Ketika pendongeng lokal menghadirkan sejarah Nusantara lewat cerita yang dekat, lucu, dan membekas diingatan anak-anak
TAWA anak-anak memenuhi ruangan, mengalir tanpa jeda, mengikuti alur cerita tentang pala, cengkeh, dan perjalanan jauh Nusantara.
Mereka tak ada yang merasa sedang belajar sejarah, padahal di situlah sejarah sedang bekerja, pelan-pelan, lewat dongeng.
Apalagi di era digital terkadang sejarah sering kalah sebelum bercerita. Kalah dengan cara penyampaiannya sendiri. Terkadang juga terlalu kaku, terlalu jauh, terlalu sibuk mengejar hafalan.
Nah, di Palembang sendiri, sebuah panggung kecil justru menunjukkan sejarah itu bisa hidup, jika disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi.
Misalnya di sabtu pagi kemarin Gedung Kesenian Palembang, diadakan Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) Main Riang Roadshow 2025 bertema “Kisah Rempah”.
Di acara itu, dongeng menjadi pilihannya, karena bukan sekadar cerita pengantar tidur, dongeng pun menjelma menjadi senjata sunyi dan tanpa teriakan.
Bahkan tanpa spanduk, selain itu dongeng juga tanpa jargon literasi yang biasanya panjang tapi sering lupa dipraktikkan.
Di sanalah sejarah dilawan dari satu musuh paling berbahaya yaitu kata lupa, sebab dongeng bekerja persis seperti itu.
Dongeng ibaratnya pelan, tapi masuk dan santai, namun mengendap, kata pepatah “Kalau cerita ditinggalkan, jalan akan kehilangan penunjuk arah”
Oleh sebab itu dongeng menjaga agar arah itu tetap ada. Tidak mencolok, namun setia, dari panggung kecil dengan tujuan cerita terus berjalan menuju masa depan.
Jujur saja, anak saat ini (dan juga orang dewasa), sejarah sering terasa seperti makanan tanpa garam, penting, tapi hambar.
Kita hafal tahun, nama tokoh, dan peristiwa, tapi lupa rasanya. Lupa emosinya. Lupa kenapa cerita itu penting bagi hidup hari ini.
Padahal sejarah nusantara itu penuh warna. Ada rempah yang memikat bangsa “biji mata biru” (bangsa asing) datang jauh-jauh naik kapal, ada intrik dagang, ada perjumpaan budaya.
Semua itu sering disampaikan seperti membaca buku petunjuk lemari plastik bongkar pasang yang biasa dibeli mahasiswa yang baru nge-kos.
Sebenarnya anak-anak kita bukan tak suka sejarah, mereka cuma tak suka cara kita menceritakannya.
Di sinilah dongeng masuk pelan-pelan. Tanpa kapur tulis, tanpa ujian dan tanpa ancaman nilai merah.
Dongeng sebagai Perlawanan Sunyi
Di panggung kecil itu, para pendongeng lokal Palembang tidak sedang berorasi tentang nasionalisme.
Mereka hanya bercerita tentang pala, cengkeh, lada hingga perjalanan bahkan tentang manusia. Justru inilah letak perlawanannya yang bikin kita menarik mendengarnya.
Ketika dunia ribut dengan algoritma, tren, dan konten 15 detik, malah sebaliknya dongeng itu menjadi penghibur dan mengajak anak berhenti sejenak dan ikut membayangkan dari cerita dalam dongeng tersebut.
Bahkan di saat banyak program literasi sibuk mengejar laporan dan angka, dongeng bekerja tanpa laporan, tapi hasilnya nyata yang bikin anak-anak menjadi betah duduk berjam-jam.
Inilah disebut perlawanan tanpa teriak, seperti pepatah Palembang, “ Biar besak ngawak, asal bermanfaat, itu yang penting”
Yang menariknya lagi, dongeng rempah di Palembang tidak disampaikan dengan gaya museum, dingin dan jauh, serta dibumikan dengan logat local, dimbubui humoris serta interaksi sehingga bikin anak- anak menjadi betah tak membosankan.
