Sabtu, 24 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » “Warga Buru Heboh, Lah, Sakit Sekarang Nggak Seribet Dulu?”

“Warga Buru Heboh, Lah, Sakit Sekarang Nggak Seribet Dulu?”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
  • visibility 635
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PEPATAH baru yang belum sempat dicetak di buku motivasi, yakni “Harapan bisa dibangun, asal fondasinya niat dan atapnya menyelamatkan nyawa”.

Kurang lebih beginilah semangat yang kini sedang tumbuh di Pulau Buru, Maluku, ketika Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menancapkan batu pertama RSUD Buru, bukan cuma batu biasa, tapi batu harapan, batu penanda, bahwa hidup tak lagi harus dikorbankan karena jarak dan laut.

Bagi warga Buru, selama ini, untuk sekadar melihat hasil CT scan saja harus seperti main Amazing Race. dulu, periksa kepala, tapi harus naik kapal dulu, bolak-balik ombak, lalu antre lagi di Ambon yang sudah kayak stasiun Tanah Abang pas lebaran, kalau pasiennya pingsan di jalan, ya…. bisa-bisa diagnosisnya terlambat, penanganan pun tinggal kenangan.

Kita bicara soal nyawa, bukan cuma data statistik, di pulau-pulau seperti Buru, nyawa bisa hilang bukan karena tak ada ilmu, tapi karena tak ada alat, oleh karena itu, pembangunan RSUD ini lebih dari sekadar proyek fisik, ini soal nyawa yang tidak boleh ditunda.

Menurut Menkes Budi, ada lima penyakit yang paling mematikan di Indonesia, antara lain stroke, jantung, kanker, ginjal, dan kesehatan ibu-anak, itu kayak lima horor yang bisa dihadapi kalau alat medis dan dokter spesialis masih harus import dari pulau sebelah.

Oleh karena  itu, rumah sakit ini tak hanya akan punya bangunan dan spanduk, tapi juga CT scan, cath lab, mamografi, dan mesin cuci darah. Singkatnya dari diagnosa sampai tindakan, semua harus available.

Satu hal yang menarik dari pendekatan Kemenkes kali ini adalah membangun tidak cuma bangunannya, tapi juga orangnya. Menkes Budi mengajak agar daerah ikut serta menyekolahkan anak-anak mudanya menjadi dokter spesialis.

Bak pepatah inovatif “Daripada terus-menerus minta lilin dari tetangga, kenapa tidak bikin listrik sendiri?”. Kalau semua daerah mulai melahirkan spesialis dari dalam, maka krisis tenaga medis akan pelan-pelan terurai.

Negara-negara, seperti Jepang dan Finlandia juga menerapkan sistem desentralisasi tenaga medis, anak daerah kembali ke daerahnya, dan diberi insentif luar biasa agar betah.

Di Indonesia?. Masih banyak dokter yang lebih memilih praktik di Jakarta, karena di kampung belum tentu ada ruang operasi yang ada malah ruang tunggu panjang dan gaji pendek.

Menkes juga sempat nyeletuk, rumah sakit jangan lagi dibangun seperti zaman Belanda. Bangunannya megah, tapi fungsinya bingung. Ruang rawat di kiri, IGD di kanan, ruang tunggu kayak terminal antarkota, dan pasien bingung mau sembuh di mana dulu.

Masterplan

Ini bukan zamannya bikin rumah sakit kayak labirin. Harus ada master plan, terintegrasi, efisien, dan ramah pasien. Kalau bisa, desainnya juga nggak bikin stres.

Satu contoh, rumah sakit modern di Denmark sudah mulai meniru desain taman dan arsitektur hotel, suasana nyaman, staf tersenyum, dan pasien bisa sembuh bukan cuma dari obat, tapi juga dari suasana.

Apa yang terjadi di Namlea ini harus jadi preseden baik. Bahwa Indonesia bukan cuma Jakarta dan sekitarnya. Ada anak-anak yang lahir di Pulau Buru yang berhak mendapat imunisasi, ada ibu hamil yang berhak ditangani bidan ahli, dan ada kakek yang berhak cuci darah tanpa harus naik kapal laut.

Pembangunan rumah sakit ini seakan-akan menjawab doa-doa yang sering diucap sambil memandang laut “Kapan kami punya fasilitas yang layak?” gitulho.

Ketika Gubernur Maluku bilang “Tak ada lagi warga yang meninggal karena telat ditangani”, itu bukan slogan semata, tapi harapan yang kini mulai punya bentuk, punya bangunan, punya ruang ICU.

Kalau semuanya lancar, RSUD Buru jadi, alatnya lengkap, dokternya ada, perawatnya senyum manis, dan masyarakat nggak perlu naik kapal lagi cuma buat periksa darah, mungkin ini bisa jadi lelucon nasional. “Dulu ke Ambon buat CT scan, sekarang ke RSUD Buru sekalian beli gorengan di kantin”.

Nggak heran kalau Pak Bupati senang bukan main, bukan cuma karena ada bangunan baru, tapi karena beliau tahu, ada nyawa-nyawa yang akan selamat, karena rumah sakit bukan bangunan mati, tapi rumah bagi mereka yang ingin hidup.

Akhirnya, kita harus akui kesetaraan itu tidak bisa hanya diomongkan dari podium, harus dibangun. Sama seperti rumah sakit ini, tak sekadar bangunan beton, tapi simbol keadilan. Kita bisa belajar dari negara-negara seperti Thailand, yang dengan cepat membangun rumah sakit di desa-desa terpencil dan melatih tenaga medis lokal agar tidak pergi ke kota besar.

