Sumselterkini.co.id, – Kayuagung boleh jadi tak seluas Padang Sahara, tapi semangat yang membara dari kafilah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang bertolak ke ajang Seleksi Tilawatil Quran dan Hadits (STQH) ke-28 seolah membawa angin sejuk dari bumi Serasan Sekundang ke langit-langit spiritual PALI. Ini bukan sekadar lomba, ini parade iman, suara emas, dan niat suci yang kalau diibaratkan makanan, sama pentingnya dengan nasi uduk di pagi hari hangat, wangi, dan bikin adem hati.
Dipimpin langsung oleh Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, yang tampaknya tak cuma lihai soal birokrasi tapi juga tahu cara menebar semangat ala-ala pelatih tim sepak bola nasional, kontingen OKI diberangkatkan dari Pendopo Kabupatenan Kayuagung dengan penuh doa, pesan moral, dan sedikit kekhawatiran soal logistik.
“Saya minta jangan sampai ada yang nggak makan!” tegas Bupati dengan gaya seorang ayah yang melepas anaknya camping ke gunung, lengkap dengan pesan ‘jangan lupa pakai jaket’. Bayangkan saja, kalau suara peserta ngaji sampai serak karena kurang asupan nasi padang, bisa-bisa satu bab Al-Baqarah berubah jadi nada minor.
Dengan kekuatan 50 orang yang terdiri dari peserta, official, dan mungkin satu dua penumpang gelap yang hobi ikut rombongan kafilah OKI tampil penuh gaya saat defile pembukaan. Bupati dan Ketua TP PKK OKI, Ike Muchendi, terlihat ikut terharu, melambaikan tangan dan menepuk penuh kebanggaan, seperti orang tua melihat anaknya tampil fashion show di lapangan sekolah.
Tentu, ajang ini bukan cuma soal lantunan merdu ayat suci. Ini juga tentang adab, etika, dan kemampuan menjaga diri di tengah kompetisi yang ketat. Bupati bilang, “Tampilkan yang terbaik, jaga adab.” Ini penting, sebab membaca Quran dengan fasih itu bagus, tapi menjaga sandal tetap utuh di masjid lebih mulia karena siapa tahu, ada juri yang memperhatikan dari balik tirai.
Kabupaten PALI yang jadi tuan rumah pun menyambut hangat. Jangan bayangkan PALI sebagai kabupaten yang cuma berisi sumur minyak dan kebun karet. Selama STQH ini, PALI berubah menjadi panggung spiritual nasional, semacam miniatur Tanah Suci minus onta, tempat ratusan duta Al-Quran dari seluruh Sumsel bersua dan bersaing dengan lantunan langit.
STQH ini digelar selama tujuh hari lebih lama dari cuti Lebaran kebanyakan orang kantor. Meski teknologi makin canggih dan Tiktok makin menggila, suara Al-Quran masih punya tempat yang khusyuk dan syahdu di hati masyarakat.
Kalau hidup ini adalah panggung sandiwara, maka STQH adalah konser religi paling sakral di antara semua genre. Dan kafilah OKI? Mereka bukan sekadar peserta. Mereka adalah duta suara surgawi yang membawa harum kampung halaman, harapan pemerintah daerah, dan mungkin juga janji hadiah sepulang lomba.
Maju terus OKI, semoga pulang bukan cuma bawa piala, tapi juga membawa cerita dan berkah. Ingat pesan Bupati jangan sampai ada yang lapar, baik perut maupun rohaninya.[***]