ADA kabar cerah dari dapur pemerintah! Bukan dapur politik yang sering panas dan bikin gosong janji, tapi dapur betulan, lengkap dengan panci, sendok sayur, dan aroma rendang yang mengalun lirih dari Komplek Pakri, Palembang.
Kemarin, Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, bersama Wakapolda Sumsel, resmi membuka SPPG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Acara ini bukan sekadar potong pita dan foto bersama, tapi juga sidak langsung ke dapur! Iya, dapur beneran, bukan dapur anggaran.
Program ini bagian dari Makan Bergizi Gratis (MBG), andalan Presiden kita, Prabowo Subianto, yang termaktub dalam kitab suci pembangunan nasional Asta Cita.
Tapi ingat, bro, gratisan bukan berarti asal-asalan, kalau makanan cuma gratis tapi gizinya minus, ya sama aja kayak beli mie instan diskonan, isinya cuma angin dan MSG doyan sih, tapi jangan harap anak jadi cerdas.
Pepatah Jawa bilang, “Ojo mung kepengin wareg, ning kudu waras”. artinya jangan cuma kenyang, tapi sehat juga penting.
Pak Wagub bahkan wanti-wanti, “Jangan sampai niat baik kasih makan malah bikin perut rakyat mules berjamaah”
Karena itu, dapur SPPG harus kayak dapur istri idaman bersih, higienis, dan bebas dari drama sisa kemarin.
Risiko keracunan pangan itu nyata, bro, kalau kebersihan dapur kaya hati mantan yang belum move on, ya repot. Maka prinsip hygiene sanitasi bukan sekadar teori dari buku LKS, tapi wajib jadi SOP harian. Ibarat masak nasi air harus bersih, tangan cuci dulu, dan jangan sambil update status galau.
Program ini gak bisa jalan sendirian, lho. Harus ada tandem solid antara Dinas Pendidikan (biar tahu siapa yang lapar), Dinas Kesehatan (biar tahu gizi apa yang kurang), dan tentunya tim dapur dari SPPG (biar tahu lauk pauk bukan cuma soal rasa, tapi kandungan gizi).
Kalau tiga instansi ini bisa bersatu, hasilnya bisa bikin anak-anak bukan cuma kenyang, tapi juga kuat kayak Ultraman dan pintar kayak Profesor BJ Habibie versi Gen-Z.
Wagub bilang, “Dengan gizi yang baik, kita bisa cetak generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing”
Bayangkan, bro… Anak-anak yang hari ini makan nasi telur sayur dari SPPG, suatu hari bisa jadi arsitek pembangunan Indonesia Emas 2045. Asal jangan keburu tumbang karena lauknya basi atau nasinya dikasih topping lalat.
Tentu, jangan lupa… jangan karena gratis lalu masyarakat kita males masak sendiri.
Ingat pepatah “Tangan yang bisa menggoreng tahu sendiri, tak akan tergantung pada tahu goreng tetangga”
SPPG ini bukan cuma dapur, tapi pabrik masa depan, karena gizi itu bukan sekadar soal isi piring, tapi soal isi kepala dan isi bangsa.
Tugas kita sekarang jaga kualitas, jaga kebersihan, dan jaga agar semangat ini gak cuma hangat-hangat nasi kotak peresmian. Karena kata pepatah zaman now “nak sehat bukan hasil dari foto bareng pejabat, tapi dari lauk pauk yang niat”. Salam Gizi Mantap!, biar kenyang tak cuma di perut, tapi juga di otak dan cita-cita.[***]

