KELANCARAN operasional haji 2026 patut diapresiasi seiring memasuki hari ke -11, tetapi hal itu tidak boleh menutupi satu fakta penting yaitu sistem penyelenggaraan haji Indonesia masih bekerja dengan tekanan struktural yang belum selesai.
Di permukaan, jutaan jemaah bergerak tertib, di bawahnya, beban tata kelola, pengawasan, dan disiplin regulasi masih menyisakan pekerjaan besar.
Data Kementerian Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Kemenhaj) menunjukkan hingga 30 April 2026 sebanyak 62.193 jemaah telah diberangkatkan dalam 159 kloter. Sebanyak 57.955 jemaah telah tiba di Madinah dan ribuan lainnya mulai bergerak ke Makkah. Secara administratif, hal ini tentunya capaian besar yang menunjukkan mesin operasional bekerja.
Namun kelancaran bukan satu-satunya indikator keberhasilan sebab Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menjelaskan seluruh layanan berjalan baik dengan pengawasan petugas di lapangan. Ia menegaskan tidak ada kompromi terhadap pelanggaran aturan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Pernyataan menegaskan negara masih harus memperkuat kontrolnya terhadap ekosistem haji yang kompleks dan melibatkan banyak aktor, termasuk Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Apalagi dalam pelaksanaannya KBIHU menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan dalam evaluasi sistem.
Lembaga ini berperan sangat penting dalam pembinaan jemaah, tetapi posisinya juga sering berada di area abu-abu antara fungsi sosial dan kepatuhan regulasi.
Di satu sisi membantu negara, di sisi lain menjadi bagian dari sistem yang harus diawasi ketat.
Memang tak terlihat nyata, tetapi hadir dalam praktik tata kelola, sejauh mana lembaga pendamping mengikuti standar negara, dan sejauh mana negara mampu memastikan keseragaman implementasi di lapangan.
Selain itu, isu pengawasan terhadap jalur keberangkatan nonprosedural menjelaskan bahwa sistem haji masih memiliki celah yang terus diantisipasi dari tahun ke tahun.
Oleh karena itu Satgas pencegahan haji ilegal bergerak lintas instansi menjadi bukti risiko penyimpangan tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah bentuk.
Artinya, keberhasilan operasional tidak otomatis berarti sistem sudah kuat, malah justru menunjukkan sistem masih membutuhkan kontrol berlapis untuk menjaga stabilitas.
Disamping itu tekanan juga muncul dari aspek mobilitas jemaah.
Beban masif
Lebih dari 60 ribu orang bergerak dalam waktu hampir bersamaan, dengan kebutuhan layanan yang sangat kompleks. Pemerintah mengatur transportasi, konsumsi, dan akomodasi dalam skala besar, namun tantangan selalu sama, yaitu bagaimana menjaga kualitas layanan tetap konsisten di tengah beban masif.
Data kesehatan memperkuat gambaran tersebut, sebanyak 4.246 jemaah menjalani rawat jalan, puluhan dirujuk ke fasilitas kesehatan Arab Saudi, dan lima jemaah wafat hingga akhir April 2026. Ini bukan angka yang mengejutkan dalam konteks haji, tetapi tetap menjadi indikator bahwa risiko tidak pernah bisa dihilangkan dari sistem sebesar ini.
Fakta lain yang tidak kalah penting adalah faktor cuaca ekstrem. Suhu di Makkah dan Madinah yang mencapai hampir 39 derajat Celsius menambah tekanan fisik bagi jemaah, terutama lansia. Di sini, sistem layanan diuji bukan hanya dari sisi logistik, tetapi dari kemampuan respons terhadap kondisi nyata di lapangan.
Juru Bicara Kemenhaj sendiri mengingatkan jemaah untuk membatasi aktivitas siang hari dan menggunakan perlindungan sederhana seperti payung, masker, dan hidrasi cukup. Imbauan ini sederhana, tetapi mencerminkan realitas: beban utama ibadah haji tetap berada pada ketahanan fisik jemaah.
Bahkan lebih jauh lagi, haji 2026 bisa dikatakan konsisten dari tahun ke tahun apalagi sistem selalu mampu bergerak, tetapi tidak selalu sepenuhnya matang dalam pengendalian risiko dan harmonisasi aktor.
Kelancaran operasional adalah capaian penting. Namun ukuran keberhasilan haji tidak berhenti di situ, pasalnya mencakup sejauh mana negara mampu memastikan sistem tetap bersih dari celah, lembaga pendamping tetap berada dalam koridor, dan jemaah mendapatkan perlindungan yang setara.
Tanpa itu, kelancaran hanya menjadi permukaan dari sistem yang masih terus diuji di dalamnya. (***)