Infrastruktur & Transportasi

PUPR Gencarkan Revitalisasi Danau, 8 Jadi Prioritas

foto : ist

KEMENTRIAN PUPR terus menggencarkan revitalisasi danau, terutama di delapan danau prioritas. Keterlibatan masyarakat tentu diperlukan.

Genangan banjir tahunan di sekitar tepian Kali Tuntang di Demak, Jawa Tengah, awal 2021 tak lepas dari kondisi kritis di hulunya, yakni di Danau Rawa Pening. Danau alam yang terletak di lembah Bayubiru, Kabupaten Semarang itu terus mendangkal dan menyempit. Alhasil, danau itu tidak seberapa perkasa lagiuntuk mengemban tugas sebagai pengendali tata air.

Selama ratusan ribu tahun Rawa Pening menjadi penjaga daerah hilir. Berada pada elevasi 465 meter di atas permukaan laut (dpl), Rawa Pening bisa menampung jutaan meter kubik air hujan yang jatuh di lereng-lereng dan kaki Gunung Merbabu, Telomoyo, Ungaran, serta perbukitan di sekitarnya, yang luas seluruhnya mencapai 274 km2.

Desakan populasi penduduk pun mendatangkan erosi besar yang terus-menerus. Belum lagi, 14 kali yang bermuara di sana terus menggelontorkan sampah dan bahan pencemar.  Dalam kurun sekitar 40 tahun terakhir, genangan Rawa Pening berkurang dari 2.675 hektar (26,75 km2) menjadi 18,50 km2.

Daya tampung airnya kini hanya sekitar 49,9 juta m3, susut 30 persen selama 30–40 tahun belakangan. Kedalaman di tengah danau hanya 3–4 meter dan tak ada lagi palung sedalam 15 meter. Gerombolan eceng gondok makin sulit dikendalikan.

Padahal, Rawa Pening adalah sumber daya air yang sangat berharga. Ia adalah area wisata, ladang penghidupan bagi nelayan, dan pembudi daya ikan kolam jaring apung, pembangkit listrik, air irigasi, sumber air baku PDAM, dan banyak manfaat lainnya. Danau alamiah ini dalam keadaan kritis.

Kondisi terakhir Rawa Pening itu hanyalah salah satu potret kondisi danau alam di Indonesia yang secara umum berada di bawah tekanan populasi penduduk. Pemerintah tak tinggal diam. Melalui rilis yang beredar Jumat (12/3/2021), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pihaknya terus melakukan penyelamatan.

Namun, Menteri Basuki menyatakan, penyelamatan danau kritis itu tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah. Perlu penanganan khusus dengan pendekatan yang disebutnya sebagai kegiatan struktural dan nonstruktural. “Keduanya membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat , daerah, serta akademisi, komunitas, dan masyarakat,” ujar Basuki dalam keterangan resminya itu.

Danau-danau itu tidak pernah ditelantarkan. Sebagai Menteri PUPR, Basuki mencanangkan program penyelamatan secara bertahap sejak 2016. Meski banyak danau bermasalah, ia menekankan kegiatan revitalisasi di 15 danau kritis yang menjadi prioritas nasional untuk ditangani. Acuannya adalah Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) di Denpasar, pada  13 Agustus 2009.

Revitalisasi danau bertujuan untuk mengembalikan fungsi alami danau sebagai tampungan air dengan aksi pengerukan sedimen, pembersihan gulma air (eceng gondok), pembuatan tanggul, termasuk penataan daerah aliran sungai (DAS), yang mengalirkan airnya ke danau melalui sungai-sungai.

Delapan Danau

Sebagai Menteri PUPR, Basuki selalu mengalokasikan angaran kementerian untuk revitalisasi danau-danau itu. Pada tahun anggaran 2020, misalnya, kementeriannya merevitalisasi delapan danau kritis, yang terdiri dari enam danau superprioritas dan dua prioritas.

Enam danau superprioritas itu terdiri dari Danau Toba (Sumatra Utara), Danau Maninjau  (Sumatra Barat), Rawa Pening (Jawa Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Limboto (Gorontalo), dan Danau Tempe (Sulawesi Selatan). Ada pun dua danau prioritas itu adalah  Danau Poso (Sulawesi Tengah) dan Danau Sentani (Papua).

