DI Ruang Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sumsel, Senin (7/7/2025), aroma serius menyelimuti udara. Tapi jangan salah, meskipun kelihatan tegang dan penuh kertas tebal, di balik semua itu ada aroma kopi kental hangat, pahit-pahit manis, dan kalau kebanyakan gula bisa bikin diabetes fiskal.
Pak Gubernur H. Herman Deru hadir dalam Rapat Paripurna ke-XV yang membahas soal pertanggungjawaban APBD 2024.
Ibaratnya ini adalah momen buka-bukaan antara Pemprov dan DPRD. Bukan buka puasa, tapi buka catatan keuangan. Laporan dari Badan Anggaran (Banggar) ibarat notulen rumah tangga apakah uang belanja cukup buat beli beras atau malah dipakai beli bonsai?
Sementara itu, Anggota DPRD Nadia Basjir mengingatkan hal yang sangat penting tahun depan tolong deh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) kalau ngajuin anggaran jangan asal tempel, kayak proposal arisan RT.
Perlu ketelitian dan kecermatan, karena kalau salah taruh angka, bisa-bisa dana untuk Puskesmas nyasar ke festival balap ketek.
Ibarat orang masak nasi goreng, anggaran itu harus pas bumbunya. Jangan sampai karena semangatnya terlalu berkobar, semua kegiatan mau dituang dalam satu wajan. Akhirnya bukan nasi goreng lezat, malah jadi bubur yang keasinan. dan ingat, seperti kata pepatah tua “Biar lambat asal selamat, jangan ngebut malah nyungsep”.
Pak Herman Deru sendiri dalam sambutannya sudah memberikan standing applause dalam bentuk kata-kata. Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota dewan yang sudah ikut mikir bareng, kasih saran, kritik, dan bahkan mungkin ngopi bareng demi memastikan APBD berjalan sesuai relnya.
Beliau bilang hasil rapat ini akan jadi catatan penting. Artinya, seperti buku harian, segala masukan dari DPRD bakal dijadikan bahan renungan malam sebelum tidur oleh Pemprov. Karena dari sinilah langkah anggaran tahun 2025 dan 2026 bakal diarahkan. Mau jalan ke pasar atau ke kebun investasi, semuanya harus dihitung dengan cermat.
Nah, kalau boleh nyisipin satu wejangan dari masyarakat awam “Anggaran itu ibarat celana dalam, harus pas ukurannya. Jangan terlalu longgar, nanti lepas. Jangan juga terlalu sempit, nanti sesak dan sobek”
Paripurna bukan cuma ajang formal baca naskah dan ketok palu. Ini ajang evaluasi hidup. Kalau tahun ini ada yang meleset dari target, ya tahun depan jangan diulang. Anggaran itu bukan untuk dihabiskan, tapi untuk dimanfaatkan.
Semoga tahun depan anggaran kita bukan hanya cair, tapi juga berpihak ke rakyat. Jangan sampai anggaran disusun seperti menu makan malam pejabat mewah di atas meja, tapi rakyat cuma cium aromanya.
Karena Sumsel butuh APBD yang ngena, bukan yang ngambang.
Kalau kata orang tua di kampung “Paku tak akan masuk kalau tak dipalu, program tak akan jalan kalau dananya nyasar ke tempat yang malu-malu”. Mari kita kawal bersama, demi Sumsel yang bukan hanya “maju untuk semua”, tapi juga “makmur tanpa drama”.[***]