Sumselterkini.co.id, – Hari ini, 8 Zulhijah 1446 H alias 4 Juni 2025, jemaah haji Indonesia resmi “diarak” dari hotel ke Padang Arafah, bukan diarak pakai ogoh-ogoh, tentu saja. Namun dimobilisasi dengan rapi, seperti pindahan RT ke tempat resepsi mantu, ini bukan sekadar pindahan, tapi pindahan rohani, karena besok adalah puncak segala puncak wukuf di Arafah.
Dan seperti biasa, Menteri Agama, Pak Nasaruddin Umar, tampil bukan hanya sebagai Menteri, tapi juga semacam komandan upacara spiritual yang sambil tersenyum tetap tegas menyampaikan “Jangan sampai peci nyelonong ke kepala pas ihram. Panas-panas ya sabar, jangan tiba-tiba pakai kupluk kayak mau nonton bola di GBK”.
Pak Menteri tampaknya paham betul godaan zaman now bukan cuma godaan syaitan, tapi juga godaan kamera depan. Maka disinggunglah juga soal jari-jari yang hobi me-WA. Nah ini. WA boleh, tapi jangan dipakai buat julidin jemaah sebelah yang ngoroknya kayak mesin jet. Atau selfie sambil ngasih caption, “Wukuf dulu, baru nyicil rumah”. Haji itu bukan endorse.
Katanya lagi, jangan sampai karena iseng nyisir rambut, tiba-tiba jadi bayar dam. Ya Allah, sudah bayar mahal-mahal naik haji, masa gara-gara rambut satu helai yang gugur, jemaah harus nambah “pajak”? Ini bukan drama Korea, ini Arafah, Saudara-saudara.
Dalam kondisi ihram, mencabut rumput saja dilarang. Mematahkan ranting? Haram. Bunuh nyamuk? Harus sabar, jangan langsung geprak. Bayangkan, betapa lembutnya ajaran ini. Rumput pun dihargai, nyamuk pun dibiarkan hidup. Maka manusia, apalagi sesama jemaah, apalagi istri orang eh, maksudnya apalagi keluarga kita, mestinya lebih dijaga hatinya.
Maka dari itu, ujar Menag, jangan buang waktu dengan caci maki, apalagi ghibah. Ingat pepatah Arab “Al-lisan tu’biru ‘anil qalb” mulut itu cerminan isi hati, kalau isinya umpatan, jangan-jangan hatinya lebih kotor dari sendal jemaah yang ketuker.
Di sinilah pentingnya menyadari bahwa wukuf itu bukan piknik spiritual. Ini adalah puncak kesadaran diri, di Arafah, semua sama. Tak peduli kamu juragan sawit atau tukang parkir. Yang dinilai bukan dompet, tapi doa dan air mata. Doa di Arafah, kata Menag, nggak ditolak Allah. Nah, ini kesempatan emas!, kalau masih sempat mikir nulis status, sebaiknya tulis doa dulu.
Doakan orang tua, keluarga, tetangga, bahkan mantan yang masih nyangkut di hati, tapi jangan lupa, doakan juga bangsa ini. Kata Menag, supaya jadi bangsa yang stabil, kompetitif, dan harum. Jangan harum karena kasus korupsi, tapi harum karena akhlak dan prestasi.
Menag juga minta agar yang di Tanah Air tak sekadar update status “Bapakku sedang wukuf” tapi juga ikut mendoakan. Jangan cuma doakan lulus CPNS, doakan juga supaya para jemaah kuat lahir batin, tidak lupa niat, dan pulang dengan haji yang mabrur, bukan cuma mabrur di feed Instagram.
Dan untuk yang sudah pernah haji? Jangan lupa perbarui kemabruran. Ini bukan SIM, tapi tetap butuh perpanjangan rohani, istighfar, banyakin amal, jangan merasa sudah senior lalu bisa meremehkan yang baru pertama kali naik haji.
Pada akhirnya, kita semua sedang menuju rumah yang sama kampung akhirat, Haji adalah salah satu tiket VIP-nya. Tapi ingat, tiket ini bukan sekadar untuk ditunjukkan, tapi untuk dipertanggungjawabkan, jangan sampai pulang haji malah makin judes, makin pelit, dan makin gemar ngebully. Kalau pulang haji, wajah kita masih mirip spanduk caleg gagal, berarti belum mabrur.
Haji itu bukan akhir, tapi awal. Maka kepada jemaah yang sedang menuju Arafah, ingatlah di sinilah kau sedang wukuf dengan masa lalu. Semua kesalahan digelar, semua dosa disetor. Maka menangislah dengan segenap hatimu. Karena mungkin, inilah detik paling sunyi yang bisa menjadikan kita manusia baru, Amin…[***]