Di Danau Toba telah dilakukan preparation of water resources strategic implementation plan for priority lake – west region. Salah satu aksi  yang dilakukan di situ adalah pelebaran Alur Tano Ponggol di Kabupaten Samosir. Alur Tano Ponggol ialah celah paling sempit yang memisahkan Pulau Samosir dari daratan Sumatra.

Celah itu dibuka untuk menjamin sirkulasi air danau. Melintasi celah itu sedang dibangun jembatan besar dan dasar jembatan itu 8–9 meter di atas permukaan air, sehingga kapal-kapal wisata bisa leluasa melewatinya. Program penataan Alur Tano Ponggol itu dibiayai dari APBN tahun anggaran 2020 dan 2021. Danau Toba ialah yang terbesar di Indonesia yang mampu menampung air lebih dari 256 miliar m3.

Pada Danau Maninjau di Kabupaten Agam juga dilakukan preparation of water resources strategicimplementation plan for priority lake – west region. Danau ini memiliki volume tampung 10,33 miliar m3 dan luas 9.996 hektare.

Di Rawa Pening, program jajaran PUPR membersihkan gulma eceng gondok, mengangkut sedimen lumpur, dan menggali tepian danau untuk mencapai luas genangan seperti yang semula. Persoalan Rawa Pening mirip dengan yang terjadi di Danau Tempe, Sulsel, yakni sedimentasi, eceng gondok, dan alih fungsi di area genangan. Danau Tempe ini memiliki area seluas 162,50 km2 dengan volume air 207 juta m3.

Pada Danau Limboto di Gorontalo, yang daya tampung airnya 75 juta m3 dan luas 30 km2, persoalan yang dihadapi pun mirip dengan Danau Tempe dan Rawa Pening, yakni sedimentasi, eceng gondok, dan okupasi lahan di tepian danau yang mengering akibat pendangkalan. Limboto juga menjadi sumber banjir tahunan. Dengan anggaran 2021, tepian danau kembali dikeruk dan diberi tanggul untuk menghindari okupansi lahan.

Danau superprioritas keenam, Tondano di Sulut yang volume tampungnya 669 juta m3 di genangan 46 km2, revitalisasi dilakukan, antara lain, dengan membangun tanggul pembatas guna mencegak okupansi lahan. Revitalisasi juga menyangkut pengelolaan Sungai Tondano yang mengalirkan air danau dan bermuara di Kota Manado. Tanggul-tanggul kali dibangun untuk mencegah air sungai meluap.

Danau Poso di Sulawesi Tengah (volume tampung 72  miliar m3 dan luas 379 km2) punya masalah dengan pendangkalan, pencemaran, dan terganggunya migrasi ikan sidat dari dan ke laut. Pada tahun anggaran 2021, jajaran PUPR melakukan penetapan batas badan dan sempadan Danau Poso. Pengerukan sulit dilakukan karena luasnya areal danau.

Pada deretan prioritas berikutnya ada Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua. Danau seluas 93 km2 dengan daya tampung air 4,8 miliar m3 itu juga punya masalah sedimentasi. Erosi di hulu-hulu sungai yang mengalir ke danau cukup tinggi.

Dengan daya tampung yang menyusut, ketika hujan deras turun beberapa hari, permukaan air danau naik, lantas massa air dalam volume besar mengalir deras melalui Sungai Jaifuri dan menimbulkan banjir bandang di hilir seperti yang terjadi pada 2019. Revitalisasi Danau Sentani terus berlanjut pada 2021, menyangkut pembangunan pengendalian erosi hingga pembangunan turap pencegahan banjir Sungai Jaifuri.

Danau-danau besar itu selama ini tidak hanya menjadi bagian dari sistem tata air. Mereka juga menjadi bagian dari sistem sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya, dan karenanya perlu dijaga keberlanjutannya. Keterlibatan masyarakat mutlak diperlukan.

Indonesia.go.id

 

 

Comments

Terpopuler

To Top
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com