Sumselterkini.co.id, – Siang belum terlalu tinggi, tapi halaman Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo Palembang sudah penuh sesak oleh manusia-manusia yang berwudhu harapan. Ada yang datang naik motor boncengan tiga, ada yang nebeng truk sayur dari pasar pagi, bahkan ada yang jalan kaki sambil nyeker karena sandal jepitnya putus di tikungan Masjid Agung.
Intinya kemarin, Palembang lagi nggak santai, yang jelas bukan mau demo, bukan pula rebutan sembako. Semuanya berduyun-duyun menuju satu titik kajian “Satu Hari Bersama Al-Qur’an” bersama Ustadz Adi Hidayat, sosok dai dengan logika tajam dan analogi segar yang kerap membuat pendengarnya merasa berdosa sambil senyum-senyum. Di antara kerumunan, tampak para ibu menggandeng anak remaja yang awalnya ogah-ogahan, tapi kini malah paling depan motret ustadz pakai kamera HP yang lensanya ditempelin stiker Doraemon.
Sementara bapak-bapak sibuk merapikan sarung yang melorot perlahan, para pemuda milenial dan Gen Z hadir dengan gaya Islami kekinian gamis linen warna pastel, sepatu sneakers, dan tas selempang berisi mushaf, air mineral, dan niat suci mencari ridho Allah (dan mungkin jodoh). Suasana masjid mendadak jadi seperti oase spiritual, tempat semua ego direbahkan dan hati dibuka selebar sajadah.
Suasana masjid kayak konser akbar, minus lampu strobo dan crowd surfing. Yang manggung? Ustadz Adi Hidayat, ustadz sejuta umat, dai dengan analogi tajam dan senyum selembut lapisan martabak telur paling luar.
Begitu mikrofon dinyalain, suasana langsung tenang. Bahkan jangkrik pun memilih diam. Ustadz Adi Hidayat tampil dengan gaya khasnya penuh ketenangan, senyum manis, tapi isi ceramahnya bisa bikin kepala manggut-manggut, hati netesin air mata, dan otak mikir keras kayak lagi ulangan matematika agama.
“Al-Qur’an itu bukan hanya untuk dibaca, tapi diselami. Jangan jadi kayak orang yang punya kolam renang tapi cuma dicuci doang, nggak pernah nyebur!” ujar beliau, yang langsung disambut senyum malu-malu para jamaah yang selama ini baru baca surat Yasin kalau malam Jumat saja.
Dalam kajian itu, Ustadz Adi menyampaikan tema besar yang bisa jadi kompas hidup, menyelami makna ayat-ayat pilihan Al-Qur’an, menggali pesan kehidupan dari wahyu Ilahi, meningkatkan kecintaan dan kedekatan kita kepada Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman sehari-hari.
“Bacalah Al-Qur’an bukan sekadar karena takut dosa, tapi karena rindu akan petunjuk,” lanjut beliau, yang kalau di-quote di IG Story pakai font aesthetic dan back sound nasyid, bisa langsung viral.
Yang bikin haru sekaligus harapan, banyak banget anak muda hadir dan bukan karena diseret orang tua. Mereka datang karena ingin. Ada yang datang sambil bawa kertas catatan, siap nyalin quote Ustadz Adi buat konten edukatif. Ada pula yang sibuk rekam-rekam pakai HP bukan buat story doang, tapi emang pengin simpen ilmunya. Walau tetap ada juga yang sambil nyari angle selfie terbaik depan kubah masjid. It’s okay, niat tetap lurus.
“Ustadz Adi tuh kayak Google versi syar’i, semua ayat nyambung ke kehidupan. Bener-bener bikin Qur’an jadi relatable, bahkan buat yang baru tobat dari kelakuan semrawut,” ujar Tika, 22 tahun, mahasiswa jurusan Hukum yang ngaku dulu suka begadang buat drakor, sekarang lebih sering begadang buat tadabbur.
Atmosfernya bukan sekadar pengajian, tapi semacam festival keimanan. Ada senyum, ada tangis, ada peluk erat di antara sahabat yang saling mengingatkan. Bahkan ada yang bilang, “Ini lebih adem daripada staycation di Pagaralam.” Sebuah testimoni jujur dan jleb.
Acara ini bukan cuma tentang mendengar tausiyah, tapi juga tentang rasa. Rasa tenang, rasa tercerahkan, dan rasa ingin jadi lebih baik. Sebuah hari yang mungkin akan diingat sebagai titik balik, minimal sebagai hari di mana feed Instagram dipenuhi ayat Al-Qur’an dan caption bijak. Lumayan mengimbangi reels lucu-lucu yang tiap hari lewat di FYP.
Di akhir kajian, Ustadz Adi sempat nyeletuk, “Kalau Qur’an di rumahmu berdebu dan jarang disentuh, mungkin ia sudah rindu padamu.” Hening seketika. Para jamaah menatap ke depan, tapi pikiran langsung nyelusup ke rak buku di rumah. Ya Allah, Qur’anku, aku khilaf.
“Satu Hari Bersama Al-Qur’an” bukan cuma tema acara, tapi pengalaman hidup. Hari itu, banyak hati yang diperbaiki, banyak iman yang di-charge ulang, dan banyak semangat baru yang tercipta. Kalau biasanya hari Minggu jadi waktu healing ke mall, hari itu healing-nya beda langsung dari langit, lewat ayat-ayat cinta dari Sang Maha Cinta.
Kalau kamu kemarin nggak sempat hadir, mungkin ini tandanya kamu harus siap-siap untuk datang berikutnya. Karena kadang, yang kamu butuhkan bukan kopi susu atau drama Korea, tapi selembar ayat yang nyentuh jiwa. Dan satu hari bersama Ustadz Adi Hidayat, cukup buat bikin hati adem kayak es cendol di siang bolong.[***]