Pendidikan

PKKMB Aman & Nyaman, Selamat Tinggal Plonco, Selamat Datang Sambutan Hangat

kemdiktisaintek.go.id

– “Mahasiswa baru kini disambut senyum, bukan suruh push-up, orientasi kampus berubah jadi ajang edukasi, bukan intimidasi”

DULU, awal masuk kuliah itu rasanya seperti ikut wajib militer versi anak kos. Ada baris-berbaris di bawah terik matahari, ada senior yang suaranya menggelegar seperti toa masjid di pagi buta, dan ada daftar bawaan absurd, map warna ungu, kacang rebus tiga biji, plus foto presiden dicetak di kertas A4. Katanya sih buat “melatih kekompakan”. Padahal yang kompak justru kulit muka kita yang gosong bareng-bareng.

Tapi itu cerita tempo doeloe., zaman ketika ospek masih disamakan dengan “ujian ketahanan fisik” ketimbang pengenalan kampus. Sekarang, di era PKKMB Aman dan Nyaman, mahasiswa baru tak lagi disambut dengan bentakan, tapi dengan senyuman. Tidak ada lagi cerita dipaksa jalan jongkok keliling lapangan sambil bawa galon. Sebagai gantinya, ada seminar inspiratif, tur kampus yang nyaman, dan sesi kenalan yang bikin akrab tanpa harus malu-malu kucing.

Seperti pepatah lama bilang, “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Begitu pula kampus sekarang, bukan zamannya lagi menggodok mental mahasiswa baru dengan teriak-teriak atau nyuruh push-up di parkiran.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, sudah menegaskan PKKMB adalah pintu gerbang akademik, bukan ring tinju.

Kalau dulu mahasiswa baru diuji mental dengan “tugas unik” macam membawa batu bata dibungkus kado, kini tugasnya lebih beradab, misalnya membuat esai tentang visi hidup, atau membuat poster anti-bullying. Senior zaman dulu mungkin akan bilang, “Ah, nggak seru.” Tapi justru di situlah serunya, karena kampus mulai paham bahwa membentuk karakter tidak harus lewat intimidasi.

Misalnya, seperti cerita kisah fiksi ini (tapi mirip kenyataan) sebut saja namanya Rani, mahasiswa baru dari Lampung yang berangkat kuliah ke Jakarta.

Dia sempat deg-degan mendengar cerita kakaknya soal ospek, katanya, “Nanti kamu pasti disuruh joget di depan umum, Ran.” Tapi ternyata, di hari pertama PKKMB 2025, yang menyambutnya adalah pembawa acara ceria, panitia ramah, dan dosen yang membahas etika akademik sambil bercanda.

Rani pun bengong sambil berpikir, “Lho, kok malah kayak ikut seminar motivasi?, mana bentakan seniornya?” panitia menjawab dengan senyum. “Di sini nggak ada perploncoan. Ran, kita mau kamu betah”, seperti kata pepatah, “Air beriak tanda tak dalam, sambutan ramah tanda kampus aman”.

Kampus yang aman dan nyaman adalah investasi jangka panjang, mahasiswa baru yang disambut dengan rasa hormat akan merasa punya ikatan emosional dengan almamaternya, dari ikatan itulah lahir loyalitas, motivasi, dan rasa tanggung jawab.

Coba, jika PKKMB masih diisi bentakan dan hukuman fisik, mahasiswa akan memulai kuliah dengan perasaan terancam, bukan bersemangat,  dan, seperti pepatah Jawa bilang, “Witing tresno jalaran saka kulino”, rasa cinta tumbuh karena terbiasa, kalau dari awal sudah terbiasa disambut hangat, mahasiswa akan jatuh cinta pada kampusnya, bukan malah mencari cara cepat-cepat pulang ke rumah.

Ganti tradisi

Direktur Belmawa, Beny Bandanadjaja, juga menegaskan paradigma lama harus ditinggalkan. Tidak ada lagi “penggodokan” lewat kekerasan fisik atau verbal. PKKMB harus jadi ruang pembinaan, bukan ajang unjuk kuasa.

Kalau mau bikin mahasiswa tangguh, bukan dengan teriak-teriak di kupingnya, tapi dengan memberi pengetahuan dan keterampilan. Ibarat menanam pohon, kalau bibitnya disiram dengan air bersih dan dijaga dari hama, pohon itu akan tumbuh kokoh, tapi kalau dari awal sudah dipukul-pukul pakai kayu, ya bisa patah sebelum berbuah.

Buat mahasiswa baru, kampus itu seperti rumah kedua bedanya, di sini semua penghuninya punya laptop, dan wifi jadi sumber kehidupan. PKKMB yang aman dan nyaman ibarat pesta penyambutan di rumah baru. Ada yang ngasih tahu di mana dapurnya (baca: kantin), di mana ruang tamunya (baca: aula), dan di mana kamar pribadinya (baca: ruang belajar).

Kalau pesta penyambutannya menyenangkan, penghuni barunya akan betah, kalau resepsinya penuh bentakan, ya… siap-siap saja besok pintunya diketuk tukang ojek online karena penghuninya kabur.

Larangan perploncoan bukan cuma soal “mengurangi drama ospek”. Ini tentang menjaga martabat manusia. Tidak ada orang yang terhormat, karena merendahkan orang lain. Dalam lingkungan akademik, nilai ini harus jadi pondasi, sebab, kampus bukan sekadar pabrik ijazah, tapi tempat pembentukan karakter.

Kata pepatah, “Kalau ingin cepat, berjalanlah sendiri, kalau ingin jauh, berjalanlah bersama-sama” PKKMB yang sehat mengajarkan mahasiswa baru untuk berjalan bersama, saling menghargai, dan membangun relasi positif, karena perjalanan kuliah itu panjang, dan tidak ada yang mau menempuhnya sambil menggendong trauma.

Transformasi PKKMB dari era perploncoan ke era aman dan nyaman adalah langkah maju yang layak diapresiasi. Dari sekadar ajang “uji nyali” menjadi momen “uji solidaritas”. Dari intimidasi menjadi edukasi.

Oleh karena itu, sambutan hangat akan melahirkan generasi yang kuat, kekuatan yang dibentuk bukan dari fisik yang dipaksa jongkok lima menit, tapi dari rasa percaya diri, integritas, dan kemampuan beradaptasi.

Mahasiswa baru adalah tamu istimewa kampus, mereka datang dengan mimpi, harapan, dan rasa penasaran. Jangan sambut mereka dengan bentakan atau tugas aneh-aneh, sambutlah dengan senyum, bimbingan, dan rasa hormat.

Karena, seperti pepatah Melayu bilang, “Kalau tak kenal maka tak sayang, kalau sudah sayang maka akan menjaga”. PKKMB adalah kesempatan emas untuk membuat mereka kenal dan sayang pada kampusnya. Dan kalau sudah sayang, mereka akan menjaga nama baik almamater sampai kapan pun.[***]

Terpopuler

To Top