarip mulai rindu Planet Bumi, bahkan rindu emak jualan pempek di depan rumah sambil ngipas bara.

Jam kerja di sini dimulai jam 4 subuh waktu planet, selesai ketika matahari terbenam… di planet tetangga.
Kadang ada shift lembur  dimulai jam 1 malam, selesai saat ayam galaksi Andromeda berkokok.

“Bro, ini kerja apa gladi resik neraka level 2?” keluh Sarip pada teman satu kubikal, makhluk mirip semangka bersepatu roda bernama Tepo.

Tepo mengangguk sambil membuka lemari berisi vitamin, minyak angin, dan sabun mandi aroma relaksasi.
“Biasa, bro. Yang penting jangan ketawa di kantor. Pak Zen alergi”

Suatu hari, Sarip nekat.
Ia buka video lawak Minang di komputer kantor.
Tawa pelan mulai menggelitik kerongkongan.
Tepat saat ia nyengir lebar…

Pak Zen masuk.

“Sedang ada yang lucu?” tanya Pak Zen, dengan suara sejuk seperti AC rusak.

Sarip langsung menutup laptop dan refleks bilang, “Nggak Pak, saya lagi membaca data produktivitas tahun fiskal 5039”

Pak Zen hanya menatap, seperti kamera pengintai di mal nggak berkedip tapi bikin ciut nyali.
Ia lalu pergi… pelan-pelan… seperti bayangan masa lalu yang belum dimaafkan.

Keesokan harinya, semua kursi kerja diganti…
Dengan kursi pijat yang tidak bisa dipakai.

“Sebagai simbol kalian boleh lelah, tapi jangan pernah nyaman” kata memo internal dari HRD.

Sarip mulai menganggap kerja di tambang asteroid lebih masuk akal daripada ini.

Setiap gajian datang, para pekerja CuanTapiCemas dapat transfer nominal yang bikin mata terbelalak.
Tapi begitu saldo masuk, langsung disedot buat tagihan “Biaya Konsultasi Mental”, “Pajak Kebahagiaan”, dan “Donasi Rasa Syukur”.

Sarip pernah protes “Pak, kenapa hidup di sini kayak sinetron religi tapi nggak ada akhir bahagia?”

Pak Zen cuma membalas lewat email satu kalimat “Kesuksesan adalah penderitaan yang dijadwalkan”

Sarip mulai curiga, Pak Zen dulunya mungkin pernah kalah catur sama kucing, lalu trauma seumur hidup.

Akhirnya… Sebuah Ketawa

Suatu sore, saat semua karyawan sudah hampir jadi zombie karena lembur 72 jam, Sarip membawa kue ulang tahun ke ruang tengah.
Tulisan di atasnya “Selamat Ulang Tahun, Pak Zen, semoga bisa ketawa sekali aja”

Semua orang diam.
Hening.
Kue itu diletakkan di meja Pak Zen.
Semua menatap.
Sarip menunggu dengan harapan, kayak harapan gajian naik.

Dan…
Pak Zen melihat tulisan itu.
Membaca… pelan-pelan…

Lalu…

...tersenyum.
Sedikit.
Sebelah bibir.
Mekar tipis.
Tapi cukup untuk membuat seluruh kantor heboh seperti fans K-Pop lihat bias-nya jatuh di panggung.

“Kita berhasil, bro!” teriak Tepo.
“Dia… dia… dia ketawa dalam hati!”

Sarip pun meneteskan air mata entah karena haru atau karena akhirnya boleh pulang tidur.

Planet CuanTapiCemas mengajarkan satu hal penting “Kadang kerja keras itu perlu. Tapi kalau sampai senyum aja jadi barang mewah… lebih baik jualan bakso keliling di Bumi, asal bisa ketawa tiap hari”.[***]

Terpopuler

To Top