(Bilingual Article / Artikel Dua Bahasa: 🇮🇩 Indonesia – 🇬🇧 English Summary Below)
“Rumah aku dulunyo tu pacak ngundang hujan masuk, bangun tedo kaki becek, kini Alhamdulillah sudah aman dari kacab [banjir],” ujar Nawawi, sambil mengelus dinding rumah barunya, matanya berkaca-kaca, seperti cabe rawit yang tak sengaja nyentuh mata.
DI Lorong Timbunan, tempat Pak Nawawi tinggal, dulu ibarat panggung drama realita, rumah kayunya yang roboh, atapnya bocor, dindingnya nyaris jadi tirai teater terbuka, kalau malam, suara jangkrik pun enggan mampir karena takut ikut roboh.
Kini, wajah Nawawi cerah semringah, rumahnya sudah kinclong berdiri, dindingnya berdempet rapi seperti barisan anak-anak upacara, gentengnya kuat, lantainya bukan tanah lagi tapi sudah keramik licin, kalau licin karena sabun cuci ya.. jangan salahkan keramiknya.
Program Palembang Peduli kolaborasi antara Pemkot Palembang dan Baznas Kota Palembang menjadi bukti, datang seperti sinar mentari di musim hujan, membawa kabar baik, mengulurkan tangan, dan membedah bukan cuma rumah, tapi harapan.
“Rumah ini bukan cuma dinding, ini tempat hidup, tempat mimpi anak-anak berkembang, tempat doa-doa dilantunkan” kata Hj. Dewi Sastrani Ratu Dewa, Ketua TP PKK Kota Palembang dengan penuh haru, sambil berdiri di depan rumah baru Nawawi, kemarin.
Dari target 24 rumah, kini sudah 12 rumah rampung dibedah, tambahannya, Baznas Pusat turut memberi bantuan 12 unit lagi. Tahun ini, Palembang tidak cuma melempar wacana, tapi mengeksekusi mimpi jadi kenyataan, sehingga total 36 rumah akan berubah nasibnya.
Kalau dulu orang bilang “rumahku istanaku”, Pak Nawawi dulu cuma bisa bilang, “rumahku bocornyo” ampun dech… tapi sekarang? “Aku pacak ngajak tamu masuk, dak malu lagi, he..”, katanya, dengan logat Palembang yang khas dan sumringah tulus.
Bukan di Indonesia, bukan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan saja, di luar negeri juga program serupa telah mengubah hidup jutaan orang. Di Maroko, ada Al Omrane, perusahaan milik negara yang fokus pada perumahan rakyat miskin, bahkan membangun komunitas layak tinggal dari bekas lahan kumuh.
Di Bangladesh, program BRAC Housing for the Poor membuktikan bahwa akses ke rumah layak bisa menjadi titik awal ekonomi keluarga meningkat.
Tidak ketinggalan
Palembang tidak ketinggalan, Zakat yang terkumpul, bila dikelola transparan dan terukur, bisa menjelma jadi rumah, jadi harapan, bahkan jadi modal usaha, seperti program Palembang Peduli yang juga menyasar disabilitas, bantuan permodalan, hingga penguatan ekonomi rumah tangga.
Kata pepatah lama, dengan semangat baru, kata orang tua-tua di kampung, “Segalo rumah itu ado pintunyo, tapi dak segalo rumah iti ado harapan,”
Tapi program ini datang membawa pintu dan harapan sekaligus, bukan sekadar menyumbang genteng, tapi juga menyatukan niat baik masyarakat, pemerintah, dan lembaga zakat untuk gotong royong membangun martabat.
Ketua Baznas Kota Palembang, Kgs. M. Ridwan Nawawi, bahkan menegaskan, “Ini bukti bahwa zakat bukan sekadar ritual, tapi bisa jadi jembatan perubahan”.
Cerita Nawawi adalah satu dari sekian banyak kisah sunyi yang akhirnya disorot lampu harapan, Kita mungkin tak bisa membangun dunia sendirian, tapi kita bisa memperbaiki satu rumah, satu keluarga, satu mimpi dengan zakat, sinergi, dan empati.
