Sosial

“Desa Tambakbaya Ngamuk! Narkoba Dihajar, Urine Dicek, Satgas Dibentuk: Perang Melawan Si Bubuk Setan Dimulai dari Sawah!”

ist

KALAU dulu desa dikenal dengan sawah, dangdut, dan bakso tusuk, sekarang ada satu lagi tambahan identitas Desa Bersinar alias Bersih dari Narkoba. Desa Tambakbaya di Lebak, Banten, bukan cuma bersinar karena mentari sore yang mantul di atas genteng masjid, tapi juga karena kehadiran tiga jenderal besar: Menteri Desa Yandri Susanto, Kabaharkam Polri Komjen Fadil Imran, dan Kepala BNN Komjen Marthinus Hukom, yang turun langsung ngobrak-ngabrik narkoba dari akar ke biji!

Sore itu, langit Tambakbaya seperti tahu diri. Mendung minggat, angin sepoi-sepoi datang membawa kabar: “Narkoba, minggirlah kau dari bumi para petani!” Suara toa masjid belum sempat memanggil magrib, rombongan para petinggi negara sudah tiba, lengkap dengan mimik serius dan niat membara. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ini deklarasi perang, bro! Tapi bukan perang pakai bambu runcing, melainkan dengan urine test, satgas anti narkoba, dan semangat bareng-bareng ngawasi keluarga.

Menteri Desa Yandri, dengan gaya yang tak kalah berapi-api dari sambal terasi buatan ibu-ibu PKK, langsung ngegas. “Kita sudah masuk zona kuning! Artinya tinggal satu tiupan angin lagi jadi merah. Narkoba ini seperti hama wereng, kalau nggak cepat disemprot, habis sawah kita!”

Makanya, tahun depan, semua Kepala Desa, BPD, dan perangkatnya bakal dites urine. Bukan karena mereka dicurigai, tapi biar jadi contoh. Karena kalau kepala desanya aja ‘nge-fly’, jangan salahin warga kalau ikut nyungsep!

Narkoba itu kayak rayap. Awalnya nggak kelihatan, eh, tahu-tahu tiang rumah ambruk. Atau kayak mantan yang datang diam-diam lalu menghancurkan harapan—begitu pula narkoba, datangnya pelan-pelan, tapi dampaknya jebret!

Makanya, program Desa Bersinar ini bukan basa-basi. Ini kayak bikin benteng dari batu bata gotong royong: ada pondasi dari tokoh agama, semen dari sekolah-sekolah, dan cetoknya dari Bhabinkamtibmas. Semua harus nyatu. Karena kalau perang ini cuma dikerjakan BNN doang, itu kayak ronda malam sendirian pakai senter kecil. Mana bisa keliling desa!

Kolaborasi Lintas Lembaga, Komjen Fadil Imran dari Baharkam ikut nyorong “Narkoba ini udah masuk ke desa. Ini bukan lagi masalah kota. Baharkam lewat Bhabinkamtibmas siap pasang badan. Tapi kalau warga diem aja, ya susah juga. Ini harus gotong royong kayak panen raya!”

Sedangkan Komjen Marthinus Hokum dari BNN bawa pesan kelas berat buat para Bandar Narkoba yang nonton dari kejauhan (atau dari balik tirai warung kopi). “Negara tidak akan mundur! Kalau kalian masih ngeyel, tunggu saja: kami akan masuk ke lubang tikus pun asal kalian ketemu.”

Dari acara di Tambakbaya ini kita belajar, perang melawan narkoba itu nggak bisa diserahkan ke polisi doang. Ini kerjaan ramai-ramai, kayak acara kawinan: kalau semua bantu nyiapin, yang nikah bisa senyum tenang. Tapi kalau cuma dua orang yang sibuk, sisanya cuma nonton, ya bisa kacau!

Mendes Yandri sudah wanti-wanti jaga keluarga, jaga tetangga, jaga generasi muda. Kalau ada yang mencurigakan, lapor! Jangan malah ngerekam buat konten TikTok. Dan mumpung program Cek Kesehatan Gratis dari Presiden Prabowo lagi jalan, manfaatin! Tes darah, tensi, kolesterol, sekalian juga tes niat: niat untuk hidup sehat dan bebas narkoba.

Karena sejatinya, desa yang kuat bukan hanya yang panennya melimpah, tapi juga yang warganya bersih dari narkoba. Ingat, lebih baik capek ngecek anak muda biar gak ngisap sabu, daripada capek nangis depan pengadilan. Mari kita buat desa-desa bersinar bukan cuma karena lampu jalan, tapi karena harapan masa depan yang terang benderang!.[***]

Terpopuler

To Top