Sumselterkini.co.id, – Kalau biasanya orang ke Jepang itu nyari sakura, ramen halal, atau sekadar numpang selfie di Shibuya yang katanya lebih ramai dari pasar 16 Ilir waktu diskon, kali ini Indonesia malah datang dengan niat mulia nyari cuan hijau.
Tapi bukan cuan dari nyolong daun teh atau bambu tetangga, melainkan investasi berkelanjutan yang katanya ramah lingkungan, ramah UMKM, dan tentu saja ramah masa depan.
Paviliun Indonesia di World Expo 2025 Osaka mendadak jadi warung kopi diplomatik tempat bandeng, panel surya, dan tramway ngopi bareng. Forum bisnis yang digelar Bank Indonesia lewat tema “Sustainable Growth through Connectivity: Unlocking Indonesia’s Green Investment Opportunities” ini tak ubahnya seperti arisan RT tapi levelnya internasional. Pesertanya 70 orang, dari Jepang sampai ke Jambi, dari bank sentral sampai pembudidaya ikan bandeng yang nyaris viral di TikTok.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, tampil seperti kepala suku keuangan hijau. Beliau menyampaikan bahwa transformasi ekonomi yang tangguh dan ramah lingkungan itu ibarat bikin tempe kalau kedelainya busuk, hasilnya juga anyep. Maka dari itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor mirip masak rendang bareng, ada yang bagian ngiris bawang, ada yang kipas arang, ada juga yang bagian nyicipin doang.
Bank Indonesia juga nyatakan dukungan terhadap sistem pembayaran digital dan pemberdayaan UMKM. Nah, ini penting. Karena tanpa UMKM, kita tak lebih dari negara besar dengan warung kecil yang megap-megap. Digitalisasi itu seperti mengganti cangkul dengan dronelebih cepat, lebih presisi, tapi tetap butuh orang yang tahu cara nyalainnya.
Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi, juga mengingatkan bahwa hubungan Indonesia-Jepang ini sudah kayak hubungan menantu dan mertua akrab, strategis, tapi tetap harus hati-hati kalau ngomong.
Mereka saling bantu di dapur ekonomi hijau dan hilirisasi industri. Pepatah bilang, “Kalau ingin berjalan cepat, jalanlah sendiri. Tapi kalau mau investasi triliunan, bawa proposal ke Jepang.”
Dan hasilnya? Wah, bukan kaleng-kaleng. Ada Letter of Intent alias surat cinta berbau bisnis dari investor Jepang. Ada yang mau bangun Bogor Tramway biar warga Bogor bisa ngacir ke pasar tanpa bonceng motor mertua.
Ada juga pembangkit listrik tenaga surya apung ini beneran apung, bukan mengapung di utang. Ada proyek budidaya bandeng terintegrasi (mungkin nanti bandengnya bisa upload story sendiri), dan proyek pengelolaan limbah jadi RDF, alias Refuse-Derived Fuelsemacam bensin dari sampah, cocok buat yang hobinya ngeluh tapi tak buang sampah pada tempatnya.
Tak kalah penting, forum ini juga ngangkat isu transaksi pakai mata uang lokal (LCT) dan peluang investasi hijau yang katanya bikin investor Jepang makin sumringah, kayak nemu sushi isi rendang. Sesi business matching pun seperti speed dating versi ekonomi. Ada 35 calon investor ketemu 10 pemilik proyek. Siapa tahu jodoh investasi bisa tumbuh dari pandangan pertama dan spreadsheet yang menarik.
Kalau boleh jujur, forum seperti ini seharusnya bukan jadi acara musiman. Jangan sampai kita hanya rajin dandan kalau ada World Expo, tapi lupa kalau ekonomi hijau itu bukan sekadar janji manis di depan investor.
Seperti kata pepatah Bugis yang entah dari mana asalnya “Kalau daun lontar bisa jadi kitab, maka proposal investasi pun bisa jadi sejarah—asal jangan dibuang ke laci begitu pulang.”
Osaka mungkin tempatnya sumo dan sushi, tapi pekan ini juga jadi tempat bandeng, tramway, dan proyek panel surya bersatu dalam forum cinta eh, maksudnya forum bisnis. Mari kita jaga semangat ini, karena dunia sedang menuju era hijau, dan Indonesia tak boleh cuma jadi penonton yang tepuk tangan sambil nyalain lampu minyak.
Jepang sudah sedia modal, kita sediakan semangat. Kalau keduanya nyambung, masa depan kita bisa lebih terang dari solar panel siang bolong.[***]