Misalnya anak-anak diajak menebak, menirukan suara, tertawa bareng. Sejarah yang biasanya terasa punya orang pusat mendadak jadi cerita dari kampung sendiri.
Inilah yang sering luput dari kebijakan kebudayaan, sebenarnya jika kita sadari bahwa sejarah itu akan hidup, jika terasa dekat, bukan karena disuruh menghafal, namun harus bisa dirasakan.
Kita sadarin memang sering lupa, apalagi budaya itu bukan benda mati, sejarah bisa hidup jika bisa dipraktikkan.
Sebaliknya jika hanya disimpan di buku, sejarah akan pelan-pelan menjadi arsip yang dipajang di rak buku perpustakaan dengan kulit buku nampak kusam oleh debu.
Namun di tengah panggung itu tanpa kita sadari, satu momen simbolik yang terasa diam tetapi sangat penting manfaatnya, yaitu bocah mungil Bernama Akifa, ia pendongeng cilik Palembang, berdiri bercerita dihadapan ratusan orang.
Ia bukan sekadar lucu-lucuan seorang bocah tampil di depan umum. Tapi ber tanda dongeng memiiki regenerasi bahwa cerita tidak berhenti di satu generasi saja. Bak pepatah bilang, “tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”. Tapi itu hanya terjadi kalau ada yang meneruskan.
Kalau hari ini Akifa bisa berdongeng dengan menarik perhatian ratusan orang yang hadir, itu karena adanya ruang untuk Akifa, misalnya dikasih panggung dan ada orang dewasa yang menonton penampilannya sehingga tidak sibuk meremehkannya.
Mengapa cara sunyi itu justru efektif? sebab anak belajar bukan dari siapa yang paling pintar bicara, namun juga siapa yang paling dekat. Dongeng tidak datang sebagai guru yang menggurui, tapi sebagai teman bermain.
Inilah ironinya, terlalu sering ingin hasil instan, tapi lupa bahwa nilai paling dalam tersebut justru tumbuh dengan pelan.
Dongeng tidak menjanjikan ranking PISA, akan tetapi menanamkan rasa ingin tahu dan juga tidak menjual angka literasi, tapi membangun kebiasaan mendengar dan membayangkan, begitulah semua kecakapan itu lahir.
Jadi hidup di zaman yang gemar membesarkan hal-hal yang besar dan mengecilkan sederhana, perlu adanya renungan, sebab sering kali perubahan itu justru lahir dari hal yang kecil ke yang paling konsisten.
Oleh karena dongeng mengajarkan satu hal yang sangat penting dalam kehidupan yaitu, melawan lupa, kita tidak selalu perlu teriak, cukup cerita yang jujur, dekat, dan manusiawi.
Apalagi sejarah nusantara tidak kekurangan cerita, sejarah hanya kekurangan cara kita bercerita yang bisa bikin anak-anak betah.
Para pendongeng local di acara itu, dengan segala kesederhanaannya, telah menunjukkan jalan lain, yaitu
Jalan sunyi….
jalan pelan……
Namun jalan yang sampai dan penuh makna….
Jadi, ketika anak-anak pulang membawa tawa dan ingatan tentang rempah, sesungguhnya mereka juga membawa sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa memiliki.
Mungkin, disinilah disebut kepuasan dan kemenangan yang paling besar dari sebuah dongeng.
Karena dongeng tidak mengubah dunia hari ini, tapi menyiapkan manusia yang esok hari tak mudah lupa.
“Cak kato nenek aku dulu waktu aku masih kecik (kelas limo SD). Nak tedo perut aku gosok-gosoknyo biar cepet tedo, katonyo nak jauh jalannyo itu, ceritolah dulu asal-usulnyo.”
Nah, dengan dongeng ini, setidaknya dengan segala kelucuan telah melakukan itu, diam-diam, tapi pernuh makna, bisa bikin betah dan menyenangkan.(***)