Seni & Budaya

Ternyata, Milenial Masih Suka Seni Tradisional

Foto : istimewa

TERNYATA, di era modern kini, masih banyak generasi milenial peduli dan masih mau memperhatian kesenian tari tradisional.

Pencipta Tari Tanggai Elly Rudi  mengemukakan hal ini saat hadir sebagai narasumber  bersama budayawan Dr Erwan Suryanegara, dalam  Bincang Tari mengusung tema Bedah Konsep Ide Dasar Penciptaan Tari  dalam Festival dan Lomba Seni SiswaNasional (FLS2N) SD dan SMP.

Bincang Tari ini sendiri merupakan bagian dari Sepekan Seni yang digelar Dewan Kesenian Palembang (DKP),  di Guns Cafe Palembang, Selasa (12/2/2020).

“Ini juga akan menjadi satu gebrakan kedepan bahwa generasi millenial yang katanya sibuk dengan game dan android, ternyata masih ada yang peduli dengan tari tradisional,” tegasnya.

Kedepannya, dikatakan Bunda Elly, mungkin ada workshop tambahan khusus untuk guru-guru tari di sekolah. Kkarena tadi kebanyakan guru-guru tari yang hadir lemah di gesture atau sikap tubuh. Padahal itu termasuk dalam gerak tari. Dan tarian khas Sumsel itu kuat sekali di Gesture, karena konsepnya lemah gemulai dan mengalir menyatu dengan alam.

Berkaitan dengan tema FLS2N Tari, itu sebenarnya sudah menjadi tugas guru seni tari, mungkin nanti dari hasil dari bincang Tari ini kita kumpul lagi dan kita lihat seberapa jauh kreativitas koreografi dari seorang guru untuk menciptakan gerak tari.

“Seorang guru atau penata tari diharapkan penekanan pada Wirasa, Wirama dan Wiraga ada anak didiknya karena itu memang milik seorang penari, dia harus menguasai gerak, punya perasaan yang dalam dan irama yang tepat,” ungkapnya.

Elly melanjutkan, FLS2N itu temanya memang selalu berubah dan terus berkembang. Jadi gerakan – gerakan yang berinovasi silakan saja mereka kembangkan dan mau mengambil dari mana temanya.

“Kita pancing kreativitas mereka untuk berkarya dan saya juga berpesan untuk anak – anak millenial cintailah kebudayaan kita,” terang Bunda Elly.

Sosialisasi Tema Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang dilakukan oleh Komite Tari DKP, sudah sangat tepat untuk menjaring dan menginformasikan, kepada lingkungan Sekolah Dasar (SD)  ataupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) . Sehingga nanti diharapkan peserta FLS2N kota Palembang bisa bersaing di tingkat Nasional dan menjadi juaranya.  Hal itu diungkapkan Budayawan Sumsel Dr. Erwan Suryanegara, M.Sn, usai Bincang Tari.

“Kebetulan tema tahun 2020 ini adalah kegiatan seni anak-anak yang sifatnya outdor atau arena. Tema yang berkaitan dengan lingkungan ini, baik itu pesisir dan lingkungan bersejarah, anak – anak diajak kembali untuk mengingat bahwa mereka atau leluhur dahulu bersatu dengan alam ” terang Erwan.

Kegiatan yang di lakukan oleh DKP ini, sudah menginformasikan kepada sekolah – sekolah, agar menyiapkan tema tari atau kegiatan yang berkaitan dengan tema nasional tersebut, dan tentunya mereka bisa memiliki waktu lebih panjang menyiapkan itu, agar dari informasi yang disampaikan oleh DKP ini bisa diolah kembali oleh guru-guru tari di sekolah masing-masing sehingga menciptakan kreativitas gerak baru dalam dunia tari khususnya di Palembang.

“Tema ini baik dan benar dan harus kita maksimalkan, agar tim kita dalam tingkat nasional nanti menjadi yang terbaik,”harap Erwan.

Sementara itu,  ditempat yang sama, Perwakilan dari Komite Tari DKP,  Sonia Anisah Utami, M.Sn mengatakan, kegiatan komite tari ini merupakan kegiatan hari ketiga dari perhelatan Pekan Seni yang digagas oleh DKP dan membedah membedah konsep ide dasar penciptaan tari kebudayaan kota Palembang

Lanjut Sonia, ada beberapa hal yang dibedah yang pertama menuju FLS2N seni tari 2020,  ada tiga tema yang diusung oleh FLS2N tersebut yakni anak dan lingkungan alam pesisir, anak dan lingkungan keseharian serta anak dan lingkungan budaya.

“Yang dibahas sekarang adalah untuk tingkat SD, rata – rata adalah inspirasi dari sebuah lokasi apakah itu museum, taman kota apakah itu sungai atau kah itu rumah, yang akan dirujuk sebagai ide penciptaan tari,” tutupnya.

Kegiatan Sepekan Seni DKP di hari ke -4, Kamis (13/2) diisi oleh komite Film. Selain workshop akting yang dipandu Jaid Saidi, juga ada workshop penyutradaraan film dokumenter oleh Ari Bulu, Screening Film oleh Silo Sandro, dan Bedah lima film pendek. [***]

Penulis  : Sir

Comments

Terpopuler

To Top