Teknologi perikanan, ekonomi desa, dan pelajaran kemandirian
IKAN itu sebenarnya makhluk jujur, ia segar ya.. segar, busuk ya.. busuk, ia tak bisa berpura-pura seperti manusia yang dompetnya tipis tapi senyumnya tebal. Maka urusan ikan selalu berpacu dengan waktu. Telat sedikit, nilainya bisa turun lebih cepat dari sinyal ponsel di tepi pantai.
Selama ini, urusan ikan di desa pesisir sering berjalan lurus-lurus saja, ditangkap, dibawa pulang, lalu dijual secepat mungkin. Bukan karena harga yang sedang cantik, tapi karena takut.
Teganya, ikan takut basi, takut bau duluan, takut es keburu cair, dan ikan baru naik darat hingga napas belum sempat teratur, eh.. sudah disuruh berangkat ke pasar.
Nah, di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Purworejo, Jawa Tengah datang membawa logika baru jangan buru-buru menjual kalau masih bisa mengelola lantaran dua lokasi KNMP di Desa Kertojayan dan Jatimalang, kini hampir rampung, dengan progres pembangunan di kisaran 70–80 persen dan ditargetkan selesai awal 2026.
Bahkan lebih dari Rp40 miliar digelontorkan untuk memastikan desa pesisir punya fasilitas yang bukan sekadar cukup, tapi lengkap. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan, KNMP bukan hanya soal menaikkan produksi.
“Kita ingin teman-teman nelayan punya hasil produksi yang maksimal, sehingga ikan yang dihasilkan punya daya saing. Dengan begitu penghasilan meningkat, sekaligus mendorong mereka menaikkan skala usaha,” ujarnya mengutip di laman resmi KKP baru -baru ini.
Pernyataan ini menjelaskan arah besar KNMP, bukan hanya menambah tangkapan, tapi memperbaiki cara memperlakukan hasil tangkapan, pasalnya ikan yang baik itu, bukan hanya yang banyak, namun yang kualitasnya terjaga.
Selain itu, teknologi juga menjadi kunci, cold storage, gudang beku, bengkel kapal, hingga pabrik slurry ice juga disiapkan. Meski demikian soal es ini, jangan dianggap sepele. Slurry ice, es super halus berbahan air laut, tugasnya satu yaitu menjaga ikan tetap segar tanpa drama. Ikan diselimuti dingin, bukan disiksa panas. Hasilnya, kualitas aman, harga pun lebih manusiawi.
Menko Pangan Zulkifli Hasan yang meninjau langsung lokasi pembangunan bahkan menekankan, agar fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan.
“Fasilitas yang disiapkan lengkap sekali di sini, mulai dari gudang beku sampai bengkel kapal. Kalau sudah beroperasi harus benar-benar dimanfaatkan,” katanya.
Dengan fasilitas selengkap ini, tentu ikan tidak lagi hidup di bawah ancaman jam dan menit. Jual bisa diatur, simpan dan bisa ditimbang, dan keputusan bisa diambil dengan kepala dingin. Ikan berubah fungsi dari sekadar hasil harian menjadi aset yang dikelola.
Dampak langsung
KNMP juga memberi dampak langsung ke darat, misalnya pembangunan menyerap lebih dari 150 tenaga kerja dari warga sekitar dan wilayah lain di Pulau Jawa.
Bahkan desa yang biasanya tenang mendadak ramai, misalnya warung hidup, obrolan panjang, ekonomi ikut bergerak, tanpa perlu slogan panjang-panjang.
Fasilitas pendukung lain seperti SPBN terintegrasi, kios perbekalan, bale pelatihan, hingga peralatan operasional untuk koperasi juga disiapkan. Ini bukan proyek satu kali datang lalu selesai, melainkan ekosistem yang dirancang, agar bisa berumur panjang.
Yang menariknya lagi, KNMP ini diam-diam mengajari desa soal manajemen. Tanpa ceramah, tanpa modul tebal, belajarnya lewat praktik, sebab ketika fasilitas ada, keputusan tak lagi diambil karena panik, tapi karena perhitungan, persis seperti rumah tangga yang akhirnya punya kulkas sehingga belanja jadi bisa diatur, bukan sekadar dihabiskan.
Oleh karena itu, KNMP Purworejo bukan sekadar bangunan dan mesin, ia membawa cara berpikir baru dalam mengelola hasil laut lebih tenang, lebih terukur, dan lebih bernilai.
Selain itu, teknologi perikanan menjadi alat, ekonomi desa ikut bergerak, dan pelajaran kemandirian tumbuh pelan-pelan, dari urusan ikan Purworejo sedang belajar masa depan tidak harus dijual cepat, asal dikelola dengan benar.
Dan, KNMP mengajarkan satu hal sederhana, yaitu ikan tak pernah minta diperlakukan istimewa, cukup dijaga dengan benar. Ketika desa punya alat, waktu tak lagi jadi musuh, tapi kawan berpikir. Dan dari pesisir Purworejo kemandirian itu lahir bukan dari tergesa-gesa, melainkan dari kesiapan.(***)