Airlangga Ungkap 3 Bidang Bakal Tentukan Masa Depan Anak Muda
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 35 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ekon.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perkembangan teknologi mulai mengubah kebutuhan dunia kerja. Generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga perlu membekali diri dengan kemampuan yang sesuai dengan perkembangan industri.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), semikonduktor, dan talenta digital menjadi bidang yang dinilai penting bagi arah ekonomi Indonesia ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, generasi muda memiliki keunggulan karena lebih akrab dengan teknologi digital dibandingkan generasi sebelumnya. Potensi tersebut perlu diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan dan menciptakan nilai tambah.
“Anak-anak muda ini menjadi digital literate dibandingkan dengan eyang dan buyut-buyutnya, jadi ini adalah the next economy yang harus kita kuasai,” kata Airlangga dalam Kuliah Umum dan Penyerahan Beasiswa DPP Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tahun 2026, melansir laman resmi ekon, Jumat (9/10/2026).
Menurut Airlangga, perkembangan teknologi juga akan memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Karakter pekerjaan di industri berbasis teknologi akan berbeda dengan sektor padat karya maupun industri padat modal sehingga penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu berjalan beriringan.
Pemerintah pun mendorong pengembangan ekosistem digital yang menghubungkan pusat data (data center), AI, semikonduktor, dan talenta digital. Keempatnya dinilai memiliki peran penting dalam mendukung produktivitas industri sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan global.
Dorong Indonesia Tak Sekadar Jadi Pengguna Teknologi
Upaya memperkuat ekonomi digital tidak cukup hanya dengan memperluas penggunaan teknologi. Indonesia juga perlu meningkatkan kemampuan untuk merancang, mengembangkan, dan menghasilkan produk teknologi sendiri.
Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah adalah menjalin kerja sama pengembangan teknologi semikonduktor dengan ARM Holdings dari Inggris. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan desain semikonduktor sekaligus menyiapkan talenta yang dibutuhkan industri.
Di bidang kecerdasan buatan, Indonesia juga memperkuat keterlibatan dalam kerja sama internasional melalui keikutsertaan sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Sementara di tingkat ASEAN, pengembangan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) diharapkan dapat memperluas integrasi ekonomi digital dan membuka peluang bagi pelaku usaha maupun tenaga kerja Indonesia.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Pemerintah mendorong sejumlah program, mulai dari pertukaran talenta teknologi dengan Singapura, pengembangan ekosistem perusahaan rintisan digital, hingga Digital Talent Scholarship.
Selain itu, tersedia insentif Super Tax Deduction hingga 200 persen untuk kegiatan tertentu yang memenuhi ketentuan. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan kompetensi dan pengembangan sumber daya manusia melalui kegiatan yang memenuhi persyaratan.
Hilirisasi dan Energi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Di luar sektor digital, pemerintah juga mengandalkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Pengolahan komoditas di dalam negeri dinilai dapat memperkuat keterkaitan industri sekaligus meningkatkan nilai ekspor.
Kinerja ekspor produk mineral dan logam tercatat meningkat dari sekitar USD1,4 miliar pada 2016 menjadi USD35 miliar pada 2025. Diversifikasi produk turunan kelapa sawit juga bertambah dari 54 menjadi 208 produk.
Pemerintah turut mendorong pengembangan energi hijau sebagai sumber pertumbuhan ekonomi berikutnya. Kebutuhan listrik nasional diperkirakan meningkat seiring dengan aktivitas ekonomi dan perkembangan industri hingga 2030.
Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, Presiden mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga kapasitas 100 gigawatt. Pengembangan pembangkit ini perlu didukung sistem penyimpanan energi agar pasokan listrik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Di sisi perdagangan, pemerintah terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian dengan mitra internasional, termasuk Uni Eropa, Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Swiss. Perluasan akses tersebut diharapkan membuka kesempatan ekspor bagi produk unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, alas kaki, kopi, furnitur, serta produk pertanian dan perikanan.
Indonesia sendiri masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen secara year-on-year pada semester I 2026. Konsumsi domestik dan investasi menjadi penopang pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global. Adapun inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen.
Mahasiswa Didorong Terus Belajar
Di hadapan civitas akademika UNNES, Airlangga juga menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan agar generasi muda mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri.
Pesan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan literasi digital, kemampuan mengolah data, serta pemanfaatan AI. Kompetensi tersebut diharapkan dapat melengkapi keilmuan utama yang diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan juga diperkuat melalui program beasiswa Dewan Penyantun Pendidikan UNNES. Pada 2026, program tersebut menjangkau 531 mahasiswa selama empat tahun masa perkuliahan. Jumlah itu meningkat dibandingkan 376 mahasiswa pada 2024 dan 506 mahasiswa pada 2025.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan, penyampaian informasi mengenai kebijakan ekonomi kepada civitas akademika merupakan bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam mengawal pembangunan.
Ia menyampaikan bahwa mahasiswa didorong untuk terus memperdalam keilmuan, menerapkan prinsip lifelong learning, meningkatkan literasi digital, menguasai pengolahan data, serta memanfaatkan AI.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital, Rektor UNNES beserta jajaran, Majelis Wali Amanat, serta Dewan Penyantun Pendidikan UNNES. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
