ADA kabar dunia yang makin bikin jidat berkerut, apa dong? soal harga beras yang gak pernah stabil karena kerap naik-turun kayak orang sakit di inpus HB nya turun naik, dan juga seperti sinyal HP di pulau terluar yang tak stabil hingga cuaca yang makin labil kayak perasaan mantan ente, tapi soal yang ini beda, karena datang juga kabar yang akhirnya bisa bikin petani tersenyum.
Mulai Rabu (22/10) kemarin, harga pupuk bersubsidi resmi turun!, iya, iya.. ini bukan cuma rumor WhatsApp grup tani, tapi pengumuman resmi dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat mengulas setahun kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Langkah ini, ungkap Amran, adalah perintah langsung Presiden Prabowo. “Pastikan petani nggak cuma kerja keras, tapi juga bisa beli pupuk tanpa harus ngutang di warung”.
Wah, jika gitu sih, Alhamdullilah, negara ini masih punya harapan!, petani juga tak mumet…dan rakyat bisa senyum-seyum bahagia, seperti dapat hadiah tak terduga.
Nah, di balik kabar turunnya harga itu, ada satu hal, yakni nama legendaris dari Palembang yang langsung sigap kayak petani panen pertama, siapa lagi si tua dari Sumatera Selatan – PT Pusri Palembang.
Perusahaan pupuk tertua di Indonesia ini sudah jadi sahabat petani sejak zaman padi masih ditumbuk pakai lesung ini langsung menyatakan dukungan penuh untuk kebijakan pemerintah.
Direktur Utama Pusri, Maryono, bilang dengan nada mantap, “Penurunan harga pupuk bersubsidi ini bukti nyata keberpihakan negara ke petani. “Kami siap jalankan kebijakan ini dengan memastikan pupuk tetap tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran”, katanya.
Bahasanya kayak pidato, tapi kalau dipikir-pikir, emang bener juga. Soalnya, apa gunanya pupuk murah kalau sampainya molor kayak proyek jembatan yang nggak kelar-kelar?
Mari kita lihat angkanya, biar nggak dibilang cuma janji manis, seperti Urea dari Rp2.250 jadi Rp1.800/kg, NPK dari Rp2.300 jadi Rp1.840/kg, NPK Kakao dari Rp3.300 jadi Rp2.640/kg, ZA khusus tebu dari Rp1.700 jadi Rp1.360/kg dan terakhir Pupuk organik dari Rp800 jadi Rp640/kg.
Jika, seandainya petani dulu ngitung pupuk kayak ngitung cicilan motor, sekarang bisa sedikit longgar. Harga pupuk ini turun bukan karena subsidi nambah, namun karena efisiensi industri Pupuk Nasional alias kerja otak dan kerja hati.
“Inilah hasil sinergi dan perbaikan tata kelola bersama holding Pupuk Indonesia,” jelas Maryono. “Kami memperpendek rantai pasok, memperkuat digitalisasi sistem distribusi, dan berkoordinasi dengan pemda dan distributor”.
Singkat kata pupuknya nggak lagi nyasar kayak paket online yang dikirim ke alamat sebelah.
Di era saat ini, sebenarnya petani pun sudah melek teknologi, sebab kalau dulu pupuk dikirim pakai doa, sekarang bisa dilacak lewat sistem digital Pusri, dari gudang sampai ke tangan petani, semua ada jejaknya.
“Biar nggak ada lagi pupuk yang hilang di tengah jalan,” kata Maryono.
Lucunya, sistem digital ini bukan cuma buat gaya-gayaan. Justru ini cara supaya pupuk bersubsidi benar-benar sampai ke tangan yang berhak, pasalnya seperti kata pepatah, “Kalau garam salah tuang, sayur bisa hambar”
Begitu pula pupuk, kalau salah alamat, wah pasti sawah bisa merana, seandainya bisa nangis..nangislah dia…
Pesan dari sawah
Turunnya harga pupuk bukan cuma soal ekonomi, tapi soal psikologinya petani, sebab dengan harga yang lebih bersahabat, petani bisa bernafas lega bahkan katakanlah bisa membeli bibit yang berkualitas, bisa tambah lahan, bisa traktir tetangga kopi tanpa mikir utang pupuk.hahaha…amin..panjang bener asanya ..!
Dengan demikian dampaknya pasti sangat besar, produktivitas bisa naik, panen bisa melimpah, dan yang paling penting yaitu ketahanan pangan makin kuat dan negara makmur..pinginnya..
Kalau Kata Maryono itu, “Kami percaya kebijakan ini jadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan Pangan Nasional”..amin semoga terwujud..dalam bahasa sederhana kalau petani bahagia, negeri pun kenyang.
Ada yang sangat penting sebanarnya, tapi jangan salah… di balik senyum ramah, Pusri juga harus tegas alias harus galak sama yang curang…Harus mendukung penegakan hukum terhadap siapa pun yang menyalahgunakan pupuk bersubsidi, apalagi pupuk itu bukan barang spekulasi, tapi nyawa sawah, nyawa petani..karena padi nggak dikasih vitamin, petani juga ikut manyun..imbasnya petani marah sampe dibawah ke istri ama anak..nah kan, jadi ribet dosanya…
“Oleh karena itu, pupuk bersubsidi harus sampai ke petani yang berhak,” tegas Maryono.
Kalau ada yang main timbun atau jual di luar ketentuan, siap-siap aja kena semprot,bukan semprot pestisida, tapi hukum.
Penurunan harga pupuk ini mungkin cuma satu kebijakan di atas kertas, tapi di bawahnya, di tanah yang diinjak petani tiap hari, ini terasa banget beceknya, maka tanah sudah dikasih subur dari Allah SWT…harus diimbangi dengan kelancaran distribusi pupuk.
Ada harapan baru, yaitu ada keyakinan kalau negara masih peduli sama akar rumput bukan cuma akar modal.
Karena tanpa petani, nasi tinggal kenangan, dan warung padang bisa gigit jari. Langkah Pusri ini membuktikannya, masih ada perusahaan BUMN yang nggak cuma mikir laba, tapi juga ladang dan lumbung.
Jadi, ungkap pepatah orang tua dulu, “Rezeki yang ditanam dengan ikhlas, akan tumbuh jadi berkah”, betul nggak!?.
Begitulah kira-kira makna di balik turunnya harga pupuk ini.
Jika ada yang nanya, “Apa bisa kebijakan kayak gini bikin rakyat makmur?” jawabannya sederhana, coba ente lihat sawah, kalau petaninya tersenyum, padi nguning dan lebar..berarti harapan masih tumbuh di Tanah Negeri ini, semoga kebijkan ini menguntungkan petani, dan masyarakat tak kelaparan..[***]