Ketika Bank Daerah Bertahan di Tengah Badai Aplikasi & Ekspektasi Nasabah, Hasilnya Peringkat Pertama Nasional SLE Index 2026 kategori Bank Pembangunan Daerah.
HIDUP manusia belakangan ini makin mirip notifikasi, misalnya bangun tidur refleks cari ponsel, mau tidur tangan masih sibuk scroll layar. Bahkan sebelum sempat mikir masa depan, jempol sudah lebih dulu bekerja.
Kita sadari, memang dunia bergerak sangat cepat, dan industri perbankan ikut ketularan hiperaktif. Bank berlomba tampil paling digital, paling cepat, paling sat-set, sampai nasabah kadang bingung sendiri, “Mau nabung, atau sedang ikut audisi lomba kecepatan jempol nasional?”
Di tengah hiruk-pikuk itu, Bank Sumsel Babel justru terlihat santai, bukan santai malas, namun santai bahwa orang yang tahu apa yang sedang Bank SumselBabel kerjakan. Saat banyak bank sibuk memamerkan fitur baru, seperti pedagang gorengan yang tiba-tiba jual es krim, kopi, dan cilok sekaligus, Bank Sumsel Babel memilih fokus, layanan jalan, nasabah tenang. Hasilnya? Peringkat pertama Nasional SLE Index 2026 kategori Bank Pembangunan Daerah. Juara bertahan, bukan juara yang datang karena viral, tapi karena sebuah kata konsisten.
Industri perbankan hari ini rasanya seperti pasar malam. Lampunya terang, gemerlap, musik keras, promo teriak-teriak. Bank digital datang membawa jargon bahasa Inggris yang terdengar canggih, meski kadang nasabah cuma paham setengahnya.
Bahkn, Fintech berlomba kasih kemudahan serba instan, seolah semua urusan keuangan bisa beres sambil nunggu lampu merah. Di tengah suasana seperti itu, Bank Sumsel Babel tidak ikut joget. Ia berdiri seperti pedagang lama yang tahu betul, pelanggan tidak datang karena lampu warna-warni, tapi karena percaya kualitas dagangannya.
Meski demikian, digitalisasi tentu tetap digarap, aplikasi ada, sistem diperbarui, layanan online diperkuat, namun ada satu prinsip yang tampaknya dijaga ketat, yaitu jangan sampai teknologi bikin nasabah merasa sendirian. Sebab secanggih apa pun aplikasi, tetap saja tidak bisa menggantikan rasa aman ketika tahu ada manusia di balik sistem.
Banyak layanan digital hari ini cepat, tapi dingin. Cepat, tapi kalau bermasalah, nasabah disuruh sabar sambil membaca FAQ sepanjang skripsi. Oleh karena itu, capaian SLE Index 2026 ini menarik, karena mengukur lebih dari sekadar kepuasan sesaat.
Ia bicara tentang loyalitas dan keterikatan. Bahasa sederhananya, nasabah bukan cuma senang, tapi betah. Dalam dunia yang serba coba-coba, betah itu barang langka. Banyak aplikasi diunduh karena penasaran, lalu dihapus karena kecewa. Bank Sumsel Babel berhasil lolos dari siklus itu, dan nasabah datang, tinggal, dan kembali.
Relevan lebih penting
Ada satu pepatah lama yang relevan yaitu “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.” Kepercayaan tidak dibangun lewat satu fitur baru atau satu kampanye iklan bernada bombastis. Kepercayaan itu tumbuh dari hal-hal kecil yang sering tidak masuk poster promosi, antrean yang tidak bikin emosi, petugas yang tidak jutek, sistem yang jarang error di tanggal tua, dan solusi yang tidak bertele-tele.
Sebagai bank pembangunan daerah, tantangannya justru dobel, misalnya di satu sisi harus bersaing dengan pemain nasional dan digital, di sisi lain tetap memikul tanggung jawab ekonomi daerah.
Bahakn tidak bisa asal cepat lalu lupa masyarakat yang masih belajar adaptasi. Tidak bisa ikut tren membabi buta lalu meninggalkan yang tertinggal. Bank Sumsel Babel tampaknya paham betul, modern itu penting, tapi relevan jauh lebih penting.
Menjadi juara bertahan di tengah gempuran digital ibarat menjaga warung tetap laris saat minimarket buka 24 jam di depan rumah. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan menjaga rasa, pelayanan, dan kepercayaan. Bank Sumsel Babel memilih merawat itu semua. Bukan strategi yang heboh, tapi terbukti efektif.
Yang patut dicatat, prestasi ini tidak dibungkus dengan sikap paling benar sendiri. Tidak ada kesan tepuk dada berlebihan. Justru sebaliknya, posisi puncak ini seperti alarm salah langkah sedikit, kepercayaan bisa runtuh. Dalam dunia pelayanan, reputasi itu seperti gelas kaca sekali retak, susah kembali mulus.
Jadi, tetap juara di tengah gempuran digital bukan soal siapa paling canggih, namun siapa paling konsisten menjaga hubungan. Teknologi bisa ditiru, fitur bisa disamai, tapi kepercayaan dibangun dengan waktu dan sikap.
Oleh sebab itu, SLE Index 2026 memberi pesan sederhana, tapi penting untuk Bank Sumsel Babel, namuna semua perbankan, di era serba cepat dan serba ribut, publik masih menghargai layanan yang tenang, manusiawi, dan bisa diandalkan. Bank Sumsel Babel membuktikan, menjadi modern tidak harus kehilangan akal sehat dan menjadi juara tidak perlu banyak teriak. (***)