Sinergi Bank Sumsel Babel dan Pemkab Banyuasin menghadirkan ruang UMKM di Sembawa
KERAMAIAN itu seperti mie instan, cepat diseduh, cepat pula habisnya, sore ramai, malam hanya tinggal bungkus. Besok paginya, hidup jalan lagi seperti biasa. Warung kembali buka, pedagang mulai gelar lapak, dan hitung-hitungan modal kembali dilakukan dengan wajah setengah berharap, setengah pasrah.
Oleh karena itu, sebuah acara baru layak diingat kalau ceritanya tidak ikut selesai bersama musik penutup.
Di Sembawa, Banyuasin, sendiri cerita itu tidak berhenti di garis finis, sebab Acara Sembawa Color Run 2025 di kawasan Pusat Penelitian Karet (PPK) memang berlangsung meriah.
Orang-orang datang dengan sepatu olahraga, pulang dengan baju penuh warna. Ada yang niat lari, ada yang niat foto. Ada yang ngos-ngosan, ada pula yang tetap sempat live di tengah lintasan. Semua sah, namanya juga acara publik.
Namun yang paling menariknya, yaitu panitia tidak buru-buru menutup buku cerita, setelah cat dibersihkan dan peserta pulang, justru ada kelanjutan yang jarang diperhatikan, urusan perut dan penghidupan.
Oleh sebab itu, Bank Sumsel Babel bersama Pemerintah Kabupaten Banyuasin dan Pusat Penelitian Karet memilih tidak menjadikan acara ini sekadar bahan unggahan media sosial.
Mereka menyambung euforia lari dengan langkah yang lebih membumi dan memberi ruang, agar usaha kecil tetap punya tempat setelah keramaian bubar.
Apalagi UMKM di daerah itu sebenarnya tidak kekurangan semangat, mereka sudah terbiasa dibilang harus kreatif, harus inovatif, harus tahan banting. Hanya saja kurangnya soal semangat yang tidak bisa digelar di meja jualan.
Selain itu soal tempat, yaitu tempat yang layak, terlihat, dan dilewati orang, bukan lapak musiman yang hilang setelah tenda dilipat.
Peresmian Galeri Sang Pesirah di kawasan PPK Sembawa tepat di samping ATM Bank Sumsel Babel menjawab persoalan itu tanpa teori panjang. Tidak mewah, tidak berkilau, tapi jelas gunanya. Di situlah asanya, UMKM bisa jualan, ketemu pembeli, dan berharap dagangan tidak hanya laku saat acara besar saja.
Jadi sebenarnya UMKM itu harus diberi ruang, selebihnya biarkan mereka bekerja, soal rasa, harga, dan cara menarik pembeli, pelaku UMKM biasanya lebih ahli daripada modul pelatihan.
Direktur Utama Bank Sumsel Babel menyebut CSR seharusnya melahirkan ruang produktif yang manfaatnya panjang. Kalimat itu sering terdengar di beberapa acara, tapi tidak selalu diterjemahkan di lapangan. Di Sembawa, kalimat itu diwujudkan dalam bentuk yang bisa disentuh dan dipakai.
Sebagai Bank Pembangunan Daerah, Bank Sumsel Babel memang tidak cukup hanya mengurus kredit dan tabungan. Bank plat merah di Sumsel -Babel ini juga punya tanggung jawab ikut menggerakkan ekonomi lokal. Ketika CSR diarahkan ke UMKM, perannya terasa lebih membumi dan tidak sekadar logo di spanduk.
Kehadiran Bupati Banyuasin, Dr. H. Askolani, S.H., M.H., dan Kepala Pusat Penelitian Karet, Dr. Suroso Rahutomo, dalam peresmian galeri ini menunjukkan satu hal penting, program seperti ini tidak bisa berjalan sendirian karena butuk kolaborasi lintas sektor membuatnya lebih punya napas panjang.
Oleh karena itu, Galeri Sang Pesirah mungkin tidak langsung mengubah nasib, dan tidak ada janji omzet naik drastis atau pembeli antre panjang namun bisa memberi sesuatu yang sering dilupakan, yaitu kesempatan yang realistis.
Makna ganda
Letaknya di kawasan publik membuat UMKM tidak perlu menunggu acara besar untuk jualan. Ada lalu lintas orang, ada potensi transaksi, dan ada harapan yang tidak muluk-muluk. Bagi pelaku usaha kecil, itu sudah lebih dari cukup untuk bertahan.
Sembawa Color Run 2025 pun akhirnya punya makna ganda, badan sehat, ekonomi rakyat ikut diberi ruang. Lari selesai dalam beberapa jam, tapi lapak bisa dipakai bertahun-tahun.
Banyak daerah sibuk membuat acara besar, akan tetapi tidak semua sempat memikirkan apa yang tersisa setelahnya. Nah, disini Sembawa menunjukkan acara publik bisa dirangkai dengan dampak ekonomi tanpa harus ribet atau penuh istilah.
CSR yang fokus pada kebutuhan dasar, seperti ruang usaha memang tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi ke depannya justru bisa jadi kekuatan yang diperhitungkan, para UMKM juga tidak meledak-ledak, tapi bekerja pelan dan konsisten.
Apa yang dilakukan Bank Sumsel Babel bersama Pemkab Banyuasin menunjukkan arah CSR yang lebih matang, bukan hanya hadir di tengah keramaian, tapi memastikan ada sesuatu yang tetap bisa dipakai setelah acara selesai.
Galeri Sang Pesirah mungkin bukan solusi besar, namun Galeri ini bisa memberi ruang dan kesempatan. Jadi, dua hal yang sering terlewat dalam banyak program sosial. Untuk UMKM, keduanya jauh lebih berharga daripada bantuan sesaat.
Ada pepatah lama yang jarang dipakai karena tidak terdengar heroik “Yang pelan bukan berarti tertinggal, sering kali justru sampai lebih jauh”
Oleh karena itu kegiatan dilakukan Bank Sumsel Babel dan Pemkab Banyuasin di Sembawa sangat positip, lantara CSR tidak hadir dengan suara keras, namun hadir dengan ruang yang bermanfaat, dan bagi UMKM, ruang itu terus ada bahkan jauh lebih berarti daripada keramaian yang cepat hilang.
Bak pepatah lama yang jarang dipakai, karena terdengar terlalu tenang. “Yang dikerjakan pelan sering kali lebih lama bertahan”
Maka di Sembawa, CSR berjalan dengan cara seperti itu, tidak gaduh, tidak tergesa, tapi meninggalkan pijakan, dan bagi masyarakat kecil, pijakan itulah yang paling dibutuhkan ketika semua orang sudah pulang. (***)