BIASANYA kisah pahlawan bermula dari jatuhnya meteor atau gigitan laba-laba radioaktif, kali ini datang dari hal yang lebih sederhana anak muda, busana olahraga, dan satu kalimat legendaris “Siap, berani!”.
Itulah jawaban sakti dari Kesya Qonita Dz, atlet panahan asal Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, saat ditantang langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Pak Dito Ariotedjo, bikin momen ini makin greget bukan cuma karena beliau seorang menteri, tapi karena pertanyaannya juga cukup bikin jantung copot “Berani kamu melawan anak-anak yang sempurna?”
JRENGG!.., langsung muncul backsound ala film superhero Marvel di kepala, tapi bedanya, ini bukan film, tapi ini nyata tentang Kesya, satu-satunya atlet panahan difabel (para archery) yang maju ke gelanggang Kejuaraan Nasional Junior 2025 di Kudus. Lawannya? Atlet non-difabel, katanya “sempurna”. Tapi siapa bilang panah harus punya dua kaki buat bisa menembus sasaran?
Di saat anak seusianya mungkin masih sibuk bikin konten di media sosial, atau debat topik berat macam “es teh manis pakai gula cair atau gula batu”, Kesya justru sibuk mengencangkan busur dan mengatur napas.
Dari Muba ke Kudus, bukan cuma menempuh ribuan kilometer jalan, tapi juga menembus ribuan kilometer persepsi publik bahwa keterbatasan bukan alasan untuk jadi biasa-biasa saja.
Kesya tuh ibarat panah dalam etalase busur antik, tidak banyak bicara, tapi sekali dilepas bisa bikin semua orang diam.
Mau difabel atau enggak, kalau sudah di lapangan, semua sama, dikasih satu busur, beberapa anak panah, dan satu kesempatan buat membidik masa depan.
Tebakan saya, banyak lawan yang awalnya mikir “Ah, bisa lah ini”, begitu lihat bidikan Kesya, bisa jadi malah mereka yang gelagapan sambil ngucap “Kok, tepat terus ya?”
Panahan itu bukan cuma soal otot dan teknik, namun juga soal fokus, kesabaran, dan… kontrol emosi. Mirip kayak hubungan LDR, kalau nggak sabar, panah bisa nyasar. Kesya ini bukan cuma memanah papan target, tapi juga memanah stigma masyarakat, dan ternyata, stigma jauh lebih susah ditembus ketimbang papan skor.
Pak Menteri cerita soal atlet taekwondo difabel yang bisa ngalahin yang non-difabel, itu bukan asal sebut, ada benang merah yang terhubung bahwa semangat itu nggak bisa diukur dari jumlah jari kaki.
Bupati Musi Banyuasin, H M Toha SH, pun gak ketinggalan ikut angkat topi (dan mungkin air mata haru). “Kesya adalah wujud nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi”.
Kalimat itu lebih manis dari teh tarik dua lapis gula.
Karena memang betul, kalau semangat sudah di dada, maka kaki bukan lagi penentu langkah, tapi tekad yang jadi penggerak.
Kesya bukan hanya bertanding, dia mewakili suara yang jarang terdengar, dia adalah panah kecil yang terbuat dari semangat raksasa.
Kalau hidup adalah papan target, maka dia sedang mengajarkan kita tidak penting kamu berdiri dengan dua kaki atau satu, yang penting kamu berdiri dengan keberanian.
Untuk itu, para “anak-anak sempurna” yang jadi lawan Kesya hati-hati ya…, karena yang paling tajam di lapangan bukan anak panah…
melainkan tekad anak Muba bernama Kesya. “Kalau kamu merasa gak sempurna, ingatlah bahkan panah juga harus ditarik ke belakang dulu sebelum bisa melesat ke depan”.
Kalau kamu ketemu Kesya di Kudus nanti, jangan lupa ucapkan. “Panahanmu nyasar ke hati kami, Kesya”.[***]