Tips

Sarapan Berat, Hidup Melarat (Kolesterol), Kisah Pagi yang Berminyak & Berdampak

ilustrasi

“Tak ada pagi tanpa nasi, tak ada kolesterol tanpa gorengan”Pepatah rakyat dapur belakang, he..he..

JAM masih menunjukkan pukul 06.57, ayam tetangga belum sempat berkokok dua kali, tapi dapur sudah bergemuruh. Ada aroma daging sapi rebus, ayam goreng lengket, telur ceplok setengah gosong, dan sambal ulek level ‘neraka edisi Sumatera’.

Pak Bowo, bapak dua anak, 52 tahun, baru selesai mandi dan langsung menyantap sarapan super berat itu. Nasi satu gunung, lauk tiga protein hewani, ditambah kerupuk dan teh manis hangat.
Kata beliau, “Kalau pagi nggak kenyang, otak susah mikir. Kecuali yang nggak biasa mikir”.

Tapi masalahnya bukan di mikir atau enggak. Dua minggu kemudian, Pak Bowo mendadak merasa lututnya cenut-cenut. Pinggang kayak habis ngangkat kulkas sendirian. Leher kaku kayak ditinggal utang.

Datanglah vonis dokter asam urat tinggi, kolesterol naik, dan lemak darah ngumpul seperti reuni mantan satu angkatan.

Pola makan pagi seperti ini sebetulnya bukan salah siapa-siapa. Tapi kadang, kita mengira tubuh kita adalah kompor minyak tanah, makin dikasih bahan bakar, makin semangat.

Padahal tubuh itu kayak celengan ayam, kalau diisi terlalu cepat dan penuh, bisa jebol juga.

Sarapan berat yang mengandung, nasi putih segunung, daging sapi, ayam, telur (semua digoreng pula), teh manis dua gelas, ditambah kerupuk dua lembar (plus bonus micin di ujung lidah) …bisa bikin tubuh shock, terutama kolesterol jahat (LDL) naik cepat kayak utang di akhir bulan.

Selain itu, asam urat ngumpet dulu, tapi pas malam mulai kasih kejutan kayak mantan minta balikan pas kamu udah nikah. Gula darah melambung, lalu terjun bebas setelah 2 jam, bikin ngantuk, malas, dan nyari kopi susu padahal sudah kelebihan beban.

Kalau pola ini dilanjutkan risiko stroke dan serangan jantung meningkat (apalagi kalau sambil merokok dan ngedumel soal politik). Asam urat kronis bisa bikin sendi membengkak kayak martabak telur gagal diet. Dan tentu saja, biaya kesehatan naik. Tabungan pensiun malah ludes buat beli obat dan vitamin rasa karet.

Nah, jangan khawatir ada tips sehat ala Warung Kopi, tapi valid!, hidup sehat itu bukan berarti harus makan daun dan minum air mata. Kita bisa ngurangin risiko penyakit dengan cara yang nggak nyiksa dompet dan perasaan, yakni pilih sarapan “Ringan Tapi Mantap”

Pilih Sarapan “Ringan Tapi Mantap”. Pepatah baru bilang  “Lebih baik bubur berkuah daripada ayam berbulu di lambung”  antara lain

  • Oatmeal + buah potong

  • Bubur kacang hijau tanpa santan (boleh dikasih sedikit gula)

  • Nasi merah + tahu tempe kukus + sayur bayam

  • Telur rebus + roti gandum + tomat iris

Kedua gorengan itu mantan,  jarak aman 2 meter

Kalau susah lepas dari gorengan, minimal:

  • Ganti minyaknya tiap 2 hari

  • Kurangi tepung, perbanyak sayur (bakwan isi kol asli ya, bukan angin)

Ketiga, yakni  jangan langsung tidur lagi abis sarapan, karena itu bisa bikin lemak numpuk kayak cucian yang ditunda. Jalan-jalan keliling rumah 10 menit aja udah cukup.

Ke- empat minum air putih, bukan teh manis 3 ember , karena teh manis pagi hari itu kayak temen toxic, manis di awal, nyakitin di akhir. Gula darah bisa naik turun kayak sinyal Wi-Fi di pedalaman.

Ke lima periksa rutin, bukan nunggu tumbang, minimal 3 bulan sekali cek kolesterol, asam urat, gula darah. Biar kita tahu kondisi tubuh sebelum tubuh kasih sinyal SOS.

Jadi kesimpulan sarapan memang penting, tapi jangan sampai “perut kenyang di pagi hari, rekening bocor di sore hari gara-gara beli obat”.

Tubuh itu bukan warteg, jangan diisi semuanya sekaligus. Kalau mau kenyang tapi sehat, kuncinya pilih yang bergizi, tidak terlalu berat, dan tidak dibanjur minyak dan gula.

Hikmah dari Nasi dan Daging “Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum ke rumah sakit”

Jangan sampai semangat makan pagi membuat kita lupa bahwa tubuh punya batas. Nikmatilah makanan, tapi jangan biarkan makanan jadi musuh dalam selimut kolesterol dan sekutunya.

Ingat, sehat itu bukan tentang diet ekstrem, tapi tentang pilihan kecil yang dilakukan konsisten. Sarapan sehat itu bukan cuma tren, itu investasi, supaya kita bisa tetap lincah di usia senja, dan masih kuat main petak umpet sama cucu. Semoga bermanfaat.[***]

“Tulisan ini adalah opini dan edukasi ringan berbasis referensi kesehatan umum, bukan pengganti konsultasi medis”

Terpopuler

To Top