Pendidikan

“Taruna Nusantara Jadi Influencer, Hobi Bisa Jadi Bisnis Masa Depan”

foto : ekraf

PEPATAH lama “Alah bisa karena biasa,” kini punya versi modern  “Hobi bisa jadi bisnis, kalau kreativitas dan semangatmu nyala terus,” siapa yang membuktikannya? Para siswa dan siswi SMA Taruna Nusantara yang baru-baru ini menerima audiensi dari Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, di kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, kemarin.

Bahkan sekelompok remaja berseragam biru ini, duduk di ruang rapat modern, serius mencatat, tapi juga sesekali saling berbisik. “Wah, ini bisa dicoba di sekolahku.”

Mereka bukan sekadar tamu undangan biasa Taruna Nusantara dipilih karena reputasinya dalam mendidik generasi muda berdisiplin tinggi, berwawasan nasional, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

Sekolah ini dianggap sebagai laboratorium pembentukan karakter dan inovasi, sehingga cocok untuk melahirkan influencer kreatif yang bisa mengamplifikasi narasi positif ekonomi kreatif ke seluruh Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Menteri Ekraf membagikan tiga nilai kepemimpinan inti, yaitu empati, konsistensi, dan resiliensi. Menurut Pak Riefky, empati berarti mampu merasakan kebutuhan masyarakat, konsistensi berarti menjaga integritas dan disiplin dalam melihat peluang industri kreatif, resiliensi adalah daya tahan dan semangat pantang menyerah.

“Tiga ‘superpower’ ini penting supaya kalian bisa melihat peluang dari hobi dan menjadikannya bisnis nyata,” ujarnya.

Menariknya, pendekatan hexahelix Kementerian Ekraf juga diperkenalkan oleh Gemintang Kejora Mallarangeng, Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Strategis dan Antar Lembaga.

Gemintang menjelaskan  kolaborasi antara pemerintah, bisnis, akademisi, asosiasi, media, dan lembaga keuangan bisa membuka peluang besar bagi generasi muda.

“Anak-anak muda sekarang senang bekerja dari passion atau hobi mereka. Kalau bisa memanfaatkan itu, peluang industri kreatif terbuka lebar,” tambahnya.

Peserta juga sempat bertanya tentang tantangan pendanaan, akses pasar, dan pengembangan keterampilan di sektor ekonomi kreatif. Salah satu siswa, Atiqah Ramadina Wardani, menjelaskan “Pak Menteri sangat ramah dan menjelaskan dengan tenang. Kami jadi sadar kalau hobi bisa dijadikan peluang nyata, bukan sekadar main HP.”

Bahkan, siswa lain dari Taruna Nusantara yang hadir Fahrezi Audriantama Raditya, Danish Fikri Ferdinand, Aqila Febria Putri Hermawan, Callista Dhiandra Ghassani, Benediktus Jonathan Putra Patria, dan Athar Umar Rasyid juga mendapat kesempatan membangun ide kreatif dan jejaring kolaboratif.

Kalau dilihat dari negara lain, konsep ini juga sudah terbukti sukses, di Finlandia menekankan passion-based learning, di mana siswa bisa mengubah game edukatif menjadi startup. Lalu Jepang mengajarkan siswa SMK membuat animasi atau cosplay profesional yang dijual secara internasional.

Bahkan Amerika Serikat punya program high school entrepreneurship untuk mengubah konten digital menjadi sumber pendapatan. dan Australia mendorong creative industries sejak SMA, mempraktikkan musik, desain grafis, dan produksi video sebagai usaha nyata.

Narasi positif

Dengan belajar dari pengalaman internasional dan penerapan nilai kepemimpinan tadi, Taruna Nusantara memiliki potensi besar mencetak generasi influencer kreatif yang mampu membawa narasi positif tentang ekonomi kreatif ke seluruh Indonesia.

Oleh sebab itu, generasi muda harus berani mengubah passion menjadi peluang nyata, belajar disiplin, dan tahan banting menghadapi tantangan.

Dengan demikian,  modal empati, konsistensi, dan resiliensi, mereka bukan hanya siap bersaing, tetapi juga menjadi inspirasi bagi teman-teman sebaya di seluruh Nusantara.

Jadi, kunjungan Menteri Ekraf ke Taruna Nusantara bukan sekadar ceremonial photo session, namun bisa dikatakan investasi jangka panjang untuk Indonesia Emas 2045,  sebab tujuannya  membekali generasi muda untuk mengubah hobi menjadi bisnis kreatif, membangun jejaring, dan menjadi agen perubahan ekonomi kreatif.

Oleh karena itu, ketika hobi dikombinasikan dengan kreativitas, disiplin, dan semangat pantang menyerah, pepatah “Alah bisa karena biasa” menjadi strategi nyata untuk mencetak pemimpin kreatif masa depan.

Taruna Nusantara siap menjadi inkubator influencer kreatif yang menyalakan potensi ekonomi kreatif Indonesia. (***)

Terpopuler

To Top