Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Digitalisasi Pendidikan, Gadget ke Ekosistem & Konsumsi ke Produksi

Digitalisasi Pendidikan, Gadget ke Ekosistem & Konsumsi ke Produksi

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
  • visibility 872
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI INDONESIA, urusan pendidikan ibarat memasak sayur asem di dapur rumah nenek, bahan-bahannya banyak, bumbunya harus lengkap, dan jangan salah takar, kalau tidak rasanya jadi aneh. Begitu juga dengan digitalisasi pendidikan, kalau cuma bagi-bagi alat canggih macam papan interaktif, laptop, atau yang disebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat sebagai “TV jumbo”, ya ibarat kasih kompor gas tanpa kasih tabungnya, ujung-ujungnya cuma jadi pajangan.

Mari mulai dengan cerita sederhana misalnya di sebuah sekolah dasar di kampung, datanglah bantuan laptop dan papan interaktif kinclong. Anak-anak terpukau, guru-guru berdecak, kepala sekolah langsung selfie sambil caption, “Sekolah kami sudah digital!”. Tapi, minggu berikutnya papan interaktif itu berubah fungsi jadi papan tulis manual, ditempeli kertas pengumuman jadwal piket kelas. Laptopnya? Disimpan rapi di lemari, dipakai kalau ada tamu dari dinas. Nah, ini dia yang sering luput digitalisasi bukan soal alat, melainkan soal ekosistem.

Atip Latipulhayat sudah menekankan, guru tetap aktor utama, tapi  jujur, tidak sedikit guru kita yang masih lebih akrab dengan kapur tulis ketimbang layar sentuh, ya kan !. Pepatah Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”-  keberhasilan butuh biaya, nah, dalam hal ini biaya bukan cuma rupiah, tapi juga investasi waktu dan tenaga buat melatih guru agar bisa mengoperasikan teknologi, bukan cuma jadi penonton.

Kalau digitalisasi ini diibaratkan pertunjukan wayang, maka gurulah dalangnya. Tanpa dalang, gamelan boleh saja berdentum, tapi lakon tidak jalan. Laptop dan papan interaktif hanya sebatas gong dan kendang, percuma megah kalau dalangnya bingung menabuh.

Digitalisasi sebenarnya jangan hanya menjadikan anak-anak kita konsumen konten global, sebaliknya jadi produsen konten lokal. Bayangkan kalau setiap papan interaktif diisi video animasi buatan guru Indonesia, cerita rakyat Nusantara dalam bentuk interaktif, atau simulasi sains dengan bahasa gaul khas anak-anak kita, wah itu baru namanya digitalisasi yang berdaulat.

Kalau tidak, jangan heran kalau nanti anak PAUD lebih hafal nama karakter kartun Jepang ketimbang tokoh nasional. Sungguh ironis kalau “TV jumbo” di kelas hanya jadi layar buat memutar YouTube dari luar negeri, bukankah lebih baik kalau teknologi itu kita isi dengan karya kita sendiri?

Contoh paling sering disebut tentunya di Finlandia, negeri sauna ini sukses dengan digitalisasi bukan karena banyak gadget, tapi karena kurikulumnya lentur, guru dilatih serius, dan murid didorong untuk kolaborasi. Jadi papan interaktif di sana bukan sekadar layar, melainkan bagian dari budaya belajar yang sudah disiapkan. Indonesia bisa meniru semangatnya alat hanyalah pendukung, manusianya yang utama.

Lalu ada Korea Selatan, negeri K-Pop yang juga K-EdTech, di sana, pemerintah gencar investasi konten digital pendidikan lokal. Bukan cuma bikin platform, tapi memastikan guru bisa produksi bahan ajar berbasis video dan animasi. Hasilnya? Murid-murid di pelosok Korea bisa belajar matematika dengan gaya ala webtoon. Nah, kita di Indonesia jangan sampai cuma jadi penonton drama Korea, tapi juga belajar dari caranya bikin pendidikan “ramah layar”.

