Pendidikan

3 Langkah Jadikan Masjid Pusat Edukasi Umat

ist

MASJID sering berdiri megah, tetapi tidak semuanya hidup. Di banyak kota yang tumbuh cepat, rumah ibadah menghadapi tantangan baru, yaitu bagaimana tetap relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah arus digital dan dinamika perkotaan.

Fungsi masjid tidak berhenti pada salat berjamaah. Ia memikul peran sosial, pendidikan, dan pembinaan karakter. Ketika fungsi edukasi berjalan, masjid menjadi simpul peradaban. Ketika fungsi itu melemah, masjid hanya ramai di waktu-waktu tertentu.

Pertanyaannya  bukan lagi apakah masjid penting, tetapi bagaimana mengaktifkannya sebagai pusat pembelajaran umat. Berikut tiga langkah yang bisa diterapkan agar masjid benar-benar menjadi ruang edukasi yang berdampak.

1. Program Rutin dan Terjadwal

Masjid perlu menghadirkan agenda yang konsisten. Kajian tematik mingguan, kelas remaja, pelatihan membaca Al-Qur’an, hingga diskusi keluarga muda menciptakan ritme aktivitas yang terukur. Konsistensi membangun kepercayaan. Jamaah datang bukan karena undangan sesaat, tetapi karena merasa menjadi bagian dari proses belajar yang berkelanjutan.

2. Kolaborasi dengan Komunitas

Masjid tidak bisa berjalan sendiri. Pengurus perlu menggandeng guru, tokoh masyarakat, relawan, bahkan komunitas literasi untuk memperluas dampak pembinaan. Kolaborasi memperkaya materi dan memperluas jangkauan. Ketika komunitas terlibat, masjid berubah menjadi ruang perjumpaan lintas generasi.

3. Pendayagunaan Dana yang Transparan

Program edukasi membutuhkan dukungan pembiayaan yang jelas dan akuntabel. Pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara transparan membangun kepercayaan publik. Kepercayaan itu menjadi fondasi keberlanjutan kegiatan. Tanpa tata kelola yang baik, program sulit berkembang.

Model seperti ini relevan bagi kota-kota berkembang yang menghadapi tantangan sosial baru. Urbanisasi sering mengurangi ruang interaksi sehat. Masjid yang aktif mengedukasi mampu menjadi jangkar moral sekaligus pusat pembinaan karakter.

Konsep tersebut mulai diterapkan pada Masjid Al-Fatah yang diresmikan di kawasan Talang Kelapa, Alang-Alang Lebar, Palembang, akhir pekan lalu. Masjid ini dibangun dengan dukungan dana zakat yang dihimpun Baznas Kota Palembang dan langsung difungsikan untuk salat Jumat serta agenda pembinaan warga.

Di bagian akhir peresmian, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan masjid harus hidup dengan kegiatan pendidikan dan pemberdayaan, bukan sekadar berdiri sebagai bangunan fisik. Ketua Baznas Kota Palembang M. Ridwan Nawawi menambahkan pihaknya mengarahkan dana zakat agar produktif dan tepat sasaran, termasuk mendukung masjid yang berfungsi sebagai pusat edukasi masyarakat.

Jika tiga langkah itu dijalankan konsisten, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar bersama yang membentuk generasi berkarakter di tengah dinamika kota modern. (***)

To Top