Ekonomi Digital

Akhir Era Si Burung Hijau? Aplikasi Tokopedia Isunya Bakal Ditutup, Diganti Aplikasi Baru TikTok

tokopedia-tiktok-shop

Industri teknologi Indonesia diguncang kabar mengejutkan. Aplikasi Tokopedia, yang selama lebih dari satu dekade menjadi ikon belanja online nasional, dikabarkan akan segera ditutup dan digantikan oleh aplikasi khusus e-commerce baru dari ekosistem TikTok.

Langkah radikal ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi ByteDance (induk usaha TikTok) untuk memisahkan fungsi media sosial dan belanja secara total, sekaligus menyatukan infrastruktur teknologi mereka di bawah satu payung besar.

Sinyal Penutupan Kian Menguat

Kabar ini pertama kali mencuat melalui bocoran orang dalam yang menyebutkan bahwa tim teknologi di Tokopedia dan TikTok E-commerce Indonesia sudah mulai mendapatkan arahan terkait rencana transisi ini. Sinyal perubahan besar ini sebenarnya sudah terlihat dari beberapa peristiwa krusial setahun terakhir:

  • Perombakan Petinggi: Melissa Siska Juminto, yang telah memimpin Tokopedia sejak era GoTo, digeser posisinya dari CEO menjadi komisaris. Jabatan strategis kini dipegang oleh eksekutif yang berafiliasi dengan ByteDance.

  • Gelombang PHK: Sejak akuisisi 75% saham oleh ByteDance pada Januari 2024, efisiensi besar-besaran terus terjadi. Hingga Agustus 2025, tercatat sekitar 420 karyawan di divisi IT hingga layanan pelanggan telah dipangkas.

  • Penyatuan Sistem Penjual: Saat ini, para penjual sudah dipaksa menggunakan satu pintu masuk yang sama, yaitu Tokopedia & Shop Seller Center.

Jawaban Mengambang dari Pihak TikTok

Menanggapi isu penutupan aplikasi “Si Burung Hijau”, juru bicara TikTok tidak memberikan bantahan tegas. Mereka hanya menyatakan komitmen untuk terus berinvestasi di Indonesia.

“Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan,” ujar juru bicara TikTok kepada media (30/1/2026).

Kalimat “investasi di Indonesia” ini ditafsirkan banyak pengamat bukan berarti mempertahankan aplikasinya, melainkan memperkuat pangsa pasar mereka melalui entitas baru yang lebih terintegrasi dengan algoritma TikTok.

Dampak Bagi Pengguna dan UMKM

Kabar ini muncul di saat yang cukup kritis, yakni hanya beberapa minggu menjelang bulan suci Ramadhan 2026. Transisi aplikasi di tengah musim puncak belanja dikhawatirkan akan membingungkan pembeli setia Tokopedia.

Selain itu, muncul keresahan di kalangan pedagang lokal terkait isu subsidi iklan hingga 30% yang diduga diberikan TikTok kepada pedagang asal China, sementara pedagang lokal tidak mendapatkan fasilitas serupa. Jika aplikasi Tokopedia benar-benar melebur total ke ekosistem TikTok, persaingan harga dengan barang impor diprediksi akan semakin liar.

Akhir Sebuah Legenda?

Jika rencana ini terwujud, maka aplikasi Tokopedia yang didirikan oleh William Tanuwijaya pada 2009 ini akan resmi menyusul jejak merek-merek besar lain yang “hilang” setelah diakuisisi raksasa global. Pengguna kemungkinan besar harus mengunduh aplikasi mandiri baru—kemungkinan bernama TikTok Shop by Tokopedia—untuk tetap bisa berbelanja.

Hingga berita ini diturunkan, aplikasi Tokopedia masih terpantau beroperasi normal sebagai aplikasi ritel dengan jumlah unduhan terbesar ketiga di Indonesia. Namun, masa depannya kini berada di ujung tanduk.

To Top