Contoh lain datang dari India, meski tantangannya jauh lebih berat, karena populasi besar dan kesenjangan digital tinggi, mereka berani meluncurkan platform DIKSHA (Digital Infrastructure for Knowledge Sharing). Bayangkan, jutaan guru dan murid bisa akses konten pendidikan gratis lewat aplikasi. Ini bukti kalau digitalisasi bisa jadi solusi merata, asal ada komitmen membangun ekosistem, bukan hanya gadget.

Dan jangan lupa Singapura tetangga kita dekat Sumatera ini merupakan  negeri mungil  tapi terkenal, karena setiap kebijakan digitalisasinya selalu diikuti dengan teacher training ketat. Jadi jangan heran kalau papan interaktif di sana benar-benar interaktif, bukan sekadar papan pajangan, mereka paham pepatah modern “The best app is still a well-prepared teacher”.

Resiko serius

Tapi mari jangan terlalu berbunga-bunga, di balik semua gemerlap digitalisasi, ada risiko serius kecanduan digital. Anak-anak PAUD gampang sekali terpesona dengan layar, kalau tak diawasi, papan interaktif bisa jadi pintu masuk candu visual, bukan jendela ilmu. Ini sama saja seperti kasih anak pisau dapur, kalau diajarkan, bisa jadi chef handal, kalau dibiarkan, bisa celaka.

Artinya, setiap perangkat digital harus diiringi dengan pengawasan guru, lagi-lagi, guru bukan tergantikan, justru semakin dibutuhkan.

Direktur PAUD, Nia Nurhasanah, sudah menyusun strategi bimtek bagi 64 ribu lebih satuan PAUD yang akan menerima perangkat digital tahun 2025. Angka ini terdengar gagah, tapi jangan lupa membangun ekosistem digital itu seperti lari maraton, bukan sprint 100 meter. Tidak bisa sekadar kirim perangkat hari ini, lalu besok berharap anak-anak langsung cerdas digital.

Perlu kesinambungan antara  bimtek, pendampingan, kurikulum yang adaptif, dan juga kolaborasi dengan industri kreatif. Kalau tidak, papan interaktif itu nasibnya sama seperti monorel Palembang, niatnya keren, ujung-ujungnya jadi cerita lucu buat bahan stand-up comedy.

Ada pepatah bijak, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” . Dalam konteks digitalisasi, kalau gurunya saja bingung buka Zoom atau salah klik saat presentasi, jangan harap muridnya bisa belajar dengan baik, karena itu, literasi digital guru adalah kunci, bahkan bisa ditambahkan pepatah baru “Guru melek digital, murid kreatif global”

Digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni pembagian perangkat, kita butuh ekosistem, yakni kurikulum yang mendukung, guru yang siap, konten lokal yang relevan, serta perlindungan anak dari candu digital, seperti menanam padi, jangan hanya sibuk dengan cangkulnya, tapi lupa merawat sawahnya.

Oleh sebab itu, maka teknologi hanyalah alat, guru tetaplah pelita, dan digitalisasi hanya bermakna bila mengubah dari sekadar konsumsi menjadi produksi, dari sekadar gadget menjadi ekosistem.

Kalau itu bisa kita jalankan, barulah mimpi mencerdaskan kehidupan bangsa lewat digitalisasi bukan hanya jargon, tapi kenyataan, dan papan interaktif tidak akan lagi jadi papan pengumuman, tapi betul-betul jadi jendela dunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Sumsel Minta Kepala Daerah Luangkan Waktu Pantau Pemilu

    Gubernur Sumsel Minta Kepala Daerah Luangkan Waktu Pantau Pemilu

    • calendar_month Senin, 15 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 983
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang– Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru didampingi Kapolda  Irjen Pol Zulkarnain Adinegara dan Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan  melakukan Video Conference terkait dengan  pelaksanaan Pemilu Tahun 2019. Dalam video conference dengan para Bupati dan Walikota Se-Sumsel yang  digelar di ruang Posko Gajah Biro Operasi Polda Sumsel, Senin (15/4) tersebut, Gubernur mengharapkan agar pesta […]

