Sumselterkini.co.id, – Pemerintah mulai mengubah cara menyiapkan lulusan vokasi industri. Bukan lagi sekadar mengandalkan kurikulum dan praktik kerja, tetapi memetakan minat, bakat, serta karakter siswa sejak dini menggunakan sistem asesmen berbasis data dari Eropa.
Program ini dijalankan Kementerian Perindustrian melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) dengan menggandeng PT Markija Berdaya Bersama. Perusahaan tersebut membawa metode asesmen yang dikembangkan oleh Hungarian Practiwork.
Kerja sama diteken pada 10 Februari 2026 dan langsung diikuti uji coba kepada masing-masing 50 siswa di empat unit pendidikan vokasi Kemenperin Politeknik AKA Bogor, Politeknik APP Jakarta, Politeknik STMI Jakarta, dan SMK-SMAK Bogor.
Yang dilakukan bukan tes akademik biasa. Sistem Practiwork memetakan kecenderungan kepribadian, pola kerja, kemampuan analitis, hingga kecocokan terhadap jenis jabatan tertentu di sektor industri. Hasilnya berupa profil individu lengkap dengan rekomendasi posisi kerja yang dinilai paling sesuai.
Langkah ini diambil karena persoalan mismatch tenaga kerja masih menjadi tantangan. Tidak sedikit lulusan vokasi yang memiliki keterampilan teknis, tetapi bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan potensi atau karakter pribadinya. Dampaknya terlihat pada rendahnya produktivitas dan tingginya perpindahan kerja di tahun-tahun awal.
Dengan pendekatan berbasis data, BPSDMI ingin mempersempit jarak antara ruang kelas dan kebutuhan riil industri. Hasil asesmen akan menjadi bahan pertimbangan dalam pembinaan lanjutan, termasuk penguatan kompetensi spesifik sebelum siswa lulus.
Direktur Utama PT Markija Berdaya Bersama, Csongor Hunyar, menyebutkan model ini sudah digunakan di berbagai sektor industri Eropa untuk membantu perusahaan menemukan kandidat yang lebih tepat. Sementara CEO Hungarian Practiwork, Akos Zsuffa, menilai pasar kerja modern menuntut keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita laman resmi kemenperin menegaskan penguatan industri nasional harus dimulai dari ketepatan penyiapan manusianya. Menurut dia, kebijakan industri akan lebih efektif jika didukung tenaga kerja yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berada di posisi yang sesuai dengan potensi dan karakternya.
BPSDMI menyatakan evaluasi akan dilakukan setelah tahap uji coba selesai. Jika hasilnya menunjukkan peningkatan kesiapan kerja dan keterserapan lulusan, sistem ini akan diperluas ke unit pendidikan lainnya.
Di tengah persaingan global yang makin ketat, langkah ini menjadi sinyal bahwa pendidikan vokasi tak lagi hanya soal lulus dan bekerja. Yang mulai dihitung sekarang adalah kecocokan. Sebab di dunia industri, satu orang di posisi yang tepat bisa lebih berharga daripada sepuluh orang yang salah tempat. (***)