Seni & Budaya

Benang-Benang Asa dari Muba

ist

GEGAP gempita panggung Dekranas ke-45 di Balikpapan, di mana semua perajin dari berbagai sudut negeri berkumpul bak Avengers edisi lokal, terseliplah satu nama yang belakangan ini makin kinclong yakni, Gambo Muba. Kain tenun asal Musi Banyuasin ini bukan hanya menarik perhatian, tapi juga mengibarkan bendera bahwa kerajinan bisa naik kelas, asal dipoles dengan niat, semangat, dan sedikit bumbu promosi yang tepat.

Kita tak bisa lagi melihat kerajinan lokal seperti melihat jemuran di musim hujan nggak jelas keringnya kapan. Kini, produk lokal seperti Gambo Muba sudah tampil di runway pameran nasional, bahkan siap melenggang ke pasar internasional.

Ketua Dekranasda Muba, Ibu Hj. Patimah Toha, tampil di acara itu bukan sekadar selfie di depan booth atau ngicipin kue khas Kalimantan.

Beliau ikut menanam pohon di IKN, ikut gala dinner, dan yang paling penting ikut menanam semangat bahwa kerajinan Muba bukan kelas warung kelontong lagi, tapi sudah mulai mirip startup yang siap IPO (Initial Public Offering), kalau bisa dibilang begitu.

Gambo Muba bukan sembarang kain. Ia tenun ramah lingkungan, diwarnai dari bahan alami, dan dibuat bukan oleh mesin cetak China, tapi oleh tangan-tangan cekatan pengrajin lokal.

Ini bukan cuma soal mode, tapi juga narasi. Bayangkan, setiap helai benang dalam Gambo itu membawa cerita. Bisa jadi itu kisah Mak Atun yang sempat kesel karena benangnya kusut, atau kisah Pak Darno yang rela begadang demi menyelesaikan satu lembar pesanan pengantin.

Kalau mau jujur, negara-negara seperti Jepang dan India sudah lama memuliakan kerajinan tradisional mereka. Di Kyoto, misalnya, kain kimono dari Nishijin ori-nya bisa bikin kartu kredit ganti warna saking mahalnya. Tapi warga sana tidak hanya menjual barang, mereka menjual filosofi.

Nah, Muba pun bisa begitu. Gambo tak sekadar dijual per meter, tapi dijual bersama cerita, budaya, bahkan kearifan lokal “Tenunlah hidup dengan sabar, seperti menenun Gambo dalam sunyi yang penuh warna”

Perhelatan Dekranas itu ibarat pasar malam buat UMKM ramai, penuh warna, dan kadang kita lupa pulang karena terlalu asyik keliling. Tapi beda dengan pasar malam, yang ini tidak jualan mainan plastik atau lampu kelap-kelip, tapi jualan masa depan. Ketika Gambo Muba tampil di panggung nasional, itu artinya ekonomi lokal sedang naik daun. Bukan daun pisang, tapi daun emas.

Bandingkan dengan Bhutan, negara mungil yang dikenal karena konsep Gross National Happiness itu justru menjual kerajinannya sebagai bagian dari kebahagiaan nasional.

Syal tenun tangan dari Bhutan bisa laris manis di Paris, bukan karena warnanya yang norak, tapi karena ada kisah dan filosofi di baliknya. Kalau Bhutan bisa, Muba pun bisa. Hanya perlu konsistensi, kolaborasi, dan tentu saja promosi.

Tapi jangan pula kita terjebak dalam euforia pameran, jangan sampai Gambo Muba hanya berjaya di expo, lalu setelah itu balik lagi disimpan di lemari, kayak baju batik yang cuma dipakai pas kondangan. Harus ada strategi kesinambungan. Pembinaan pengrajin, digitalisasi pemasaran, pelatihan desain, dan tentunya, promosi lewat media sosial yang kini lebih ampuh daripada megaphone di simpang lima.

Kenapa tidak bikin kolaborasi dengan desainer muda? Atau bikin challenge TikTok bertema #GamboStyle? Bisa juga undang travel blogger buat lihat langsung proses pembuatannya di Muba. Ingat, di era sekarang, yang viral duluan itu yang menang, meskipun kadang logika kalah dari gimmick.

Buat daerah lain, ini peringatan keras,  eh… maksudnya motivasi manis, jangan cuma terpaku sama pertumbuhan ekonomi dari tambang, sawit, atau proyek tol.

Kerajinan dan budaya lokal adalah tambang yang tak akan habis selama ada manusia dan cerita. Selama masih ada nenek-nenek yang rajin menenun dan cucu-cucu yang bisa mengangkat ceritanya ke Instagram, ekonomi kreatif bisa tumbuh.

Mari kita jangan malu dengan warisan budaya sendiri. Jangan sampai kita sibuk memakai jaket denim Jepang tapi tak kenal kain sendiri. Jangan sampai kita bangga beli tas branded dari Milan, tapi gak tahu kalau nenek kita bisa bikin tas dari anyaman pandan yang tahan banting (dan kadang bisa dipakai ngasih pelajaran ke anak nakal).

Balikpapan memang jadi panggung kali ini, tapi Gambo Muba jadi bintangnya. Tenun ini bukan sekadar kain, tapi benang merah masa depan. Jika kita bisa mengolahnya, mempromosikannya, dan membingkainya dengan kebanggaan serta nilai tambah, bukan tidak mungkin Muba jadi ikon kerajinan nasional. Bahkan dunia.

Toh, seperti kata pepatah lokal yang belum tercatat di KBBI “Tenunlah masa depan dengan benang lokal, jangan sampai nasib kita dijahit negara orang”.[***]

Terpopuler

To Top