Langit Bumi Sriwijaya pada akhir Februari hingga awal Maret 2026 sedang mempertontonkan sebuah skenario alam yang luar biasa. Di bawah naungan bulan sabit Ramadan yang syahdu, pendaran merah lampion Cap Go Meh menyala dengan anggunnya. Ini bukan sekadar perayaan ganda; ini adalah pertemuan dua garis takdir yang hanya terjadi dalam siklus panjang tiga dekade sekali.
Bagi warga Palembang, momen merayakan Cap Go Meh di malam Ramadan tahun ini adalah sebuah kemewahan spiritual yang langka. Terakhir kali fenomena ini menyapa kita dengan kedalaman yang sama adalah di era 90-an, dan sejarah mencatat bahwa harmoni serupa baru akan kembali menyapa anak cucu kita pada tahun 2057.
Simfoni Cahaya di Tepian Musi
Tepat pada malam puncak Cap Go Meh, suasana di sepanjang tepian Sungai Musi berubah menjadi magis. Jika biasanya puncak hari ke-15 Imlek identik dengan keriuhan kembang api dan tabuhan tambur yang menggelegar, tahun 2026 menyajikan wajah yang berbeda: Sebuah perayaan dalam keheningan.
Lampion-lampion merah yang bergantungan di kawasan 10 Ulu dan Pulau Kemaro tetap menyala terang, namun mereka seolah “berbisik” untuk menghormati gema tadarus yang mengalun dari masjid-masjid tua. Tidak ada ego untuk saling mengungguli suara; yang ada hanyalah simfoni antara pendaran cahaya dan lantunan doa. Inilah potret toleransi tertinggi, di mana setiap kelompok masyarakat menjaga ruang sakral satu sama lain.
Ritual Pulau Kemaro dalam Balutan Kesucian
Pulau Kemaro, episentrum perayaan Cap Go Meh di Sumatra Selatan, tahun ini bersolek dengan lebih teduh. Ritual ziarah dan penghormatan leluhur dilakukan dengan penuh khidmat tanpa mengganggu kekhusyukan umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah malam Ramadan.
Pemerintah kota dan tokoh lintas agama telah menyepakati sebuah protokol rasa: festival tetap berjalan, namun dengan penyesuaian volume dan waktu. Saat jam menunjukkan waktu berbuka puasa, suasana di sekitar klenteng mendadak hangat dengan pembagian takjil. Sebaliknya, saat malam semakin larut dan jemaah tarawih berbondong-bondong pulang, cahaya lampion menjadi penuntun jalan yang indah di sepanjang dermaga.
Mengapa Ini Begitu Istimewa?
Fenomena ini disebut langka karena perbedaan mendasar dalam sistem penanggalan:
- Siklus 30 Tahun: Karena kalender Hijriah (berdasarkan bulan) maju sekitar 11 hari setiap tahun masehi, ia butuh waktu sekitar 31 tahun untuk kembali “berpapasan” dengan kalender Imlek (Luni-Solar) di titik yang sama.
- Akulturasi Kuliner: Tahun 2026 mencatat sejarah unik di mana Lontong Cap Go Meh menjadi menu takjil paling diburu. Perpaduan gurihnya opor ayam, telur pindang, dan bubuk kedelai menjadi jembatan rasa yang menyatukan lidah warga Palembang tanpa sekat keyakinan.
Menikmati Kemewahan yang Tak Terbeli
Momen merayakan Cap Go Meh di malam Ramadan 2026 adalah pengingat bahwa privasi dan rasa hormat adalah mata uang tertinggi di jaman sekarang. Kita belajar bahwa merayakan sesuatu tidak harus selalu bising; ada kekuatan yang lebih besar dalam kesunyian yang saling menghargai.
Jangan lewatkan kesempatan untuk sekadar berdiri di pinggir Jembatan Ampera pekan ini. Lihatlah ke bawah, ke arah sungai, di mana pantulan bulan sabit dan lampion merah menari di atas air yang sama. Rekam momen ini baik-baik, karena Anda harus menunggu hingga tiga puluh tahun lagi untuk bisa merasakan atmosfer yang seajaib ini kembali.