ADA kalanya kita menatap wajah generasi muda zaman sekarang dan merenung dalam hati, “Ini anak-anak habis main bola atau habis debat politik di TikTok ya?”. Banyak dari mereka yang sudah hafal harga kopi literan tapi bingung kalau disuruh nyebutin nama pahlawan nasional. Untungnya, masih ada yang waras dan bukan cuma waras, tapi juga waras berjamaah. Ya, mereka adalah anak-anak Karang Taruna Kota Palembang yang sedang menyiapkan Bulan Bakti Karang Taruna 2025. Kegiatan yang kalau dibikin filmnya, bisa diberi judul “Aksi Nyata di Tengah Stiker Instastory”.
Dalam suasana penuh semangat (dan semoga bukan karena habis minum kopi gula aren), Wali Kota Palembang, Drs H Ratu Dewa MSi, menerima audiensi anak-anak muda ini. Ia bukan cuma menyambut, tapi langsung memberi restu layaknya orang tua yang ikhlas anaknya minjem motor buat kegiatan positif, bukan buat sunmori ke Indralaya. “Saya mendukung penuh kegiatan ini,” ujar beliau dengan khidmat, dan kita semua tahu, kalau sudah ada dukungan dari Wali Kota, itu tandanya kegiatan ini bukan abal-abal. Ini serius, bukan konten prank.
Bulan Bakti Karang Taruna ini isinya bukan lomba melempar sandal atau rebutan mic karaoke, tapi kegiatan yang menyentuh nurani dan menyapa realita penanaman pohon (agar oksigen tetap gratis), pembagian seragam sekolah untuk anak-anak yang belum mampu, dan aksi donor darah yang membuktikan bahwa cinta itu bukan cuma kata, tapi sel darah merah.
Ahmad Catur Nugraha, Ketua Karang Taruna, dengan gaya seperti stand-up komedian penuh tanggung jawab, bilang “Kami ingin tunjukkan bahwa Karang Taruna itu hadir dan berbuat nyata!” Luar biasa, Bung! Ini baru “Karang Taruna bukan cuma spanduk doang!”.
Pertanyaannya, kenapa ini penting?, karena generasi muda sekarang lagi bingung cari peta moral.
Kalau John F. Kennedy hidup di era TikTok, Instagram Reels, dan konten estetik berfilter jingga, bisa jadi pidato terkenalnya berubah haluan. Dulu beliau bilang begini “Ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country”
Tapi sekarang, mungkin akan sedikit di-upgrade jadi “Ask not what your country can do for you – ask what you can hashtag to inspire the For You page” (Jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tapi tanyalah apa yang bisa kamu tagar-kan agar menginspirasi orang lain di halaman FYP.)
Lucu? Iya kan!. Tapi juga menohok, karena semangatnya tetap sama kontribusi, dulu lewat orasi dan aksi nyata, sekarang bisa lewat video pendek yang bikin orang mikir di sela-sela scroll.
Zaman boleh berubah, tapi jiwa pengabdian harus tetap nyala. Entah itu lewat menanam pohon, donor darah, atau bikin konten yang menggugah nurani. Intinya jangan cuma nunggu negara bantu kamu viral, tapi viralkan hal yang bisa bantu sesama.
Jadi, generasi muda itu butuh kegiatan yang bukan hanya bikin followers nambah, tapi juga bikin nurani bertumbuh. Karang Taruna bisa jadi semacam GPS moral yang kalau dinyalakan, bukan cuma nunjukin arah ke mall, tapi juga ke tujuan hidup yang lebih dari sekadar “scroll sampai ketemu mantan di FYP”
Pendidikan karakter, empati sosial, dan kepekaan terhadap lingkungan itu bukan bawaan lahir, tapi bisa dipupuk lewat kegiatan, seperti ini. Saat mereka menanam pohon, itu bukan sekadar aktivitas alam, tapi juga simbol bahwa hidup itu tentang meninggalkan jejak yang bermanfaat.
Saat mereka donor darah, itu artinya mereka sudah siap kehilangan darah untuk menambah harapan orang laindan bukan cuma kehilangan pulsa gara-gara beli kuota yang salah.
Kita butuh lebih banyak anak muda kayak gini. Anak muda yang bisa tertawa, tapi juga bisa berpikir. Yang bisa ngedit video lucu, tapi juga bisa berdiskusi soal masa depan. Generasi muda yang bukan cuma jago main ML, tapi juga ngerti ML-nya bangsa ini “Maju dan Lestari”.
Jika masih ada yang meragukan pentingnya kegiatan sosial semacam ini, ingatlah pepatah lama dari kampung sebelah “Kalau hidupmu cuma buat konten, nanti tak ada yang upload waktu kamu butuh pertolongan”
Generasi muda hari ini jangan cuma diajak healing, tapi juga helping, dan Karang Taruna adalah oase di tengah padang gersangnya empati generasi rebahan. Jadi kalau masih muda, tapi nggak pernah ikut kegiatan sosial, hati-hati… jangan-jangan kamu cuma tua doang, tanpa jejak yang ditinggalkan.[***]