  • Amal Ibadah Terus Meningkat, Wapres Harapkan Umat Islam Dapat Mengambil Makna Puasa Ramadan

    Amal Ibadah Terus Meningkat, Wapres Harapkan Umat Islam Dapat Mengambil Makna Puasa Ramadan

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 738
    • 0Komentar

    SATU bulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu dan mengasah kepedulian terhadap sesama. Bukan suatu hal yang mudah untuk dapat konsisten menjalankan ibadah lebih banyak dari hari biasa, mengendalikan emosi, dan juga dapat menjadi lebih peka terhadap sesama manusia. Untuk itu, hal baik yang dilakukan selama […]

  • Gubernur Sumsel Alex Noerdin Hadiri Hari Bhakti Adhyaksa Ke-57

    Gubernur Sumsel Alex Noerdin Hadiri Hari Bhakti Adhyaksa Ke-57

    • calendar_month Minggu, 23 Jul 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.348
    • 0Komentar

    Satu tujuan kesatuan arah visi dan misi semata-mata mewujudkan keadilan dan kebenaran . Satu sikap tindakan untuk menegakan fungsi hukum

  • Dua Terdakwa Pembunuh Sopir Taksi Online Dijatuhi 18 Tahun Penjara

    Dua Terdakwa Pembunuh Sopir Taksi Online Dijatuhi 18 Tahun Penjara

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 994
    • 0Komentar

    Dua terdakwa Sulaiman (36) dan terdakwa Abin Samudra dituntut masing-masing 18 tahun kurungan penjara lantaran telah melakukan pembunuhan terhadap Ruslan Gani (43) driver taksi online di Palembang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ursula Dewi SH MH menuntut kedua terdakwa dengan hukuman berat 18 tahun penjara. “Hal-hal yang memberatkan perbuatan terdakwa membuat korban meninggal dunia dan juga […]

  • Ruang Bermain Aman, Awal Anak Percaya pada Dunia

    Ruang Bermain Aman, Awal Anak Percaya pada Dunia

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 40
    • 0Komentar

    ANAK-anak itu berdiri berjajar sambil saling merangkul bahu temannya, sebagian tersenyum ke arah kamera, sebagian lagi menatap lurus dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Di antara tawa yang pecah sesekali, tak ada yang sibuk menggenggam gawai atau duduk menyendiri. Mereka hanya menjadi anak-anak, bermain, bercanda, dan menikmati kebersamaan. Pemandangan sederhana itu mengingatkan masa kecil bukan […]

  • Laksanakan Donor Darah, Wawako Palembang Apresiasi BRI

    Laksanakan Donor Darah, Wawako Palembang Apresiasi BRI

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.327
    • 0Komentar

    WAKIL Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda mengapresiasi kontribusi BRI kepada warga kota ini. Pernyataan ini dikemukakan Fitrianti saat meninjau langsung kegiatan donor darah yang diadakan Kantor Wilayah BRI Palembang, Jalan Kapten A Rivai, Selasa (21/6/2022). “Untuk mengurangi angka kemiskinan BRI selalu terdepan. Pada saat penanggulangan Covid-19 BRI selalu sigap. Dan juga saat sekarang kita membutuhkan […]

expand_less
WordPress Archive StoryBlog – WordPress Theme for Story Tellers StoryHub – Multipurpose WordPress Elementor Blog Theme STRACK Biz Elementor Template Kit Stractura – Construction Elementor Template Kit Stradale – Cafe & Restaurant WordPress Theme Strata – Professional Multi-Purpose Theme Stratum Pro – Elementor Widgets Streamit – Live Video Streaming Player WordPress Plugin Streamit - Video Streaming WordPress Theme + RTL StreamVid - Video Streaming WordPress Theme