Hujan Turun, Manggala Agni Terus Buru Titik Api di Sumsel
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hujan yang turun di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) belum menjadi tanda berakhirnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan masih menemukan titik api aktif saat melakukan pengecekan di lapangan.
Pemadaman pun terus dilanjutkan, terutama di kawasan bergambut yang menyimpan risiko bara api bertahan di bawah permukaan.
Salah satu temuan tersebut berada di Talang Rimba, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Berdasarkan laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan per 26 Oktober 2026, hujan telah turun sebelum tim melakukan pengecekan.
Namun, hasil pemantauan menggunakan drone dan pengamatan langsung dari darat masih menunjukkan sejumlah titik api aktif.
Temuan itu membuat upaya pemadaman tetap diperlukan meski hujan telah membasahi kawasan tersebut. Kondisi di lapangan menjadi pengingat bahwa hujan tidak selalu mampu memadamkan seluruh sumber api, terutama ketika kebakaran terjadi di lahan bergambut.
Di wilayah lain di Sumsel, operasi penanganan karhutla juga masih berlangsung. Di Tanjung Batu, Kecamatan Tulung Selapan, OKI, petugas menangani kebakaran permukaan dan bawah pada lahan bergambut. Penanganan dilakukan untuk memastikan api tidak terus menjalar dan bara yang tersisa dapat dipadamkan.
Sementara itu, di Desa Putak, Kabupaten Muara Enim, tim Manggala Agni masih menemukan asap sehingga perlu melakukan mopping up atau pemadaman lanjutan, disertai penyisiran untuk mencari bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Kondisi berbeda ditemukan di sejumlah lokasi lainnya. Kebakaran di Muara Baru, Kabupaten Ogan Ilir, telah berhasil dipadamkan. Api di Suaka Margasatwa Dangku, Kabupaten Musi Banyuasin, juga dinyatakan padam setelah operasi yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, BKSDA, BPDAS, dan masyarakat.
Namun, pemadaman belum sepenuhnya tuntas di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin. Petugas masih menemukan beberapa titik api yang sulit dijangkau sehingga operasi harus dilanjutkan.
Perkembangan terjadi saat jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional justru menunjukkan penurunan. Data pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Senin (26/10/2026) pukul 21.00 WIB mencatat 93 hotspot, berkurang 54 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 147 titik.
Di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, jumlah hotspot juga turun dari 26 menjadi 10 titik. Sumsel tercatat memiliki dua hotspot, sedangkan Kalimantan Barat mencatat lima titik dan Kalimantan Tengah tiga titik. Tidak terdeteksi hotspot high confidence di Kalimantan Selatan, Jambi, dan Riau.
Meski demikian, penurunan angka hotspot tidak serta-merta menandakan seluruh kebakaran telah selesai ditangani. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Indikasi tersebut tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan langsung dan kondisi aktual di lapangan.
Pada lahan gambut, upaya penanganan juga tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas perlu melakukan pembasahan, pendinginan, penyisiran, dan mopping up untuk memastikan tidak ada bara yang tertinggal dan berpotensi memicu kebakaran berulang.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, serta unsur terkait lainnya terus melakukan patroli, pengecekan lapangan, pemadaman langsung, dan penyekatan penjalaran api.
Penanganan karhutla di Sumsel pun masih berfokus pada kondisi nyata di lapangan, bukan hanya menurunkan angka hotspot, tetapi memastikan api benar-benar padam, mencegah kebakaran kembali muncul, serta melindungi masyarakat dan kawasan hutan dari dampak karhutla. (***) /diolah dari kehutanan.go.id
- Penulis: Irwan Wahyudi
