Banjir Belitang dan tradisi lama yang kembali dicari
GOTONG royong itu sekarang nasibnya mirip genset. Sehari-hari jarang disentuh, tapi begitu listrik mati atau banjir datang, semua orang langsung teriak, “Kemana gotong royong?” Jumat (9/1/2025) kemarin, (jawabnya lagi ngumpulin warga sekampung) … saat banjir merendam Desa Nusa Jaya sampai Raman Jaya di Kecamatan Belitang II, Kabupaten OKU Timur, genset sosial itu kembali dinyalakan.
Air naik pelan tapi konsisten. Awalnya cuma betis, tahu-tahu sudah setinggi dada. Di kampung, tanda banjir itu sederhana motor lebih sering didorong daripada dinaiki, kursi plastik mulai mengapung, dan sandal jepit kehilangan identitas. Tapi yang menarik, di tengah genangan, warga Belitang tidak tenggelam dalam panik. Yang muncul justru kebiasaan lama yang sempat terlupakan gotong royong.
Bagi generasi 90-an ke bawah, gotong royong itu bukan reaksi darurat, gotong royong adalah rutinitas, biasanya dilaksanakan minggu pagi. Tanpa undangan, tanpa aba-aba dari RT, lurah, camat, apalagi wali kota. Warga sudah tahu perannya masing-masing. Ada yang bersihkan parit, ada yang timbun jalan berlubang, ada yang nanam pohon. Kopi diseduh, canda dilempar, kerja jalan. Tidak datang? Siap-siap dicari bukan pakai surat, tapi pakai sindiran.
Sekarang, tradisi itu pelan-pelan terkikis. Parit dibiarkan sampai jadi museum lumpur. Jalan rusak menunggu proyek, pohon ditebang, lupa diganti. Gotong royong bukan hilang, tapi jarang dipakai sampai akhirnya banjir datang sebagai alarm keras.
Di Belitang II, saat air naik, warga bergerak tanpa rapat resmi, barang tetangga diangkat ramai-ramai. Perahu pinjaman jadi transportasi umum dan dapur umum berdiri dari patungan. Gotong royong yang lama tertidur mendadak bangun dan langsung kerja lembur.
Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru yang turun langsung ke lokasi melihat sendiri situasi itu. Yang ia cek pertama bukan hanya genangan, tapi keselamatan warga.
“Hal pertama yang saya cek adalah apakah ada korban jiwa atau tidak. Alhamdulillah tidak ada,” ujarnya.
Kepedulian kolektif
Oleh sebab itu, kalimat ini penting, nihil korban jiwa bukan hasil keberuntungan. Itu buah dari kepedulian kolektif.,warga saling mengingatkan, saling membantu evakuasi, saling jaga. Gotong royong bekerja sebelum air benar-benar tinggi.
Secara data, banjir ini bukan cerita kecil. Camat Belitang II, Suyadi, melaporkan dari 24 desa, ada 8 desa terdampak. Sebanyak 871 rumah terendam dan 692 hektare sawah ikut kebanjiran. Di wilayah Belitang Mulia, Camat Sigit HY menyebut 5 desa terdampak, 126 rumah terendam, dan 243 hektare lahan pertanian tergenang. Angka-angka ini berat, tapi tidak mematikan semangat warga.
Dalam kunjungan itu, Herman Deru didampingi Anggota DPD RI dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, M.M., menyerahkan bantuan sembako dan memastikan infrastruktur masih relatif aman. Ia juga menegaskan agar kewaspadaan dijaga dan koordinasi terus berjalan.
Soal sawah yang terendam, harapan tidak ikut hanyut. Herman Deru memastikan setelah banjir surut, Pemprov Sumsel akan memberikan bantuan benih agar petani bisa segera tanam kembali. Pendataan diminta cepat, supaya bantuan tidak nyasar ke sawah yang cuma kebagian cipratan.
Banjir Belitang memberi pelajaran yang sering kita abaikan, yaitu gotong royong jangan cuma dipanggil saat musibah, gotong royong itu bukan alat pemadam kebakaran sosial, sebab menjadi fondasi. Kalau dulu parit rutin dibersihkan, jalan dirawat bersama, pohon ditanam ramai-ramai, mungkin air tidak mudah mampir ke ruang tamu.
Kalau gotong royong dirawat di hari cerah, banjir mungkin tidak perlu sering datang sebagai pengingat, air pasti surut. Aktivitas akan pulih. Tapi jangan sampai setelah itu, gotong royong kembali disimpan di gudang dan hanya diingat saat alarm berbunyi lagi. Karena sejatinya, gotong royong bukan tradisi usang, sebab menjadi kebiasaan baik yang terlalu sering kita tunda. (***)