Bahkan siapa sangka, dari lorong kecil bernama Timbunan, justru muncul cerita besar tentang kemanusiaan. Rumah Pak Nawawi kini bukan lagi tumpukan kayu dan seng, tapi simbol dari apa yang bisa terjadi jika niat baik dikolaborasikan.”Dak nyangko, zakat biso ngubah hidup kamek,” ucap Pak Nawawi
“Sekarang, anak-anak bisa sekolah dengan tenang, dan istri dak perlu lagi nambal atap pakai ember”. Kalau rumah adalah tempat kita pulang, maka program ini adalah tangan yang memastikan tak ada lagi yang harus pulang ke reruntuhan.
Jika anda ingin menyumbang bukan cuma uang tapi juga perubahan, maka jangan ragu zakat itu bukan soal berapa, tapi soal siapa yang dibantu.
Karena dari Timbunan, kita belajar, “Sekecil apapun sumbangan, jika disatukan, bisa mengubah nasib jadi takdir yang lebih baik”.[***]
————————————————————————————————————————-
From Rubble to Dream Home: How Zakat Transformed Nawawi’s Life
NAWAWI once lived in a house where the walls whispered, the floor wept, and the roof sang every time it rained. Located in a narrow alley called Lorong Timbunan in Palembang, his shack was on the verge of collapse—more of a memory than a home.
“When I woke up, my feet were already wet,” he chuckled, speaking in his thick Palembang accent. “It felt like sleeping in a river, not a bed.”
But today, Nawawi stands inside a new house. Strong walls. A tiled floor. A roof that finally knows how to keep rain out. The transformation came through Palembang Peduli, a social program born from the collaboration between the Palembang City Government and the city’s Zakat Agency, Baznas.
Launched as a flagship welfare program by Mayor Ratu Dewa and Deputy Mayor Prima Salam, Palembang Peduli goes beyond building houses. It aims to restore dignity—brick by brick, family by family.
“Pak Nawawi’s house had already collapsed before. Alhamdulillah, today we inaugurated his new house. May it bring happiness and blessings to the family,”
said Hj. Dewi Sastrani Ratu Dewa, Chairwoman of Palembang’s Family Welfare Movement (TP PKK), during the handover ceremony.
The initiative doesn’t stop at home renovations. It also includes assistance for people with disabilities, the poor, and micro-entrepreneurs who want to stand on their own feet. All of this is made possible through structured and transparent zakat management by Baznas Palembang.
“We’ve rebuilt 12 houses so far this year, and we’re targeting 24. With support from the national Baznas office, we’ll reach 36 by year’s end,”
explained Baznas Palembang Chairman, Kgs. M. Ridwan Nawawi.
For families like Nawawi’s, it’s not just a house—it’s a lifeline. A new beginning. A reason to smile without fear of the roof falling in.
From Lorong Timbunan to the World
Programs like this aren’t unique to Indonesia. In Morocco, the government-backed Al Omrane project upgrades slums into habitable communities. In Bangladesh, BRAC’s housing initiatives help the ultra-poor access permanent shelter. Palembang now joins that global movement with a local soul.
Because when zakat is channeled well, it becomes more than charity—it becomes a force of change.“I’m no longer ashamed to invite people into my home,”
Nawawi said, wiping a tear while standing by the new doorframe.“My wife doesn’t need to put buckets to catch rain anymore.”
As a local proverb says “Not all houses have hope, but a hopeful house is where real living begins.”
Palembang Peduli is creating more than shelter. It is cultivating dignity, one home at a time. With every nail and every brick, it tells a story—that poverty doesn’t have to be permanent.
This isn’t just about building structures. It’s about rebuilding lives.
So the next time you wonder where your zakat goes, think of Nawawi. Think of the laughter returning to Lorong Timbunan. Think of the rain that now stays outside.
Because sometimes, the biggest change starts with a roof that doesn’t leak—and a heart that no longer breaks.[***]