Olahraga & Otomotif

Ketika FIFA Ngepos di Jakarta, Saatnya Serius Nendang Mimpi!

foto;pssi

Sumselterkini.co.id, – Kalau biasanya kita nongkrong di warung kopi sambil debat kusir soal siapa yang lebih tajam Ronaldo waktu puasa atau Messi waktu laper, kali ini kita bisa tepuk dada sedikit. Bukan karena masuk angin, tapi karena bangga Jakarta resmi jadi pusat kegiatan regional FIFA untuk Asia Tenggara dan Asia Timur! Ini bukan kabar ecek-ecek, Bung. Ini setara kayak warung kopi kita tiba-tiba diakuin Michelin Star.

Pak Erick Thohir, Ketua Umum PSSI yang sepak terjangnya makin lincah dari gelandang box-to-box, dengan mantap meneken Host Country Agreement (HCA) bareng Presiden FIFA, Gianni Infantino, di Miami. Bukan Miami Plaju, loh. Ini Miami beneran, yang ada pantainya dan bukan tempat cuci motor, kesepakatan itu menjadikan Jakarta sebagai semacam “markas besar FIFA-nya Asia yang punya WiFi kuat dan pancaran aura optimisme”.

Bayangkan, Bung, Jakarta kini jadi jembatan penghubung antara FIFA Kuala Lumpur, Dubai, dan New Delhi, kalau dulu koneksi antarnegara kayak sinyal HP di puncak Gunung Dempo, sekarang sudah kayak jaringan fiber optik cepat, jelas, dan terkoneksi.

Jakarta bukan cuma ibu kota administrasi, tapi juga ibu kota diplomasi sepak bola Asia, ibaratnya bola itu agama kedua orang Indonesia, maka kantor FIFA Jakarta ini adalah semacam “tempat ibadah baru” bagi para penganut sepak bola sejati.

Langkah ini bukan cuma soal kantor ber-AC dan kursi ergonomis, ini soal pengakuan. FIFA seperti bilang, “Kami percaya kalian bisa, walau wasit lokal kadang lupa bawa peluit”. Dan percaya atau tidak, semua ini bermula dari kerja keras, bukan kerja keras bikin konten TikTok, tapi kerja keras mengubah wajah sepak bola yang sebelumnya lebih sering tampil di meme ketimbang berita prestasi.

FIFA bahkan menghadiahi PSSI dengan “FIFA Forward Gold Award”, penghargaan emas yang bukan karena suka menabung di Pegadaian, tapi karena PSSI sukses membangun PSSI National Training Centre di IKN Nusantara. Bayangkan, dulu lapangan bola kita kadang rumputnya kalah dari taman pemakaman, sekarang punya pusat pelatihan yang bisa bikin iri klub-klub Eropa yang cuma latihan di tengah kabut.

Erick bilang, FIFA Hub di Jakarta ini tak hanya untuk Indonesia, tapi untuk 21 negara di Asia Timur dan Tenggara. Bahasa kasarnya, kita nggak cuma nyeduh kopi buat sendiri, tapi sekarang juga buat tetangga satu RT sepak bola.

Jakarta jadi barista bola Asia, jadi nanti kalau Vietnam butuh pelatihan VAR, atau Jepang mau diskusi soal wasit ngantukan, ya mampirnya ke Jakarta. Bisa jadi suatu saat, kita denger komentator bilang, “Goal ini disahkan berdasarkan keputusan dari kantor FIFA Jakarta.” Wuih!

Presiden FIFA juga bilang pertumbuhan sepak bola harus merata, jangan kaya mie instan yang bumbunya numpuk di satu sisi. Nah, dengan adanya kantor ini, FIFA ingin menabur garam dan merica sepak bola secara adil ke seluruh Asia. Semoga bumbunya meresap, bukan malah jadi asin sebelah.

Tentu, jangan sampai ini cuma jadi etalase mewah tapi kosong. Kantor FIFA di Jakarta jangan sampai jadi kayak warnet zaman dulu bagus luar, dalamnya cuma main Point Blank. Harus ada geliat nyata program pembinaan usia dini, wasit yang tak cuma tahu kartu merah tapi juga tahu aturan, dan tentu saja kompetisi yang profesional. Kalau bisa, jangan cuma anaknya PSSI yang diasuh, tapi juga wasit, pelatih, bahkan komentatornya.

Pepatah bilang, “Jangan hanya memoles genteng, sementara fondasi retak”. Nah, sekarang saatnya memperbaiki fondasi sepak bola kita. Kantor FIFA itu baru jendela yang penting adalah siapa yang ngintip dari balik jendela itu. Jangan-jangan isinya malah debat klasik gaji pemain telat, kontrak fiktif, atau polemik klub-klub antah-berantah.

Jadi, kalau Jakarta kini jadi hub sepak bola Asia, mari kita jadikan ini bukan akhir dari cerita, tapi awal dari babak baru, kalau kata anak sinetron,perjalanan kita baru dimulai,”. Tapi beda dengan sinetron, ini bukan soal cinta segitiga, melainkan segitiga pembangunan, infrastruktur, SDM, dan profesionalitas. Kalau tiga itu kuat, maka sepak bola kita bukan cuma bisa disiarin TV, tapi juga disanjung FIFA tiap tahun.

Selain itu, HUB FIFA, bukan cuma soal plakat di dinding atau backdrop mewah saat konferensi pers, ia adalah tanda bahwa dunia akhirnya melihat Indonesia, bukan sekadar sebagai penonton yang suka ribut di kolom komentar, tapi sebagai pemain aktif di arena global.

“Rumah megah tak akan ada artinya jika isinya kosong, apalagi kalau anaknya masih main bola pakai sandal jepit”, oleh sebab itu tantangannya sekarang bukan lagi soal bikin kantor, tapi bikin sistem, bukan cuma stadionnya yang kinclong, tapi juga pelatihnya yang jago, wasitnya netral, dan pemainnya disiplin.

Sepak bola adalah cerita panjang, dan Jakarta kini kebagian satu bab penting. Semoga bab selanjutnya bukan lagi soal sanksi dan kegagalan, tapi soal prestasi yang akhirnya kita tulis sendiri. Jadi, jangan cuma bangga punya kantor FIFA, pastikan juga, setiap anak yang tendang bola di lapangan becek itu tahu mimpinya bisa sampai ke Miami, asal dia mulai dari Jakarta.

FIFA sudah datang, bahkan bawa koper, tinggal kita mau jadi tuan rumah yang benar-benar siap, atau hanya sekadar penjaga gerbang yang sibuk selfie?. Karena kalau tidak dijaga dengan kerja keras, bisa jadi cuma etalase. Tapi jika kita mau serius, mungkin dari sinilah lahir babak baru, di mana Indonesia tak lagi sekadar penonton, tapi pencetak sejarah.[***]

Terpopuler

To Top