KOTA Palembang mulai mengubah masalah sampah menjadi peluang energi. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Keramasan dirancang untuk menurunkan timbunan sampah kota hingga 30 persen, sekaligus menghasilkan listrik ramah lingkungan hingga 20 megawatt.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menegaskan PLTSa bukan sekadar fasilitas tambahan.
“Dari 1.200 ton sampah harian, PLTSa mampu mengolah hingga 1.000 ton. Ini berarti volume timbunan bisa ditekan secara signifikan,” ujarnya akhir pekan ini.
PLTSa beroperasi 20-24 jam per hari, dengan distribusi sampah 40-50 ton per jam.
Dewa menyebut tantangan utama adalah memastikan pasokan sampah dari seluruh Tempat Penampungan Sementara (TPS) tepat waktu dan sesuai spesifikasi. Saat ini, Palembang memiliki 160 armada pengangkut sampah, sementara kebutuhan minimum mencapai 220 unit.
“Kita perlu menambah armada dan meremajakan kendaraan tua. Sistem distribusi harus berbasis data akurat agar efektif dan efisien,” tegasnya.
Selain menekan volume timbunan, PLTSa juga menekan emisi gas metana berbahaya.
Sistem incinerator membakar sampah pada suhu tinggi, menghasilkan uap yang memutar turbin untuk listrik. Teknologi filtrasi berlapis dan pemantauan emisi terus menerus memastikan baku mutu lingkungan, termasuk pengendalian dioksin, terpenuhi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang, Dr Akhmad Mustain, S.STP, M.Si, menambahkan, sampah akan ditampung di bunker selama tujuh hari sebelum dibakar.
“Uap panas dari pembakaran memutar turbin, menghasilkan listrik. Dari 20 MW produksi PLTSa, 17,7 MW disalurkan ke jaringan PLN,” jelasnya.
Pemkot juga mendorong peran aktif masyarakat. Program Satu Kelurahan Satu Bank Sampah mendorong pemilahan sampah dari rumah tangga dan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Saat ini, 96 dari 107 kelurahan telah memiliki bank sampah. Setiap bank sampah mampu mengurangi 0,5-1 ton sampah per hari, total sekitar 50-100 ton harian, setara 4-8 persen produksi sampah kota.
Dewa menekankan, proyek ini tidak hanya mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tapi juga memperkuat pasokan listrik kota.
“PLTSa membuktikan bahwa sampah bisa menjadi energi bersih sekaligus peluang ekonomi. Ini contoh inovasi kota modern yang mengutamakan lingkungan dan keberlanjutan,” ujarnya.
Seiring PLTSa beroperasi penuh, Palembang diharapkan menjadi kota lebih bersih, hijau, dan mandiri energi. Proyek ini membuka jalan bagi pengelolaan sampah yang efisien sekaligus kontribusi nyata terhadap energi terbarukan. (***)