Sumselterkini.co.id, – Palembang harus berkembang lagi, dengan berbagai sentra ekonomi yang telah dibangun, mulai dari sentra pempek sampai kerajinan tangan. Tapi, sayangnya, ada satu masalah klasik yang sering terjadi, setelah dibangun, eh, malah dibiarkan begitu saja. Gimana mau maju kalau tempat jualannya malah jadi sarang sampah? Nggak banget, kan?
Oleh sebab itu, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menyoroti hal ini dalam pertemuannya dengan Bank Sumsel Babel (BSB). Beliau menegaskan UMKM bukan cuma soal membangun tempat jualan, tapi juga merawatnya supaya tetap nyaman dan menarik, baik buat pedagang maupun pembeli.
Bayangin kalau wisatawan datang ke Sentra Pempek atau Tanggo Rajo, tapi yang mereka lihat malah tempat berantakan dan sampah berserakan? Auto ilfeel! Padahal, kalau tempatnya tertata rapi dan bersih, bukan cuma bikin pelanggan betah, tapi juga meningkatkan daya tarik wisata. Bisa-bisa omzet pedagang ikut naik drastis!
Bank Sumsel Babel, yang punya peran penting dalam mendukung perekonomian Palembang, siap turun tangan. Mereka nggak cuma bantu permodalan lewat KUR Rp1,4 triliun, tapi juga ingin ikut memberdayakan UMKM biar lebih rapi dan berkembang. Ini kesempatan emas buat para pelaku usaha kecil buat berkembang lebih pesat. Apalagi kalau ada pendampingan dari pihak terkait, seperti pelatihan pengelolaan usaha, digital marketing, hingga strategi pemasaran yang lebih kekinian.
Satu hal yang perlu diingat, membangun ekonomi itu bukan kerjaan sehari dua hari. Ini investasi jangka panjang. Kalau kita mau UMKM Palembang naik kelas, nggak cukup cuma modal dan tempat yang bagus. Pengelolaan yang berkelanjutan juga wajib hukumnya! Jangan sampai kita sibuk membangun, tapi lupa ngerawat. Percuma bikin tempat kece kalau ujung-ujungnya jadi kumuh karena nggak ada yang peduli. Pemkot, BSB, dan masyarakat harus kompak biar hasilnya maksimal.
Kolaborasi dan aksi nyata jadi kunci utama. Masyarakat juga harus punya kesadaran buat ikut menjaga fasilitas yang udah disediakan. Jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak fasilitas umum, dan yang paling penting, ikut mendukung UMKM lokal dengan membeli produk mereka. Dengan begitu, roda ekonomi bisa terus berputar, dan Palembang bisa jadi contoh kota yang sukses membina dan merawat UMKM-nya.
Namun, yang sering terjadi di lapangan adalah kurangnya konsistensi dalam pengelolaan dan perawatan fasilitas yang sudah ada. Jangan sampai UMKM hanya dijadikan program yang bagus di atas kertas tapi minim aksi nyata. Pemerintah harus tegas dalam memastikan fasilitas ini terjaga dengan baik. Misalnya, perlu ada sistem monitoring berkala, pemberian insentif bagi UMKM yang aktif menjaga kebersihan dan kerapihan, serta sanksi bagi mereka yang lalai.
Selain itu, mentalitas sebagian masyarakat juga harus diubah. Kadang, kita terlalu bergantung pada pemerintah dan menganggap semua perawatan fasilitas itu tugas mereka. Padahal, para pedagang dan masyarakat sekitar juga punya tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan tempat usaha mereka sendiri. Harus ada rasa memiliki dan kebanggaan terhadap UMKM lokal, bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga bagian dari identitas kota yang harus dijaga.
Lebih lanjut, kalau UMKM di Palembang mau naik kelas, digitalisasi juga nggak bisa diabaikan. Dunia sudah serba online, dan pemasaran konvensional saja nggak cukup. Para pelaku usaha harus melek teknologi, belajar bagaimana cara memasarkan produk mereka secara digital, memanfaatkan media sosial, hingga masuk ke marketplace besar. Jika tidak, mereka akan tertinggal dari kompetitor dari kota lain yang sudah lebih dulu beradaptasi.
Nah, sekarang tinggal eksekusinya. Apakah sinergi ini bisa benar-benar bikin Palembang makin kinclong dan UMKM-nya makin cetar? Kita tunggu aja gebrakan nyata dari para pemangku kepentingan. Jangan PHP, harus ada tindakan konkret supaya UMKM Palembang makn berkembang, tapi benar-benar jadi tulang punggung ekonomi Palembang.[***]
