PESATNYA laju pembangunan properti di Kota Palembang mendorong Pemerintah Kota Palembang mempertegas pentingnya pengendalian tata ruang dan kepatuhan terhadap aturan, seiring meningkatnya investasi dan aktivitas pengembang di berbagai kawasan kota.
Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang, Aprizal Hasyim, saat menghadiri Soft Launching Mockup House Swift dan Ostrich di Lindypark Private Preview, Palembang, kemarin.
Dalam kesempatan itu, Aprizal mengapresiasi konsep hunian yang dinilai nyaman dan aman, namun tetap mengingatkan agar pembangunan berjalan selaras dengan regulasi dan estetika kota.
“Pembangunan Kota Palembang perlu dipercepat, tetapi tetap harus memperhatikan aturan dan wajah kota. Pengembang harus membangun sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Aprizal.
Belakangan ini, Palembang memang seperti sedang kebanjiran proyek. Spanduk perumahan berdiri di banyak sudut kota, iklan hunian berseliweran, dan suara alat berat menjadi latar musik harian. Ekonomi bergerak, geliat investasi terasa, dan roda pembangunan berputar semakin kencang.
Namun, kota bukan hanya soal seberapa cepat beton berdiri. Kota juga butuh napas. Pembangunan yang terlalu cepat tanpa arah berpotensi memunculkan persoalan klasik kawasan padat tanpa perencanaan matang, lalu lintas makin sesak, hingga ruang hijau yang tergerus pelan-pelan. Bukan karena investasi salah, melainkan karena pengendalian terlambat.
Di titik inilah peran pemerintah diuji. Bukan sebagai penghambat laju pembangunan, tetapi sebagai pengarah. Investor tetap disambut, pengembang tetap diberi ruang, namun aturan tetap berdiri sebagai pagar bersama. Pembangunan boleh melaju, tapi tidak boleh kehilangan jalur.
Aprizal juga mengajak seluruh pengembang dan pelaku usaha untuk sejalan dengan visi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palembang. Ia berharap pembangunan dilakukan secara cepat, tetapi tetap terukur agar menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.
Dari sisi ekonomi, tren investasi di Kota Palembang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sektor properti menjadi salah satu motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi ini menjadi peluang besar, sekaligus tanggung jawab bersama agar pertumbuhan tidak meninggalkan persoalan jangka panjang.
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta pun menjadi kunci. Kota yang tertata bukan hasil kebetulan, melainkan hasil kesepahaman antara kepentingan ekonomi dan kepentingan publik. Palembang bukan hanya ruang bisnis, tetapi juga ruang hidup bagi jutaan warganya.
Pesan moralnya sederhana kota yang baik dibangun dengan rencana, bukan sekadar kecepatan. Aturan bukan musuh pembangunan, melainkan penopang agar hasilnya bisa dinikmati lebih lama.
Ke depan, Pemkot Palembang optimistis geliat investasi dan pembangunan dapat terus berjalan seiring dengan penataan kota yang lebih baik. Properti boleh ngebut, tapi tanpa rem dan arah, laju justru berisiko. Palembang tak hanya butuh cepat, kota butuh tertata. (***)