Kamis, 5 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » “Mural Palembang, Tembok Jadi Kanvas Demokrasi Jalanan”

“Mural Palembang, Tembok Jadi Kanvas Demokrasi Jalanan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
  • visibility 1.125
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ORANG bilang “tembok punya telinga,” di Palembang sekarang tembok juga punya mulut yang cerewet, bedanya, mulutnya bukan ngomong pakai suara, tapi pakai warna, gambar, dan goresan cat. Ya, inilah suasana Palembang baru-baru ini, ketika Lomba Mural Graffiti Palembang sukses bikin jalanan jadi panggung seni yang tak kalah heboh dari konser dangdut keliling.

Bayangkan, tembok yang tadinya cuma jadi “korban iklan tambal ban 24 jam” atau “perangko politik lima tahun sekali” mendadak menjelma jadi kanvas demokrasi paling jujur. Anak muda, emak-emak kreatif, bahkan seniman kocak semua ikut nimbrung, kalau pepatah bilang, “bagai padi makin berisi makin merunduk,” nah mural ini ibaratnya makin banyak cat, makin tegak berdiri si tembok gagah memamerkan wajah baru kota.

Selama ini, jujur aja, wajah kota sering jadi korban branding, baliho caleg tersenyum penuh janji, spanduk diskon cuci motor, sampai poster pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan dari masuk angin sampai urusan jodoh. Tapi dengan hadirnya mural, tembok kini naik kasta.

Rasanya seperti dari kos-kosan sempit pindah ke apartemen mewah, tiba-tiba tembok bukan lagi ruang komersial, tapi jadi ruang ekspresi. Bayangkan betapa mahalnya ruang di kota,  bisa nongkrong aja udah harus bayar kopi, apalagi pengen bebas berekspresi?, mural ini kayak “warung kopi rakyat” versi visual gratis, terbuka, dan bisa dinikmati siapa saja.

Ada yang bilang demokrasi itu ribut di parlemen, ada juga yang bilang demokrasi itu nyoblos tiap lima tahun. Tapi di Palembang, demokrasi juga bisa lahir di tembok kusam di Simpang Charitas atau samping LP Perempuan.

Mural adalah bahasa rakyat paling meriah, yang nggak butuh mikrofon, nggak butuh kursi sidang, dan nggak perlu anggaran miliaran. Cukup ember cat, kuas, dan niat nekat, pesan pun sampai. Bedanya dengan baliho, mural nggak bisa dihapus pakai janji manis.

Kalau pepatah Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea,” setiap keberhasilan ada biayanya, tapi dalam mural, biayanya bukan duit, melainkan keberanian untuk menempelkan ide ke tembok publik. Di sinilah seni jalanan jadi demokrasi: siapa pun bisa bicara, asal berani menggoreskan warna.

Hasil karya para peserta lomba mural di Palembang ini bukan main-main, ada yang menggambarkan Ampera dalam bentuk tiga dimensi, ada yang melukis Ratu Sinuhun dan Ratu Dewa, ada juga yang menyelam ke dasar Sungai Musi, mencari “harta karun sejarah” dan menuliskannya dengan gaya nyentrik Born to make hystory (iya, salah eja, tapi justru itu bikin ngakak dan jujur!).

Mural ini ibarat cermin, warga Palembang sedang bercermin pada dirinya sendiri, dari Sungai Musi sampai pemimpin kotanya, dari bidar sampai ikon kota, semuanya dihadirkan di tembok. Kalau biasanya identitas kota hanya numpang lewat di brosur wisata, kali ini identitas itu menempel di dinding, jadi tontonan gratis bagi siapa saja yang lewat.

Jadi pengingat

Bahkan mural juga jadi ajang stand-up comedy visual, ada kritik sosial, ada sindiran politik, ada juga humor receh khas anak muda. Goresan mural sering lebih jujur daripada pidato resmi, kalau pidato bisa pakai retorika, mural pakai warna yang tak bisa ditutup-tutupi.

Seperti pepatah Minang kok ndak bisa dibilang, bisa digambar, kalau mulut terbatasi aturan, tangan bisa bicara lewat mural. Inilah seni jalanan, kocak tapi tajam, receh tapi reflektif.

Nah, di sini pertanyaan serius muncul apakah mural hanya boleh ada saat lomba resmi, atau bisa terus jadi bagian wajah kota?, kalau setelah lomba tembok kembali kosong, maka sayang sekali, ibarat pesta pernikahan mewah tapi setelah itu rumah kembali sunyi.

Idealnya, mural bukan hanya event tahunan, tapi budaya, karena kota bukan sekadar bangunan beton, melainkan tempat orang berbagi cerita, kalau tembok boleh dipakai untuk iklan besar-besaran, kenapa suara rakyat tidak boleh menempel di sana?

Lomba mural Palembang ini memberi kita pelajaran sederhana, bahwa ruang publik yang terbuka bisa bikin warga lebih bahagia. Tembok kota bisa jadi cermin, bukan hanya kaca etalase, dan mural bisa jadi pengingat, demokrasi bukan melulu urusan kursi kekuasaan, tapi juga soal siapa yang boleh bicara di ruang kota.

