Sumselterkini.co.id, – Di tengah geliat Musi Banyuasin (Muba) yang ingin maju lebih cepat secepat mie instan tapi tetap matang merata sekelompok alumni tak biasa kembali dari “tanah perguruan” dengan tekad baja dan map kulit di tangan.
Mereka adalah para jebolan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang kini bernaung dalam bendera IKAPTK alias Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan.
Dengan semangat tak kalah panas dari sambal korek di warung simpang lima, para pengurus DPK IKAPTK Muba periode 2024-2029 sowan ke Bupati H.M. Toha dan Wakil Bupati Kiyai Rohman. Bukan untuk silaturahmi biasa atau minta jabatan, tapi membahas hal serius bagaimana bikin birokrasi di Muba lebih lincah dari kucing lompat pagar.
Begitulah kira-kira semangat yang dibawa Bupati Toha dalam sambutannya. Menurut beliau, para alumni IKAPTK adalah harta karun birokrasi yang sudah dilatih keras sejak di IPDN tempat yang katanya, bangun tidur pun harus sikap sempurna.
“Pengetahuan dan keterampilan para alumni adalah aset tak ternilai. Kami ingin memaksimalkan potensi ini,” kata Toha, sembari mengangkat alis penuh harapan, seperti dosen yang sedang menyodorkan nilai A buat mahasiswa rajin.
Toha tak lupa mengingatkan sekarang bukan zaman birokrasi duduk-duduk menunggu arahan pusat. Harus ada kolaborasi lintas OPD, lintas ego sektoral, bahkan lintas meja makan siang.
Wakil Bupati Kiyai Rohman juga menambahkan dengan gaya khas beliau yang menyejukkan namun mengena. “Mari saling menghargai dan mendukung. Kalau bisa saling tolong angkat galon, apalagi angkat martabat pelayanan publik.”
Ketua DPK IKAPTK Muba, Akhmad Toyibir SSTP MM nama yang kalau ditulis lengkap bisa bikin printer kehabisan tinta menyampaikan bahwa IKAPTK bukan organisasi alumni yang hanya kumpul buat reuni dan main karaoke.
Mereka adalah garda sipil berseragam PDL yang siap menyumbangkan otot, otak, dan optimisme.”Kami tidak akan hanya berdiri gagah di upacara bendera. Kami siap turun ke lapangan, menjemput aspirasi rakyat, menyumbang solusi, dan kalau perlu, jadi tukang cat jembatan demi estetika pelayanan.”
Toyibir menegaskan bahwa IKAPTK siap menjadi mitra strategis Pemkab Muba. Tak sekadar ikut rapat, tapi juga menciptakan program inovatif dari pelayanan satu pintu yang benar-benar satu pintu (bukan pintu yang mengarah ke ruang tunggu lain), hingga sistem aduan masyarakat yang cepat tanggap, bukan cepat hilang.
Kalau boleh jujur, organisasi alumni seringkali hanya jadi wadah temu kangen dan tempat selfie berjamaah. Tapi IKAPTK Muba tampaknya ingin mematahkan kutukan itu. Dengan formasi lengkap dan restu penuh dari kepala daerah, mereka mengusung semangat baru “dari alumni jadi abdi, dari abdi jadi agen perubahan.”
Sudah saatnya tata kelola publik dibikin seprofesional tukang servis AC datang tepat waktu, kerja bersih, dan nggak banyak alasan.
IKAPTK Muba tampaknya sadar betul: pemerintahan bukan panggung solo dangdut, tapi orkestra pelayanan. Kalau semua elemen bisa duduk semeja, berpikir searah, dan ngopi secukupnya, maka Muba Maju Lebih Cepat itu bukan sekadar slogan, tapi potensi yang bisa digenggam.
Boleh saja pakai seragam dan logo garuda di dada, tapi kalau tak turun ke masyarakat, ya sama aja seperti singa di lemari pajangan. Gagah, tapi tak terdengar aumannya.
Kini, IKAPTK Muba sudah siap bukan hanya untuk hadir, tapi berarti. Dan ketika para alumni ini sudah turun ke lapangan bukan cuma buat pemotongan pita atau foto-foto di sawah, maka bersiaplah, pelayanan publik di Muba akan terasa lebih cepat, lebih manusiawi, dan lebih profesional. Dan seperti kata pepatah IPDN “Sekali Praja, Tetap Mengabdi.”
Semoga kali ini bukan sekadar kata-kata, tapi jalan hidup.[***]