Bandar jangan sampai ‘Cetak’ kurir desa
ADA bunyi yang tidak bisa di-mute, bukan suara notifikasi WA grup keluarga atau RT, bukan pula suara knalpot motor tengah malam. Kamis (22/1/2026).
Bunyi itu datang dari GOR Kabupaten Lahat, tabuhannya tegas bahkan suaranya bulat, mantap, dan bernada perlawanan, irama perang itu, ya.. perang terhadap narkoba.
Sekali ditabuh, artinya serius, tidak main-main, tidak juga buat lucu-lucuan, tidak buat penggugur kewajiban, ini serius, genderang yang bilang, “cukup, sudah kebablasan.”
Lahat berdiri di depan, Muba juga datang tidak sekadar menonton. Wakil Bupati Musi Banyuasin, Kiai Abdur Rohman Husen, ikut hadir. Bukan bawa genderang sungguhan, tapi bawa pesan yang beratnya bisa bikin meja rapat miring, narkoba itu musuh bersama, bukan urusan tetangga.
Narkoba sekarang tidak lagi tampil sangar, tidak pakai wajah garang, penampilannya santai, duduk manis. Istilah ngopi, ngobrol lalu menyusup pelan-pelan. Sekali lengah, tahu-tahu sudah terjebak.
Kepala BNN RI, Komjen Pol Mathinus Hukom, tidak bicara pakai perumpamaan manis. Ia lempar data ke meja sebab 1.719 wilayah di Sumatera Selatan masuk kategori siaga narkotika.
Angka ini bukan hiasan slide, ini tanda bahaya.
Apalagi, bandar narkoba bekerja seperti pabrik, terstruktur, rapi, ada target, ada jenjang karier. Mulai dari coba-coba, naik jadi pemakai, lanjut pecandu, lalu promosi jabatan jadi kurir.
Dan desa saat ini menjadi sasaran empuk, kenapa? karena desa punya anak muda, punya ruang kosong, dan sering dianggap aman.
Kalimat Komjen Mathinus Hukom ini terasa seperti sirene “Jangan sampai bandar berhasil mencetak kurir di tingkat desa.”
Desa seharusnya mencetak gabah, bukan mencetak masalah.
Di tengah kondisi genting, Kabupaten Lahat memilih jalur tidak populer, kerja nyata, tidak berhenti di deklarasi. Tidak puas dengan baliho bertuliskan slogan.
Lahat menyiapkan rumah sakit khusus rehabilitasi narkoba.
Ini langkah berani, pasalnya melawan narkoba itu tidak cukup dengan borgol. Ada manusia yang harus disembuhkan, ada pula generasi yang masih bisa diselamatkan dari jalan buntu.
Pecandu bukan aktor utama. Mereka korban dari permainan besar, dan korban perlu ditolong, bukan diusir.
Wakil Gubernur Sumsel, Cik Ujang, menyampaikan kenyataan pahit. Narkoba telah masuk desa. Tidak lagi sopan, tidak lagi malu.
Desa sekarang bukan penonton, desa berada di garis depan, bahkan dana desa juga ikutan menentukan arah. Dana ini bisa berubah menjadi benteng, bisa pula menjadi lubang.
Oleh sebab itu, pemuda desa yang sibuk berlatih, berusaha, dan berkarya tidak punya waktu buat narkoba. Lapangan hidup, UMKM jalan, pelatihan ada, ruang kreatif terbuka. Di situ narkoba kehilangan panggung.
Namun sebaliknya desa yang sepi kegiatan biasanya ramai gosip, ramai masalah.
Wakil Bupati Muba mengingatkan hal paling sederhana, sekaligus paling sering dilupakan. Perang narkoba dimulai dari rumah.
Bukan dari status media sosial, bukan dari caption panjang. Tapi dari obrolan nyata antara orang tua dan anak. Dari kepedulian yang konsisten, bukan musiman.
Narkoba tidak pernah datang sambil teriak. Ia datang sambil senyum. Rayuan selalu lebih berbahaya dari ancaman. Sekali orang tua abai, narkoba masuk sebagai teman. Sekali lingkungan diam, bandar bekerja tanpa gangguan.
Keren itu tidak hancur
Narkoba bukan gaya hidup, bukan simbol pergaulan, bukan tiket cepat menuju sukses. Keren itu sehat, keren itu punya tujuan dan keren itu pulang ke rumah tanpa menyembunyikan apa pun.
Jadi generasi bebas narkoba merupakan aset terbesar daerah. Tanpa generasi sehat, pembangunan hanya jadi laporan tebal tanpa isi. Jalan mulus tidak ada artinya saat pemudanya tumbang satu per satu.
Genderang perang telah ditabuh dari Lahat, Muba ikut menabuh. Gema suaranya menyebar ke seluruh Sumatera Selatan. Perang ini panjang. Perang ini melelahkan. Namun perang ini tidak bisa ditinggalkan. Semua harus turun tangan.
Makanya desa seharusnya mencetak petani tangguh, pengusaha muda, pemimpin masa depan, bukan mencetak kurir narkoba.
Bandar jangan diberi ruang.
Desa jangan dibiarkan kosong.
Generasi harus diselamatkan.
Karena desa seharusnya mencetak masa depan, bukan kehancuran. (***)