Kalau mural ini terus dipelihara, Palembang bisa terkenal bukan hanya dengan pempek kapal selam, tapi juga sebagai kota seni jalanan yang hidup dan meriah, bukankah lebih indah kalau orang datang ke Palembang bukan hanya untuk makan, tapi juga untuk menyaksikan kota yang bisa tertawa lewat temboknya?

Dari semua warna, kuas, dan cat, mural di Palembang telah menunjukkan bahwa ruang publik bisa jadi kanvas demokrasi. Tembok yang tadinya bisu kini pandai berceloteh, lomba mural bukan hanya kompetisi seni, tapi eksperimen sosial tentang bagaimana warga, pemerintah, dan seniman bisa berbagi ruang dengan cara kreatif.

Seperti pepatah lama dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, di Palembang hari ini, pepatah itu berubah dimana tembok berdiri, di situ mural berdendang.[****]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bisakah Politik Uang Tak Terjadi Di Pilkada Serentak 2020 di Sumsel ?

    Bisakah Politik Uang Tak Terjadi Di Pilkada Serentak 2020 di Sumsel ?

    • calendar_month Senin, 11 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.264
    • 0Komentar

    POLITIK Uang [Money Politic] dalam Pemilihan Presiden, Legistatif, Pilkada Provinsi /kota/kabupaten bukan barang langkah lagi, bahkan bukan rahasia lagi. Penyakit ini mungkin sudah menjadi tradisi di saat pemilihan langsung, dan bukan saja terjadi di Sumsel, namun Indonesia pada umumnya. Hanya satu kata memang target dari para kandidat, yakni menang sehingga berbagai cara untuk menang dalam berpolitik […]

  • Gubernur : Bantuan dari Inez Kosmetik Buktikan Emansipasi Wanita Lawan Covid-19

    Gubernur : Bantuan dari Inez Kosmetik Buktikan Emansipasi Wanita Lawan Covid-19

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.195
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H. Herman Deru optimis Covid-19 di Sumsel akan cepat teratasi jika penanganannya dilakukan dengan bersama-sama. Hal itu mengingat sampai saat ini Pemprov Sumsel telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak dalam upaya penanganan Covid-19 ini. Seperti pada, Selasa (21/4/2020) pagi, Pemprov Sumsel kembali menerima bantuan sedikitnya 1.000 botol hand sanitizer dari PT. Kosmetikatama […]

  • 13 Diamankan, Tiga Diantaranya WNA,  Polisi Ungkap Pinjol Iligal

    13 Diamankan, Tiga Diantaranya WNA, Polisi Ungkap Pinjol Iligal

    • calendar_month Kamis, 18 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 793
    • 0Komentar

    DITTIPIDEKSUS Bareskrim Polri menangkap total 13 tersangka jaringan aplikasi pinjaman online (pinjol) ilegal yang meneror seorang ibu di Wonogiri, Jawa Tengah, hingga bunuh diri karena terlilit utang akibat permasalahan tersebut. Polisi membeberkan peran ke-13 tersangka tersebut, di mana 3 di antaranya merupakan warga negara asing (WNA). Dirtipideksus Bareskrim Polri, Brigjen. Pol. Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., […]

  • Ajak Pemuka Agama Berkunjung ke Griya, Alex : Nanti Kita Makan Nasi Minyak

    Ajak Pemuka Agama Berkunjung ke Griya, Alex : Nanti Kita Makan Nasi Minyak

    • calendar_month Rabu, 17 Jan 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 919
    • 0Komentar

    Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya meningkatkan keimanan.

  • Butuh Regulasi Pemerintah Daerah untuk Wujudkan Program 1 Juta Rumah

    Butuh Regulasi Pemerintah Daerah untuk Wujudkan Program 1 Juta Rumah

    • calendar_month Selasa, 2 Jan 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.912
    • 0Komentar

    Jadilah pahlawan perumahan bagi masyarakat MBR, bangun rumah murah, tapi tidak murahan

  • Melumber di Off Road Adventure Off Road 2020

    Melumber di Off Road Adventure Off Road 2020

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 794
    • 0Komentar

    RATUSAN peserta Meluber (Melumpur Bersama) Off Road Adventure Off Road 2020 gelaran Jeep Plembang Nian Sriwijaya (JPNS) dengan tetap menggunakan protokol kesehatan, di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Sabtu, kemarin. Selain menjadi ajang mempererat silaturahmi para anggota JPNS, event, seperti ini juga ditargetkan dapat mengembalikan kejayaan Sumsel yang pernah melahirkan offroader berprestasi di Indonesia. Event […]

expand_less
WordPress Archive Golo – Directory & Listing, Travel WordPress Theme GoLock - Locksmith & Key Maker Service Elementor Pro Template Kit Gomedic – Medical Elementor Template Kit Gomo – Moving Company Elementor Template Kit Gon - Responsive Multi-Purpose WordPress Theme Gontli – Interior Multipurpose Template Kit Good Energy – Ecology & Renewable Power Company WordPress Theme Good Mood – Wine Shop WordPress Theme Good Tailor – Fashion & Tailoring Services WordPress Theme GoodLife – Magazine & Newspaper WordPress Theme