BRO, Sumatera Selatan baru aja bikin dunia tepok jidat alias ternganga, bukan karena pesawat tiba-tiba bisa terbang sendiri, tapi karena kelapa lokal kita bakal jadi bahan bakar pesawat alias Bio-Avtur.
Iya, kelapa yang biasanya cuma jadi teman minum santai di pinggir jalan sekarang bisa bikin Boeing naik kelas!
Hebat nggak! karena kelapa naik kelas, mulanya dari bahan untuk cemilan sekarang bakal jadi pilot.
Bahkan Gubernur H. Herman Deru, kalau naik motor aja bisa bikin rombongan kayak touring ke puncak Bukit Barisan, resmi menginjak gas groundbreaking PT Green Power Palembang di Tanjung Api-Api, Banyuasin, selasa (20/1/2026).
Kata beliau, “Ini bukan cuma pabrik, bro, energi fosil habis, kelapa jadi raja!”
Tapi jangan dulu senyum-senyum, bro. Kalau kita bongkar lebih dalam, proyek ini memang gila keren, tapi juga punya sisi gelap yang bisa bikin alis naik. Apalagi pabriknya aja seluas 9.500 m², investasi Rp310 miliar.
Diproyeksikan produksi 30.000 ton Crude Coconut Oil (CCO) per tahun, atau sekitar 100 ton per hari. Beratnya? jangan ditanya, sebab setara 50 gajah Afrika yang lagi ikut lomba tarik tambang!. hehehe..mantap!
Sisi positifnya jelas ekonomi lokal naik daun kelapa, pasalnya lebih dari 500 tenaga kerja terserap, rantai logistik petani kelapa dipangkas. Petani bisa senyum lebar tanpa mikir ongkos kirim sampai Jakarta.
Selain lingkungan lebih adem, sebab Bio-Avtur emisinya lebih rendah ketimbang avtur fosil. Boeing bisa terbang, Bumi nggak keringetan.
Tapi bro, ada sisi negatifnya juga dan tolong jangan di-skip, sebab bisa-bisa kelapa bisa mahal mendadak. Meski Banyuasin memang penghasil kelapa terbesar ke-6 di Indonesia.
Namun kalau pabriknya rakus banget, harga kelapa bisa melonjak setinggi-setinggi tugu monas di Jakarta. Petani kecil yang tadinya santai panen bisa tiba-tiba jadi “penyedia bahan baku wajib.”
Apalagi limbah pabrik, musuh diam-diam, setiap pabrik punya sisa produksi. Kalau limbah nggak dikelola baik, sungai bisa berubah jadi kolam aroma kelapa asam. Pepatah lama pas banget “Jangan sampai karena emas, desa jadi kelam.” itu harus dipikirkan juga.
Selain itu, karene teknologinya masih baru, jadi juga, Bio-Avtur masih relatif baru di Indonesia, bisa saja nantinya mesin error atau produksi nggak stabil?. Bisa-bisa investasi Rp310 miliar cuma jadi cerita horor buat investor.
Tapi, tenang, bro… solusinya ada, pemerintah bisa bikin pelatihan petani kelapa supaya kualitas bahan baku tetap oke dan harga stabil. Disamping itu, perusahaan juga bisa bikin manajemen limbah modern, biar sungai tetap bening dan warga bisa mandi tanpa aroma kelapa busuk.
Diversifikasi produk kelapa juga penting, kalau Bio-Avtur slow, petani tetap bisa jual kopra, santan, atau minyak goreng.
Ekosistem harus jalan
Menurut Bupati Banyuasin, H. Askolani, hari ini bersejarah. “Banyuasin nggak cuma penghasil kelapa, tapi juga potensi energi masa depan,” kata beliau sambil senyum lebar. Tapi bro, senyum doang nggak cukup kalau manajemen risiko absen.
Kalau nggak hati-hati, bisa-bisa yang terbang cuma Boeing, tapi desa dan petani malah kena efek samping.
Oleh karena itu, proyek ini besar, ambisius, strategis, tapi keberhasilan bukan cuma soal duit. Ekosistem harus jalan bareng, petani, pekerja lokal, lingkungan, dan teknologi.
Jadi kalau semuanya harmonis, ini bisa jadi warisan energi dan ekonomi untuk Sumsel, tapi kalau jalan sendiri-sendiri? bisa-bisa cuma jadi cerita lucu “dulu kelapa bikin pesawat, tapi sungai bau.”
Tapi tetap kita kasih jempol, sebab apa yang dilakukan PT Green Power Palembang merupakan langkah berani menempatkan Sumsel di panggung energi global.
Positifnya jelas, kan lapangan kerja, inovasi ramah lingkungan, harga kelapa stabil dan negatifnya juga nyata, mungkin tekanan pada petani, risiko teknologi, potensi limbah. Namun dari semua itu solusinya tetap ada, tinggal eksekusi ketat dan kontrol disiplin.
So, bro, kalau lihat proyek ini, kita bisa ngakak, kagum, dan belajar sekaligus. Kaya pepatah lama “Kalau mau hasil manis, jangan takut pahitnya.”
Dan Bio-Avtur ini manisnya besar, pahitnya? Harus diantisipasi biar nggak bikin perut sakit… secara harfiah maupun finansial. (***)