BALAIRUNG Universitas Indonesia (UI) yang biasanya jadi tempat wisuda dan pamer jaket almamater mendadak berubah jadi arena Kampanye Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT UI 2025).
Tanggal 5 Agustus 2025, ribuan mahasiswa baru UI tumplek-blek di sana, nyambut program edukatif ini yang diluncurkan langsung Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto.
Kampus UI jadi titik awal kampanye anti kekerasan kampus secara estafet ke 11 perguruan tinggi lain. Di tengah suasana hangat, hadir pula Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rektor, guru besar, dan tentu saja Satgas PPKS yang tampil seperti superhero kampus tapi tanpa jubah. Suasananya? Serius tapi tetap santai. Kayak makan nasi Padang sambil diskusi skripsi padat, pedas, dan penuh isi.
Sambil berdiri anggun di depan mahasiswa yang baru bisa bedain dosen dan satpam, Pak Menteri bilang lantang, “Ini last call!. Jangan ada kekerasan lagi di kampus!”. Wah, kalimatnya nendang, kayak pesan terakhir kondektur sebelum bus berangkat.
Semua tepuk tangan, bahkan kucing kampus pun manggut-manggut (meski mungkin karena ngantuk). Beliau menekankan bahwa lingkungan kampus harus steril dari kekerasan, diskriminasi, hingga perundungan, baik secara fisik, psikis, maupun online. Ibarat kata pepatah, “Di kampus bukan tempat gladiator gladi-gladiatoran, tapi tempat orang cari ilmu, bukan cari ribut!”
Dalam Permendikbud No. 55 Tahun 2024, disebut jelas bahwa cat calling, body shaming, cyber bullying, bahkan minta-minta PaP (post a picture) udah masuk ranah kekerasan. Jadi, kalau ada yang tiba-tiba DM bilang “PaP dong, beb…”, jangan ragu buat lapor, buat info lengkap, dan kalau mau lapor langsung, mampir ke aduanitjen.kemdiktisaintek.go.id.
Gak perlu malu, gak perlu takut, karena Satgas PPKS udah disiapin jadi superhero kampus yang gak pakai jubah tapi siap pasang badan.
Bu Menteri Arifatul juga tampil kece dengan pesan tegas namun penuh kasih sayang melawan kekerasan itu kerja bareng, bukan kerja individu. Kayak main Mobile Legends gak bisa cuma ngandelin satu hero, semua harus kerja tim. Kampus, katanya, harus jadi tempat aman buat semua gender, semua ras, semua ukuran tubuh, bahkan semua status ekonomi. Pokoknya, jangan ada yang merasa paling “alpha” dan bisa bertindak semena-mena. Kekerasan bukan tradisi, bro… itu penyakit warisan masa lalu yang udah expired.
Kalau kampus diibaratkan rumah kos, maka mahasiswa baru adalah anak-anak baru yang masih belajar masak mie instan. Nah, kekerasan itu ibarat kompor gas bocor kalau dibiarkan, bisa meledak dan ngerusak semuanya. Maka dari itu, kampanye ini bukan buat gaya-gayaan, tapi buat ngingetin bahwa jadi mahasiswa itu bukan cuma soal IPK dan skripsi, tapi juga soal empati dan menghargai sesama.
Kampanye PPKPT yang dimulai dari UI ini ibarat peluit pertama dalam pertandingan panjang melawan kekerasan kampus. Tapi jangan khawatir, karena kita gak sendiri. Ada menteri, ada rektor, ada Satgas, bahkan kucing kampus pun siap dukung kalau kita semua bergerak bareng.
Maka, jangan ragu buat speak up, bantu teman, dan saling jaga. Karena di kampus, teman sejati bukan yang ngajak tawuran, tapi yang ngajak kamu healing ke perpustakaan.
“STOP Kekerasan di Kampus! Jangan Sampai Judul Skripsimu Diganti Jadi ‘Trauma Berkedok Tugas Akhir’!”
Yuk, jadi generasi kampus yang gak cuma pintar teori, tapi juga ahli menjaga hati. Karena sejatinya, kampus adalah ladang ilmu, bukan ring tinju.
Kalau kamu siap jadi bagian dari perubahan, jangan tunggu viral baru bertindak. Mulai dari diri sendiri. Mulai hari ini. Di kampusmu. Di hatimu.[***]