Pemerintah pusat dan daerah, seperti duet gitaris dan vokalis, harus kompak memainkan lagu pembangunan ini. Kalau nadanya pas, hasilnya tak cuma enak didengar, tapi juga menyelamatkan banyak jiwa.

Jadi, mari kita doakan semoga rumah sakit ini tak hanya jadi tempat sembuh, tapi juga tempat tumbuh- tumbuh harapan, tumbuh kepercayaan, dan tumbuh kesadaran bahwa kesehatan adalah hak semua warga, dari Sabang sampai Namlea.

Karena, seperti kata pepatah masa kini “Sehat itu mahal, apalagi kalau harus menyeberang laut dulu”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sambut Ramadan, Aplikasi KESAN Rilis Program Ramadan Euphoria

    Sambut Ramadan, Aplikasi KESAN Rilis Program Ramadan Euphoria

    • calendar_month Rabu, 22 Mar 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.086
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Tingginya keinginan masyarakat dalam belajar agama Islam, terutama saat Ramadan, menginspirasi aplikasi KESAN untuk meluncurkan program barunya: Ramadan Euphoria. Resmi diluncurkan pada Rabu (22/03/2023), Ramadan Euphoria memudahkan pengguna belajar agama Islam secara online lewat aplikasi KESAN juga ditambah kegiatan offline berupa Tabligh Akbar. Para peserta yang mendaftar melalui aplikasi akan memperoleh akses ke […]

  • Muba Raih Medali Peparprov Pertama dari Enrico

    Muba Raih Medali Peparprov Pertama dari Enrico

    • calendar_month Senin, 6 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 827
    • 0Komentar

    KONTINGEN National Paralympic Committee (NPC) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) meraih medali pertama Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) Sumatera Selatan (Sumsel) III-2021 di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dari cabang olahraga (Cabor) chess atau catur. Adalah Enrico Caesar Delano atlet catur NPC Muba yang sukses mempersembahkan medali perak di kategori B 1 atau tuna netra total perorangan […]

  • Memaknai HUT RI ke -75

    Memaknai HUT RI ke -75

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.770
    • 0Komentar

    PADA 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, kemerdekaan yang direbut tersebut bukan hasil dari pemberian ataupun hadiah bangsa Asing [Belanda], namun lewat pengorbanan yang gigih dari seluruh pahlawan di Negeri ini, bahkan ribuan nyawa pun menjadi korban dalam merebut kemerdekaan RI. Hari ini, Senin, 17 Agustus 2020, seluruh rakyat Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan RI yang […]

  • UHC Muba Capai 100 Persen di Sumsel, Wajar Kalo’ BPJS Kesehatan Kasih Ini, Bupati Sebut Sejalan Dengan RPJMN Pemerintah Pusat

    UHC Muba Capai 100 Persen di Sumsel, Wajar Kalo’ BPJS Kesehatan Kasih Ini, Bupati Sebut Sejalan Dengan RPJMN Pemerintah Pusat

    • calendar_month Senin, 30 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 737
    • 0Komentar

    BPJS Kesehatan Cabang Palembang memberikan piagam penghargaan kepada Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA atas komitmennya mencapai Universal Health Coverage (UHC) dalam penyelenggaraan Program JKN-KIS. Piagam penghargaan diberikan langsung oleh Kepala BPJS Kesehatan Cabang, Palembang Rudhy Suksmawan Hardhiko usai penandatanganan nota kesepahaman antara BPJS Kesehatan Cabang Palembang dan […]

  • Alhamdullilah, 507 ASN Disetujui Naik Pangkat

    Alhamdullilah, 507 ASN Disetujui Naik Pangkat

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 992
    • 0Komentar

    SEBANYAK 507 Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Kabupaten  Musi Banyuasin, bakal segera menerima Surat Keputusan (SK) kenaikan pangkat. Tepat pada hari ini, Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional VII Palembang telah menyerahkan 507 berkas Persetujuan Secara Teknis Kenaikan Pangkat ASN Periode Oktober 2020, Rabu (22/7/2020) di Ruang Rapat Sekda. Berkas tersebut diterima secara simbolis  oleh […]

  • Lawan Covid, Disiplin Terapkan Prokes Kunci Sumsel  Bangkit dari Pandemi

    Lawan Covid, Disiplin Terapkan Prokes Kunci Sumsel  Bangkit dari Pandemi

    • calendar_month Rabu, 18 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 652
    • 0Komentar

    MASYARAKAT Sumatera Selatan diharapkan untuk tetap tangguh dalam  melawan pandemi Covid-19  dengan disiplin menerapkan  protokol kesehatan (prokes) secara  ketat sehingga  perayaan  HUT RI  ditahun-tahun mendatang   Indonesia  sudah keluar dari  Pandemi. “Perayaan  HUT RI ke 76 kali ini  kita masih di tengah pandemi covid-19, kita  tidak boleh menyerah  melawan pandemi ini. Dengan mematuhi   protokol kesehatan yang […]

expand_less
WordPress Archive Ftech – IT Solution Technology WordPress Theme Fudo – Real Estate Elementor Template Kit Fugu – NFT & Crypto WordPress Theme Full Width Background Image Slider Fuller – Creative Portfolio, Resume & Agency WordPress Theme FullPage – Fullscreen One Page Theme Fullscreen Parallax WordPress Plugin Fun Facts Pro FundBar – Fundraising Charity WordPress Theme Fundboxs – Charity & Donation WordPress Theme